Malam telah larut, bersama pesta yang telah usai. Langit kota tenggelam dalam kabut dan suara jalanan.
dalam mobil mewah milik Arok, duduk tiga orang dengan cerita yang saling bersilangan. Ares bersandar di jok belakang, mata menatap kosong ke luar jendela.
Tara duduk di depan, diam sejak awal perjalanan. Arok menyetir sendiri, sesuatu yang jarang ia lakukan, mungkin karena malam ini terlalu istimewa.
“Nak,” suara Arok memecah hening, “besok kau mulai bekerja mendampingiku. Tara juga akan mendampingi.”
Ares hanya mengangguk kecil.
Ares berkata, lirih tapi jelas, “Pak... bolehkah aku minta sesuatu?”
Arok melirik lewat kaca spion. “Apa itu?”
“Motor. aku mual naik mobil. Rasanya kayak ditelan mesin.”
Tawa meledak dari mulut Arok. Bahkan Tara nyaris menoleh.
Arok: “Hahaha! Ya Tuhan... Sudah lama aku nggak dengar alasan kayak gitu. Baiklah. Besok kau ambil motor di rumahku.”
Dalam hati, Tara mendesah. Orang aneh. Naik mobil mewah malah mabuk. Apa dia ini preman kampung tersesat?
sampainya di lantai 20 apartemen
arok: ”satu lantai penuh ini milikku kau bisa memilih Tara di nomor satu. Kau pilih mana saja. Bebas.”
Ares menunjuk kamar berseberangan. “Nomor dua, cukup.”
Begitu Ares menutup pintu, Arok berbalik ke Tara.
“Dia berbeda,” gumam Arok pelan. “Terlalu tenang... terlalu bersih untuk dunia ini. Aku ingin tahu batasnya.”
Tara memicingkan mata. “Mau dites?”
Arok: “Aku sudah siapkan. nanti kau antar ke kamarnya. Kita lihat, seberapa suci kah dia.”
setengah jam berlalu, Fany tiba. Wanita bergaun merah dengan parfum mahal, senyum manis dengan mata kosong.
Tara menatapnya penuh rasa sinis, mengantarnya ke kamar Ares. membuka pintu dan hanya berkata, “Silakan.”
Fany melangkah masuk..
“Permisi... kamu Ares, ya?” Fany mendekat suaranya menggoda.
Ares sedang duduk di sofa, jaket kulitnya masih melekat, matanya tak bergeming.
hanya menunduk menatap tangannya.
Fany duduk pelan di sampingnya. “Aku bisa menemanimu malam ini... Kalau kamu mau.”
Hening.
Ares mendongak, tatapannya lembut tapi tajam. “Apa kamu nggak capek,?”
Fany tertegun. “Hah?”
“Hidup seperti ini... berpura-pura tersenyum, untuk orang yang nggak peduli siapa kamu.”
Fany terdiam. Tak satu pun dari pria sebelumnya pernah bertanya seperti itu.
Ares berdiri, membuka jendela kamar, membiarkan angin malam masuk.
“Aku nggak akan menyentuhmu. Kau bisa tidur di ranjang kalau lelah. Aku cuma butuh udara malam.”
Fany bangkit pelan. “Kamu aneh...”
Ares tersenyum tipis. “Sering dibilang begitu.”
Fany memandangnya sebentar. “Namaku Fany. Bukan ‘wanita malam’. Aku manusia juga.”
Ares menoleh. “Terima kasih, Fany... udah jujur.”
Tanpa menunggu, Ares keluar kamar. Fany duduk diam, menatap pintu yang tertutup.