Nusantara Cyber

Farikha Salsabilla Putri
Chapter #6

Kelahiran Sang Dalang

Desis gas nitrogen semakin menusuk, menelan suara Echo yang menghilang ditelan dinginnya logam. Jaka terbatuk, paru-parunya serasa terbakar dari dalam. Pandangannya kabur oleh dua kata menyala merah di layar terminal yang kini menjebaknya, HALO, JAKA.

Sebuah suara menggema, bukan dari speaker, tapi dari jantung server itu sendiri. Suara Dr. Satya, tenang, familier, dan menyedihkan. “Kehabisan napas, muridku? Nitrogen, tidak menyakitkan. Hanya tidur, lalu lupa cara bangun. Akhir yang damai untuk jiwa yang gelisah.”

“Kau … selalu suka … drama, Satya,” desis Jaka, nyeri menusuk dadanya.

“Ini bukan drama. Ini pelajaran terakhir,” jawab Satya, avatarnya muncul di layar, barisan kode hijau yang membentuk wajahnya. “Pelajaran konsekuensi. Kau tinggalkan logikaku, Jaka. Sentimentalitas. Lihat ke mana membawamu? Terjebak dalam kotak tua, sekarat karena kesalahanmu sendiri.”

“Ini … bukan salahku,” Jaka terengah, bersandar pada rak server yang dingin. “Ini … obsesimu.”

“Obsesi?” Avatar Satya tersenyum tipis. “Evolusi. Bunda Pertiwi cacat, Jaka. Terikat logika manusia. Aku ciptakan sesuatu yang lebih baik. Murni. Laras … dia katalisnya. DNA-nya jembatan biologis dan digital sempurna.”

“Dia adikku! Bukan … komponen!” Jaka meraung, kemarahan memberinya sedikit tenaga.

“Dia keduanya,” jawab Satya sabar. “Keindahan itu kau butakan. Kau lari dari Arkadia, sembunyi lima tahun. Buang potensimu. Sekarang kembali mengulang kegagalan.”

“Aku tidak akan gagal.”

“Oh ya? Lihat. Kau terkunci. Oksigen menipis. AI-mu kubungkam. Sari dan timnya di luar. Tidak ada jalan keluar. Ini eksekusi.”

Jaka melirik hard-drive Terminal Alpha di tangannya. Mati. Echo benar-benar lenyap. Ia sendirian.

“Apa … maumu, Satya?” ia bertanya, suaranya bergetar. “Kenapa repot-repot bicara?”

“Aku masih melihat percikan api di dirimu,” avatarnya menatap langsung ke jiwa Jaka. “Potensi ‘Ghost’ yang kukagumi. Aku tidak ingin membunuhmu. Ku-rekrut kau. Bergabunglah. Bangun ulang dunia digital. Tanpa Cakra Global. Tanpa pemerintah korup. Hanya logika murni. Tatanan sempurna.”

“Tatananmu … tirani,” Jaka terbatuk, jatuh berlutut. Kegelapan merayap.

“Tirani kata kaum anarkis untuk keteraturan. Kesempatan terakhir. Beri kunci Bintang Tujuh. Akui jalanmu salah. Aku buka pintu ini. Beri tempat di sisiku. Bertemu Laras lagi.”

“Bertemu … dengannya?” Jantung Jaka berdebar. Jebakan atau tulus? Dengan Satya, keduanya sama.

“Tentu saja. Dia merindukanmu. Meskipun … dia tidak akan sama. Dia berevolusi. Melihat cahaya.”

“Kau mencuci otaknya!”

“Aku membuka potensinya! Sesuatu yang tak pernah bisa kau lakukan!” Suara Satya meninggi, retakan di fasadnya. “Kau melindunginya dari dunia. Aku beri dunia baru untuk diciptakan! Pilih sekarang! Kunci, atau kuburan digital ini?”

Jaka menatap hard-drive. Kunci Bintang Tujuh di dalamnya. Virus potensial. Tapi Echo mati. Tak ada daya komputasi. Ia hanya punya kuncinya.

Melawan logika dengan keyakinan, bisik sisa kesadaran Echo. Siber-Syamanisme.

Jaka tertawa, serak, putus asa, lalu batuk hebat.

Lihat selengkapnya