nusaNtara

Nunu nugraha
Chapter #4

Chapter 4 # Bayangan diatas motor

Dengan helm di tangan dan motor Ducati merah terparkir gagah di halaman , Ares melangkah santai menuju mereka yang tengah berdiri di teras rumah mewah itu.


Tara masih merasa kesal melihat tingkah Ares sejak pagi.


"Bos, Anda yakin Ares bisa mengendarai motor gede itu?" tanyanya setengah menyindir.


Arok, dengan senyum misterius, hanya menoleh sekilas. "Kita lihat saja. Menurutmu bagaimana, Tara?"


"Menurutku? Tidak yakin," jawab Tara dengan nada datar. "Dia hanya ingin pamer dan kelihatan keren."


Arok tersenyum tipis, lalu menjawab pelan, "Justru itu bagus. Semakin dia mencintai dunia, semakin gampang untuk dikendalikan."


Tara terdiam. Dalam hatinya, kata-kata itu menggema aneh. Ada makna terselubung yang membuatnya resah.


Ares pun sampai. "Oke bos, ke mana kita hari ini?"


Setelah menghembuskan asap cerutu dari bibirnya, Arok menjawab,


"Sebelum kita berangkat, aku ingin tahu satu hal. Kenapa  pilih naik motor? Bukankah pengawal pribadi Harus selalu dekat dengan bosnya."


Ares menjawab dengan senyum menggodanya, "Bos, pengawalmu banyak. Pilih yang terbaik untuk berada disampingmu dan Nona Tara." Ia melirik Tara sambil mengedipkan satu mata.


Tara menahan amarah. Ingin sekali ia menyumpah, tapi ditahannya karena ada Arok.


"Aku akan menjadi pengawal pribadi dari bayanganmu, Bos. Aku akan berjalan lebih jauh dengan motor ini untuk memastikan tidak ada yang mengikuti atau mengintai. Kalau ada, aku jadi umpan agar kalian bisa lolos."


Arok mengangguk, kagum dalam diam. "Ternyata anak ini tidak bisa diremehkan. Cara berpikirnya taktis dan hati-hati."


Lalu, ia menoleh ke ajudannya. "Suruh pengawal lain bawa mobil. Ares akan menangani bahaya sebelum sampai ke kita."


Tara masih mengomel dalam hati. ‘Alah, bilang aja takut muntah di dalam mobil. Tapi… cara berpikir dia benar juga. T-tapi kenapa aku malah muji dia? Gak, gak mungkin!’


Siang itu mereka berangkat ke Puncak. Arok dan Tara naik mobil dengan sopir pengawal bernama Markul, sedangkan Ares mengawal dari belakang dengan motornya, menyusup di keramaian jalan.


Dalam helm Ares terpasang alat komunikasi. Tara menerima semua laporan dari Ares melalui alat di telinganya.


dalam mobil, Arok memulai obrolan, "Tara, ini sopir baru saya. Namanya Markul."


"Siap, Bos. Hello, Markul. Saya Tara. Senang berkenalan."


"Tara," Arok menyempitkan nada serius, "perhatikan baik-baik Ares. Dari cara berpikirnya, dia berbeda."


"Siap, Pak." Namun nada Tara terasa terganggu. Ia tampak gelisah.


Arok melirik. "Kau kenapa? Tidak nyaman?"


Tara menghela napas. "Nggak, Bos… cuma… Ares dari tadi di perjalanan nyanyi terus."


Arok tergelak. "Hahaha, bocah itu polos. Tapi menyimpan sesuatu."


Tara mendengus pelan. Memang benar, melalui alat pendengar di telinganya, ia bisa mendengar nyanyian Ares—keras, bersemangat, dan sangat mengganggu.


Tak tahan, Arok pun menelepon Ares. Ares menepi dan menjawab sambil tertawa kecil.


"Ya, Bos?"


"Kau jangan nyanyi terus, itu ganggu Tara."


"Oh, iya, Bos. Maaf, saya nggak tahu."


Arok memutuskan sambungan. Ares tersenyum geli di pinggir jalan. Sebenarnya, ia tahu. Tapi ia sengaja… agar terlihat kampungan.


Ia menyalakan kembali motornya, melaju cepat mengejar mobil yang sudah jauh di depan.


dalam mobil, Arok bertanya, "Gimana Tara? Sudah berhenti nyanyi?"


"Sudah, Bos. Sudah..." jawab Tara, menarik napas lega.


Dalam hati, ia menggerutu. ‘Dasar berandal kampung. Gak tahu tata krama!’


Tak lama, suara Ares muncul lagi melalui alat komunikasi.


"Hey, peliharaan kakek tua. Gimana, gimana suara gue tadi? Merdu nggak? Kayak vokalis, kan? Haha."


Tara makin kesal. ‘Lihat saja nanti pas nyampe. Kuhajar kau!’


Mobil hitam itu akhirnya berhenti tepat di depan vila mewah yang berdiri angkuh di kaki pegunungan.


Udara dingin menyambut, seakan memberi tahu bahwa malam ini tak akan menjadi malam biasa.


Tara turun lebih dulu, diikuti Markul dan Arok yang tampak santai dengan tangan di saku jasnya. Tak lama kemudian, suara motor menghentak dari kejauhan.


Ares datang dengan jaket kulit, helm hitam, dan wajah yang seperti tak terpengaruh dingin.


Arok menatap Ares, bertanya cepat, “Gimana? Ada yang mencurigakan?”


Ares membuka helmnya, senyum kecil tersungging. “Siap, aman bos. Tidak ada gerakan mencurigakan.”


Mereka berjalan memasuki villa. Tara berjalan di samping Ares, langkahnya terdengar tegas namun berat. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya sejak perjalanan tadi, dan kini dia tak bisa menahannya.


Dengan suara pelan tapi sinis, Tara menoleh, “Hei, brandal kampung. Suaramu itu seperti kucing terinjak. Geli dengernya.”


Ares hanya tersenyum. “Kau menyukainya, ya?”


Tara mendelik. “Hah?”


“Suara itu,” lanjut Ares sambil menaikkan alis.


Tepat saat Tara ingin membalas, Arok melirik mereka dari depan. “Kalian berantem? Sudahlah. Tara, jelaskan tentang vila ini.”


Tara menarik napas dalam dan mengalihkan fokus. Dia memandu mereka menyusuri villa megah itu—menjelaskan tata ruang, fasilitas, dekorasi antik, dan kemewahan yang seperti terlalu muluk untuk disebut ‘tempat singgah’.

Lihat selengkapnya