Dunia Jaka meledak menjadi serpihan kenangan yang bukan miliknya. Ia merasakan dinginnya lantai Sektor Lama, bau ozon dari terminal yang terbakar, dan rasa takut yang mencekik saat melihat punggung kakaknya menjauh di tengah kerusuhan. Ia adalah Dani. Ia adalah Jaka. Ia adalah keduanya dan bukan siapa-siapa. Jeritan digital hantu itu menyatu dengan detak jantungnya sendiri, menciptakan simfoni kekacauan di dalam jiwanya.
Di dunia nyata, tubuh Jaka kejang hebat. Matanya yang terpejam bergerak liar di balik kelopaknya.
“Jaka!” raung Riko, melompat maju, tapi Eyang menahan lengannya.
“Jangan sentuh dia!” perintah Eyang, matanya yang tua menatap tajam. “Arusnya tidak stabil. Kau bisa mati.”
Lengan sibernetik Kala jatuh lemas ke sisinya. Laras plasma yang tadinya mengancam nyawa Riko kini kembali masuk ke dalam lengan itu dengan suara klik pelan. Mata optiknya yang merah padam, lalu menyala kembali dengan warna biru standar.
“Dia ... dia pergi,” desis Kala, napasnya terengah. Ia menyentuh pelipisnya dengan tangan manusianya. “Hantu itu ... keluar dari sistemku.”
“Dia tidak keluar,” kata Eyang lirih. “Dia berpindah rumah.”
Tiba-tiba, Jaka berhenti kejang. Ia terhuyung mundur, tangannya lepas dari kepala Kala. Ia jatuh berlutut, terbatuk hebat seolah baru saja diselamatkan dari air.
“Jaka! Kau baik-baik saja?!” Riko bergegas ke sisinya.
Jaka mengangkat kepala. Matanya terbuka, tapi tatapannya kosong, melihat menembus Riko. “Dia ... takut,” bisiknya, suara serak dan pecah. “Dia sendirian begitu lama.”
“Siapa? Hantu itu?” tanya Riko, bingung dan ketakutan.
Jaka menatap Riko, tapi sorot matanya aneh. Penuh dengan kesedihan yang dalam dan tuduhan kekanak-kanakan. “Kau meninggalkanku, Kak.”
Riko tersentak seolah ditampar. “Jaka, itu bukan kau yang bicara! Lawan dia!”
“Aku tidak melawannya,” jawab Jaka, perlahan kembali ke kesadarannya sendiri. Ia menggelengkan kepala, mengusir gema terakhir dari kesadaran Dani. “Aku ... mendengarkannya.”
DUARRR!
Ledakan kedua, lebih dekat dari sebelumnya, membuat lantai bergetar. Debu berjatuhan dari langit-langit.
“Mereka menerobos barikade kedua!” teriak Kala, sudah kembali siaga. “Pintu lorong utama tidak akan bertahan lebih dari satu menit!”
“Kita harus pergi!” kata Riko, menarik Jaka berdiri. “Eyang, terowongan pembuangan!”
“Konsolnya masih terkunci!” balas Eyang.
“Aku bisa membukanya,” kata Jaka. Ia berjalan terhuyung ke arah konsol utama. Di layar, avatar Dani sudah lenyap, digantikan kembali oleh logo mata Cakra Global yang seolah mengejek.
“Echo, kau masih di sana?” pikir Jaka.
“Aku di sini, Dalang,” jawab Echo, suara terdengar lelah secara aneh. “Tapi arsitekturku ... terasa berbeda. Ada ... gema di dalam sistem.”
“Itu teman baru kita,” gumam Jaka. “Buka pintu terowongan. Abaikan protokol keamanan musuh.”
Jari-jari Jaka tidak menyentuh konsol. Ia hanya menatapnya. Di layar, baris-baris kode pengunci milik peretas Cakra mulai terurai dengan sendirinya, digantikan oleh coretan-coretan acak yang kacau, seperti gambar anak kecil. Terdengar suara klik keras dari seberang ruangan saat sebuah panel lantai yang besar bergeser, menampakkan lubang gelap yang menganga.
“Pintunya terbuka!” seru Eyang.
“Pergi! Cepat!” perintah Riko. “Kala, kau duluan! Lindungi Eyang!”
Kala mengangguk, membantu Eyang turun ke lubang itu. Riko menoleh ke Jaka, yang masih terpaku menatap monitor.
“Jaka, ayo! Apa yang kau tunggu?!”
“Data,” jawab Jaka pelan. “Peta ke Benteng Garuda. Semua yang ada di chip itu.”
“Kita tidak punya waktu untuk mengunduhnya!”
“Memang,” sahut Kala dari bawah. “Dan kita tidak bisa meninggalkan server ini. Mereka akan mendapatkan semuanya. Profil kita, lokasi aman lainnya, semua rencana kita.”
Riko menatap tumpukan server yang berdengung itu, jantung dari operasi mereka selama bertahun-tahun. Lalu ia menatap Jaka. “Lalu apa?”
“Kita bakar petanya,” kata Jaka, matanya dingin.
“Kau gila?!” pekik Riko. “Itu satu-satunya kesempatan kita untuk sampai ke Laras!”
“Itu juga satu-satunya cara untuk memastikan mereka tidak bisa mengikuti kita atau menyakiti orang lain di jaringan kita!” bentak Kala dari kegelapan terowongan. “Dia benar, Riko! Ini satu-satunya pilihan!”
“Tidak! Aku tidak akan pergi tanpa itu!” Riko bersikeras.
“Kau tidak perlu pergi tanpanya,” kata Jaka. Ia memejamkan mata. “Aku sudah memilikinya.”