Dia tidak menjerit minta tolong. Dia sedang membangun istananya.
Kata-kata Riko menggantung di udara malam yang dingin, lebih berat dari polusi kota, lebih tajam dari angin yang bertiup di puncak menara. Proyeksi holografik itu mati, tetapi gambaran Laras, tersenyum pada Satya, terbakar di retina Jaka.
“Itu bohong,” desis Jaka. “Kau memanipulasi rekaman itu.”
“Aku?” Riko mendengus, menyimpan kembali proyektornya. “Untuk apa? Untuk menguji kesetiaanmu pada adik yang sudah jelas mengkhianatimu? Aku tidak sekejam itu, Nak.”
“Dia tidak akan pernah berpihak pada Satya! Dia membencinya!” Jaka melangkah maju, tangannya terkepal. Chip data di genggamannya terasa seperti es.
“Orang berubah,” balas Riko enteng. “Satya menawarkan dunia. Kau menawarinya apa? Persembunyian di apartemen sempit? Pekerjaan teknisi rendahan? Lima tahun kau lari, Jaka. Lima tahun dia sendirian. Mungkin dia lelah menunggumu.”
“Tutup mulutmu!” Jaka meraung.
“Atau apa?” tantang Riko, matanya yang tajam tidak berkedip. “Kau akan membuat Bursa Efek menampilkan angka delapan kali ini? Kau akan meruntuhkan seluruh sistem karena kau tidak suka dengan kebenaran?”
Jaka berhenti. Napasnya memburu. Kemarahan yang membara di dadanya beradu dengan keraguan yang dingin menusuk. Suara Laras di dalam kepalanya ... Kak Jaka ... tolong ... Itu nyata. Ia merasakannya. Tapi senyum itu ... senyum itu juga tampak nyata.
“Aku dengar dia memanggilku,” kata Jaka lirih, lebih pada dirinya sendiri. “Saat aku di dalam Gajah Mada. Dia minta tolong.”
“Mungkin saja,” Riko mengangkat bahu. “Mungkin bagian dari dirinya yang lama masih ada di sana, terkunci. Atau mungkin itu jebakan lain dari Satya. Dia tahu kau paling lemah jika menyangkut Laras. Dia menggunakan adikmu sebagai umpan sejak awal.”
“Tidak. Itu bukan jebakan.”
“Kau yakin sekali,” Riko menatapnya lekat. “Seberapa yakin? Cukup yakin untuk mempertaruhkan nyawa semua orang yang akan membantumu?”
Jaka terdiam. Pertanyaan itu menghantamnya telak.
“Kau sudah lulus audisiku, Dalang,” lanjut Riko, nadanya melembut. “Tapi pertunjukan yang sebenarnya baru akan dimulai. Dan para penontonnya tidak akan mudah terkesan. Ikut aku. Waktunya bertemu dengan Bayangan Panggung.”
Riko berbalik dan melompat ke tangga darurat yang menempel di sisi menara tanpa menunggu jawaban. Jaka menatap lautan lampu di bawahnya sekali lagi, lalu ke chip data di tangannya. Kebenaran ada di dalam sana. Dan rasa takut untuk mengetahuinya terasa lebih melumpuhkan daripada gas nitrogen Satya.
Sambil mengumpat pelan, ia mengikuti Riko menuruni tangga besi yang berkarat itu.
Mereka tidak kembali ke jalanan utama yang terang benderang. Riko membawanya melewati jaringan jalan tikus dan lorong-lorong pemeliharaan yang baunya seperti logam basah dan keputusasaan. Semakin dalam mereka turun, semakin ramai suasananya, bukan dengan pejalan kaki, melainkan dengan data liar yang mengalir di kabel-kabel terbuka dan terminal-terminal ilegal yang ditempelkan di dinding.
“Di mana kita?” tanya Jaka.
“Pasar Bawah Tanah Sektor 7. Tempat di mana informasi diperdagangkan seperti rempah-rempah di zaman dulu,” jawab Riko tanpa menoleh. “Tempat persembunyian terbaik di Nusantara. Terlalu banyak noise digital bagi Cakra untuk melacak apa pun di sini.”
Mereka berhenti di depan sebuah kedai sate tua. Asap tebal mengepul dari panggangan, membawa aroma daging bakar dan arang yang menusuk hidung. Seorang lelaki tua kurus dengan kacamata tebal sedang mengipasi sate dengan kipas anyaman.
“Dua porsi, Eyang. Pakai lontong,” kata Riko.
Lelaki tua itu, Eyang, melirik Jaka dari atas kacamatanya. “Tamu baru, Riko? Kelihatannya dia baru saja lolos dari neraka.”
“Lebih parah,” sahut Riko. “Dia baru saja dari Gajah Mada.”
Mata Eyang melebar sesaat. Dia meletakkan kipasnya. “Lewat belakang. Kala sudah menunggu.”
Riko mengangguk dan memberi isyarat pada Jaka untuk mengikutinya melewati tirai manik-manik bau di belakang kedai. Mereka masuk ke sebuah dapur kecil yang kotor, lalu Riko menekan sebuah ubin yang longgar di dinding. Dinding itu bergeser tanpa suara, menampakkan sebuah lorong logam yang remang-remang.
“Selamat datang di Sarang Laba-laba,” kata Riko.
Lorong itu menurun tajam, berakhir di sebuah ruangan besar yang dulunya mungkin adalah bunker atau stasiun kereta bawah tanah yang terlupakan. Puluhan kabel serat optik tebal menjuntai dari langit-langit seperti sulur, semuanya terhubung ke pusat ruangan di mana tumpukan server berdengung pelan, didinginkan oleh kipas-kipas raksasa yang berisik. Di sekeliling ruangan, beberapa area kerja telah dibuat, dipenuhi monitor, perangkat keras yang dibongkar, dan cangkir-cangkir kopi instan yang sudah kosong.
Seorang wanita sedang berdiri di dekat tumpukan server utama. Tubuhnya ramping tapi tegap, mengenakan rompi taktis di atas kaus tanpa lengan yang memperlihatkan lengan kirinya yang sepenuhnya sibernetik. Logam perak itu berkilauan di bawah cahaya monitor, dari bahu hingga ke ujung jari. Matanya yang sebelah kanan bersinar dengan cahaya merah redup, sebuah implan optik.
“Dia datang,” kata wanita itu, suaranya datar dan tanpa emosi, seperti mesin. Dia tidak menoleh. Matanya terpaku pada layar yang menampilkan ribuan baris kode. “Terlambat tiga menit dari jadwalmu, Riko. Tidak efisien.”
“Jalanan macet, Kala,” balas Riko santai. “Dalang, kenalkan Kala. Dia kepala teknisi kita. Mantan Sersan Pasukan Siber Cakra Global. Mereka memensiunkannya dengan paksa setelah sebuah misi di Distrik Luar membuatnya kehilangan lebih dari sekadar lengannya.”
“Aku tidak dipensiunkan,” Kala akhirnya menoleh. Mata optiknya berputar dan fokus pada Jaka, memindainya. “Aku dibuang karena implanku dianggap tidak stabil setelah terkena ledakan EMP. Cakra tidak suka aset yang tidak bisa diprediksi.”
“Dan sekarang kau membangun mainan untuk kami,” Riko tersenyum.
“Aku membangun senjata,” koreksi Kala. “Dan kau membawa seorang hantu ke sarang kita. Aku sudah membaca log-nya. Jaka Jayadi. Alias ‘Ghost’. Hilang lima tahun lalu. Dianggap mati.”
“Panggil aku Dalang,” kata Jaka.
Mata optik Kala menyipit. “Sebuah nama baru tidak menghapus masa lalu. Kau lari dari Satya sekali. Apa jaminannya kau tidak akan lari lagi saat keadaan memburuk?”
“Jaminan?” Jaka balas menatapnya. “Jaminannya adalah Satya menculik adikku. Kali ini masalahnya pribadi.”