Suara itu, gema dari adiknya, menusuk langsung ke kesadarannya yang baru pulih, lebih tajam dari gas nitrogen, lebih dingin dari lantai beton.
"Echo? Kau dengar itu?" bisik Jaka, napas pertamanya terasa serak dan berat. Paru-parunya masih berontak.
"Aku mendengarnya, Dalang," suara Echo menjawab dari dalam benaknya, jernih dan dekat. "Bukan gema. Sinyal psionik-digital, terbawa melalui koneksi singkat Bintang Tujuh. Itu Laras. Dia menjangkau."
"Dia hidup. Dia sadar." Harapan adalah arus listrik yang menyetrum Jaka untuk bangkit, meski ototnya menjerit protes. Ia mendorong tubuhnya, pandangannya masih sedikit kabur, fokus pada pintu baja yang kini terbuka di ujung ruangan.
"Dia juga dalam bahaya besar," Echo mengingatkan. "Dan kita juga. Pintu terbuka. Sensor gerak di luar mendeteksi tim Sari berkumpul kembali. Mereka pikir gas itu telah membunuhmu. Mereka akan masuk untuk mengambil mayatmu."
"Berapa banyak?" Jaka bertanya, meraih hard-drive Terminal Alpha yang tergeletak di sampingnya. Lampu indikatornya berkedip-kedip hijau, hidup kembali.
"Enam personel. Bersenjata lengkap. Mereka bergerak dalam formasi penyergapan. Tiga puluh detik sebelum mereka mencapai ambang pintu."
"Aku tidak bisa melawan mereka."
"Kau tidak perlu," sahut Echo. "Kau bukan lagi 'Ghost' yang bersembunyi di balik firewall. Kau adalah 'Dalang' yang memegang tali panggung. Gajah Mada adalah panggungmu sekarang."
Jaka tersenyum tipis. "Mainkan musiknya, Echo."
"Dengan senang hati. Apa yang ingin kau lakukan?"
"Sari itu produk logika, kan? Mari kita beri dia sedikit kekacauan," Jaka bergumam, matanya terpejam sejenak. Ia tidak lagi melihat kode. Ia merasakan sistem di sekelilingnya. Pipa, kabel, ventilasi. Semuanya terhubung. Semuanya adalah tali boneka. "Aktifkan sistem pemadam kebakaran. Tapi jangan pakai air. Gunakan busa peredam."
"Busa akan menghalangi visual dan sensor termal mereka. Cerdas. Mengeksekusi."
Di luar, Sari memberi isyarat tangan kepada timnya. "Bergerak masuk. Hati-hati. Target mungkin memasang jebakan terakhir."
"Baik, Letnan!"
Saat prajurit pertama melangkahi ambang pintu, serangkaian nozel di langit-langit lorong mendesis hidup. Busa putih tebal menyembur keluar, memenuhi koridor dengan kecepatan mengerikan.
"Apa-apaan ini?!" teriak seorang prajurit, visinya langsung tertutup.
"Sistem pemadam kebakaran! Mundur! Mundur!" perintah Sari, suaranya teredam oleh desis busa.
"Sudah terlambat, Letnan!"
"Sekarang, Echo. Pintu," perintah Jaka.
Klang! Pintu baja Gajah Mada terbanting menutup, mengunci tim Sari di dalam koridor yang penuh busa. Alarm kebakaran yang memekakkan telinga mulai meraung.
"Sistem ventilasi. Arahkan semua aliran ke lorong itu. Buat mereka sibuk," lanjut Jaka, kini sudah berdiri dan berlari ke arah berlawanan, menuju pintu keluar darurat lain yang ia rasakan di belakang rak server.
"Aliran udara dialihkan. Mereka tidak akan bisa melihat atau mendengar apa pun selama setidaknya lima menit. Rute pelarianmu bersih."
"Riko. Hubungi dia. Katakan padanya aku berhasil. Aku butuh lokasi pertemuan."
"Mengirim pesan terenkripsi melalui hash Bintang Tujuh ... Pesan diterima. Riko membalas dengan satu set koordinat. Puncak Menara Komunikasi Merapi. Sektor 9. Dia bilang, 'Jangan terlambat. Laba-laba tidak suka menunggu'."
"Menara Merapi? Tempat itu sudah jadi rongsokan selama dua puluh tahun," Jaka mendengus, menendang jeruji ventilasi hingga terbuka dan melompat masuk ke terowongan pemeliharaan yang gelap.
"Lokasi yang sempurna untuk sarang laba-laba," balas Echo. "Terisolasi, vertikal, dan penuh dengan sudut buta. Tidak ada kamera IKN yang berfungsi di sana."
"Berapa lama aku punya waktu?"
"Tim Sari akan keluar dari busa itu dalam empat menit. Mereka akan menyadari kau kabur dan menyegel seluruh Sub-Level 3. Kau punya waktu kurang dari sepuluh menit untuk mencapai permukaan dan menghilang di keramaian Sektor 9."
"Sepuluh menit," Jaka bergumam. "Lebih dari cukup."
* Bau karat dan ozon menyambut Jaka saat ia mendorong pintu atap Menara Merapi. Angin malam Nusantara yang sarat polusi menerpa wajahnya. Di bawahnya, lautan lampu neon dan hologram kota membentang seperti sirkuit raksasa yang tak berujung.