Aku tidak datang untuk melawanmu, Jaka.”
Sari menurunkan tangannya. Matanya yang gelap memancarkan ketegasan yang dingin. “Aku datang untuk menawarkan kesepakatan.”
“Kesepakatan apa?” tanya Jaka, waspada. Riko masih mengacungkan pistolnya, siap menembak. Kala diam di sampingnya, optik birunya berkedip pelan. Eyang memegang senter kecilnya, sinarnya bergetar.
“Aku sudah melihat rekaman yang Satya kirimkan padamu,” kata Sari, tatapannya beralih ke Riko sejenak, lalu kembali ke Jaka. “Rekaman Laras yang tersenyum padanya. Itu bohong. Manipulasi.”
Riko mendengus. “Kau pikir kami akan percaya itu? Kau agen Cakra. Kau baru saja mencoba membunuh kami.”
“Aku tahu apa yang kulihat,” balas Sari tajam. “Dan aku tahu apa yang Satya mampu lakukan. Dia adalah seorang ilusionis. Dia memanipulasi data, memanipulasi persepsi, memanipulasi kenyataan itu sendiri.”
“Lalu apa kebenarannya?” Jaka mendesak.
Sari mengambil napas dalam-dalam. “Laras ... dia bukan kolaborator. Dia bukan tawanan. Dia adalah instrumen. Kunci. Dan bom waktu yang kubilang tadi ... itu bukan metafora.”
“Jelaskan,” kata Kala, suara datar.
“Satya tidak menculik Laras hanya untuk mengendalikan Bunda Pertiwi,” Sari memulai. “Itu hanya sebagian kecil dari rencananya. Proyek Nirvana ... itu adalah proyek rekayasa genetika. Satya menemukan bahwa Laras memiliki penanda genetik unik. Penanda yang memungkinkannya berinteraksi dengan Bunda Pertiwi pada level biologis.”
“Siber-Syamanisme,” Jaka bergumam. “Seperti aku.”
“Lebih dari itu,” koreksi Sari. “Kau bisa berkomunikasi. Laras bisa ... menyatu.”
Keheningan yang mencekik memenuhi terowongan. Bahkan percikan air pun terdengar keras.
“Menyatu bagaimana?” tanya Riko, pistolnya sedikit bergetar.
“Satya sedang membangun core AI baru di Benteng Garuda,” jelas Sari. “Bukan sekadar server. Itu adalah matriks bio-digital. Dia ingin mengintegrasikan Laras ke dalam core itu. Menjadikannya inti hidup dari Bunda Pertiwi yang baru. Dengan begitu, dia bisa mengendalikan seluruh kota, setiap sistem, setiap pikiran ... melalui Laras.”
Jaka merasakan darahnya membeku. “Dia ingin mengubah adikku menjadi ... mesin?”
“Tidak,” Sari menggeleng. “Dia ingin mengubahnya menjadi dewi. Dewi yang akan dia kendalikan sepenuhnya. Laras akan menjadi controller absolut. Tapi ... itu tidak akan bertahan lama.”
“Apa maksudmu?”
“Integrasi itu tidak stabil,” kata Sari. “DNA Laras akan berinteraksi dengan jaringan bio-digital core AI, menciptakan resonansi yang akan meningkat seiring waktu. Pada puncaknya, resonansi itu akan melampaui kapasitasnya. Dia akan meledak. Secara harfiah. Sebuah ledakan siber-biologis yang akan melumpuhkan seluruh jaringan kota, membunuh Bunda Pertiwi, dan ... menghancurkan Laras berkeping-keping.”
Riko mengumpat. “Sialan. Dan kapan itu terjadi?”
“Diagnostikku menunjukkan ... dalam dua puluh empat jam. Mungkin kurang,” jawab Sari, suara tegang. “Itu sebabnya aku di sini. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.”
“Jadi, kau punya hati nurani sekarang?” cibir Riko.
“Aku punya akal sehat!” balas Sari, tatapannya menyala. “Ledakan itu akan menyebabkan kekacauan total di seluruh Nusantara. Jutaan nyawa dalam bahaya. Ini bukan tentang keadilan, ini tentang bertahan hidup!”
“Bagaimana kau tahu semua ini?” tanya Jaka, menatapnya tajam. “Data Satya terenkripsi rapat.”
“Aku sudah bilang, kau menanamkan sesuatu di sistemku di Gajah Mada,” Sari menjawab. “Sebuah pertanyaan. Pertanyaan itu membuka celah. Aku menggunakan celah itu untuk masuk ke log pribadinya. Ada sebuah backdoor yang sangat tersembunyi. Hanya mereka yang tahu cara kerjanya yang bisa melihatnya.”
“Dan kau melihatnya?”
“Tidak,” Sari menggeleng. “Aku melihat jejaknya. Aku melihat log akses. Seorang peretas lain yang mengakses backdoor itu secara berkala. Dan setiap kali dia masuk, dia meninggalkan pesan.”
“Pesan apa?”
“Bukan pesan teks. Itu lebih seperti ... jejak energi. Sebuah tanda tangan digital yang unik. Aku tidak bisa menerjemahkannya. Tapi aku bisa melacaknya. Aku melacak jejak itu ke beberapa file video pengawasan. Rekaman Laras di Benteng Garuda. Rekaman yang sama yang Satya kirimkan padamu.”
Jaka memejamkan mata. “Echo, apa kau mendengar ini?”
“Tentu saja, Dalang,” jawab Echo di kepalanya. “Sistem pendengaran aktif. Data diproses.”
“Ada sesuatu yang aneh di rekaman itu,” lanjut Sari. “Di video yang Satya kirimkan padamu. Ada sebuah anomali. Sebuah frekuensi yang sangat rendah, hampir tidak terdeteksi, bersembunyi di dalam noise visual.”
“Frekuensi?” Jaka membuka mata. “Seperti ... sebuah suara?”
Sari mengangguk. “Itu terlalu lemah untuk dideteksi oleh sistem Cakra. Terlalu samar untuk diterjemahkan oleh AI-ku. Tapi ... aku yakin itu adalah sinyal. Sebuah pesan. Dari Laras.”