Jaka tersentak, kembali ke kesadaran. Ia membuka mata, menatap lorong gelap yang basah.
“Tidak terduga apa?” tanya Jaka, pelan.
Riko maju, menabrak bahunya. “Jaka, kenapa lo berhenti? Kita harus gerak! Lo denger suara tembakan di belakang?”
Suara tembakan plasma dan jeritan dari balik panel logam yang tebal itu kini meredup, tapi masih ada. Suara itu adalah pemakaman untuk Sari.
“Dia kirim semuanya,” kata Jaka, mengabaikan Riko, berbicara kepada Echo. “Apa peringatan terakhir itu?”
“Dalang, lo harus segera lihat file utama yang dia kirim. File itu berlabel, Proyek Icarus. Ini bukan sekadar cetak biru Benteng Garuda. Ini cetak biru Bunda Pertiwi sendiri. Dan di dalamnya ... ada anomali.”
“Anomali apa?”
Kala menyentuh bahu Jaka, tangan sibernetiknya dingin. “Kita nggak punya waktu buat ngobrol sama hantu digital, Jaka. Riko benar, kita harus bergerak. Sini, Eyang, hati-hati sama genangan airnya.”
Eyang mengangguk, dibantu Kala melewati genangan keruh.
“Icarus,” gumam Jaka, mulai bergerak maju, mengikuti Kala. “Echo, tampilkan datanya. Hanya yang esensial. Visualisasikan.”
Di dalam kepala Jaka, dunia menjadi biru dan keemasan. Data yang dikirimkan Sari, sebuah ledakan informasi yang terstruktur sempurna, mulai menyusun dirinya menjadi model 3D yang sangat detail, Benteng Garuda. Namun, model itu segera menyusut, dan di intinya muncul representasi digital dari Bunda Pertiwi.
“Proyek Icarus, Dalang,” bisik Echo. “Ini adalah rencana cadangan Satya. Jika dia gagal mengendalikan Bunda Pertiwi melalui Laras, dia punya cara lain.”
“Cara apa?”
“Dia nggak cuma mengubah Laras jadi inti AI. Dia mengubah Bunda Pertiwi menjadi ... peluru.”
Jaka tersandung di kegelapan, Riko dengan cepat menahannya. “Kenapa lo, Jaka? Lo baik-baik aja?”
“Aku baik-baik aja,” desis Jaka. “Satya ... dia nggak mau menguasai kota, Riko. Dia mau menghancurkannya.”
“Apa maksud lo?” Riko terdengar bingung.
Jaka berhenti di lorong sempit. Ia harus menjelaskan ini. Cepat.
“Sari nggak cuma kasih tahu kita soal ledakan Laras,” Jaka memulai. “Itu cuma efek sampingnya. Inti dari Proyek Icarus ini adalah ... rekalibrasi. Satya mau menggunakan resonansi bio-digital Laras untuk memaksa Bunda Pertiwi melakukan reset total.”
Kala, yang berada di depan, berbalik. Optiknya menyala. “Reset total? Itu akan melumpuhkan semua sistem di Nusantara. Lampu, transportasi, jaringan pangan, medis ...."
“Bukan cuma melumpuhkan,” sela Jaka. “Menurut data Icarus, reset itu dirancang untuk menghapus semua memori AI. Menghapus semua aturan logika yang selama ini menjaga kota. Bunda Pertiwi akan kembali ke titik nol. Sebuah tabula rasa.”
“Terus?” Riko merapatkan jaketnya. “Bukankah itu bagus? Kita bebas dari pengawasan.”
“Nggak,” kata Jaka, menggeleng. “Satya nggak mau bebas. Dia mau jadi pencipta yang baru. Setelah reset itu, dia akan menyuntikkan kode utamanya sendiri ke dalam matriks yang kosong itu. Dia akan menanamkan kesadarannya sendiri ke dalam Bunda Pertiwi yang baru lahir.”
Eyang, yang selama ini diam, berbicara. Suara rendah. “Dia ingin menjadi dewa kota.”
“Tepat, Eyang,” balas Jaka. “Dia nggak cuma mau mengendalikan Nusantara Cyber. Dia mau menjadi Nusantara Cyber. Sebuah tirani digital yang sempurna, dipimpin oleh logika gila Satya.”
“Sialan,” umpat Riko. “Tingkat megalomania yang baru.”
“Dan ini bagian yang paling sialan,” kata Jaka, tatapannya menyala karena kemarahan. “Sari bilang, reset ini akan terjadi bahkan jika Laras meledak.”
“Tunggu, kok bisa?” tanya Kala.
“Ledakan Laras, resonansi itu, hanya mempercepat prosesnya,” jelas Jaka. “Reset itu sudah diprogram sebagai fail-safe. Jika Laras mati, resonansi itu tetap ada, dan Bunda Pertiwi akan tetap terpaksa reset untuk menstabilkan diri. Satya akan tetap menang, bahkan tanpa Laras.”
Keheningan kembali menyelimuti terowongan. Mereka semua menyadari betapa putus asanya situasi mereka.
“Jadi, kita harus menghentikan ledakan Laras dan mencegah reset itu,” simpul Riko.
“Dan kita cuma punya waktu kurang dari 24 jam,” tambah Jaka.
“Oke, balik ke Laras,” kata Kala, suara tajam dan fokus. “Sari bilang Laras meninggalkan sinyal. Sebuah koordinat waktu. Apa isinya?”
Jaka memejamkan mata lagi. “Echo, tunjukkan timestamp itu.”
“Mengaktifkan fragmen sinyal Laras. Ini adalah rekaman video pengawasan dari ruang isolasinya di Benteng Garuda, yang terekam tepat 48 jam yang lalu.”
Di benak Jaka, sebuah adegan singkat diputar. Laras, duduk sendirian di ruangan putih steril. Dia tampak tenang, bahkan tersenyum. Satya tidak ada di sana. Laras hanya menatap kamera pengawas.
“Dia menatap lurus ke arahku,” gumam Jaka.
“Bukan hanya menatap, Dalang. Perhatikan tangannya.”
Jaka fokus. Tangan Laras ada di pangkuannya. Dia tidak bergerak, tetapi jari-jari tangannya bergerak dengan gerakan yang sangat halus, hampir tak terlihat.
“Dia ... mengetik,” kata Jaka. “Di udara.”
“Tepat. Dia menggunakan bahasa isyarat siber yang sangat kuno. Sebuah protokol yang lo dan Satya ciptakan saat kalian masih di Universitas. Itu terlalu cepat untuk dideteksi sistem Cakra.”
“Apa yang dia katakan?”
“Dia nggak bicara. Dia memberi kita ... instruksi. Dia menanamkan sesuatu ke dalam jaringan lokal Satya saat itu.”
Jaka merasakan sensasi data menyebar di benaknya, menerjemahkan gerakan jari Laras menjadi barisan kode.
“Dia membuat sebuah backdoor,” desis Jaka. “Sebuah pintu belakang yang tersembunyi jauh di dalam sistem Benteng Garuda. Tapi ini bukan untuk kita masuk.”
“Lalu untuk apa?” tanya Riko.
“Ini untuk keluar,” jawab Jaka. “Laras tahu dia nggak bisa ditarik keluar. Jadi, dia menciptakan sebuah protokol evakuasi.”
“Evakuasi apa?” tanya Kala.
“Evakuasi kesadaran,” kata Jaka, membuka mata. “Dia menanamkan core kesadarannya sendiri ke dalam matriks data. Jika dia nggak bisa keluar secara fisik, dia bisa keluar secara digital.”
Riko terdiam. “Lo bilang dia mau jadi dewi, Jaka. Sekarang lo bilang dia mau jadi hantu digital?”
“Dia mau bebas,” kata Jaka. “Dia tahu Satya akan menggunakannya. Jadi dia buat salinan dirinya sendiri. Sebuah ‘Ghost’ yang sejati. Tapi untuk mengaktifkan protokol ini, butuh pemicu eksternal.”
“Yaitu lo,” simpul Kala.
“Aku harus masuk ke inti Benteng Garuda, menemukan backdoor itu, dan menyuntikkan kodeku sendiri sebagai kunci,” kata Jaka. “Itu akan memicu pelepasan kesadarannya dari tubuhnya. Dia akan jadi hantu, tapi dia akan selamat.”
“Dan tubuhnya?” tanya Riko.
“Tubuhnya akan jadi cangkang kosong yang terintegrasi ke core AI,” jawab Jaka, suara berat. “Tapi itu akan menunda ledakan. Cukup lama bagi kita untuk menghentikan reset Icarus.”
“Pilihan yang mengerikan,” kata Eyang, nadanya penuh kesedihan.
“Pilihan yang dia buat,” balas Jaka. “Dia nggak mau jadi dewi Satya. Dia mau jadi dirinya sendiri.”
Kala mengangguk. “Jadi, kita punya peta, kita punya target, dan kita punya rencana penyelamatan yang mengerikan. Sekarang, soal rute ini. Sekunder 7.”
“Sari bilang ini rute pemeliharaan jarang dipakai,” kata Riko.
“Itu benar,” jawab Jaka. “Data Sari mengonfirmasi. Rute ini panjang, tapi menjamin kita bisa masuk ke sistem ventilasi utama, tepat di bawah Benteng Garuda.”
Mereka terus berjalan, suara air dan langkah kaki mereka adalah satu-satunya irama di kegelapan.
“Dalang, waspada,” bisik Echo. “Aku mendeteksi anomali di depan. Sesuai dengan data Sari, check-point pertama. Otomatis, dan tidak tercantum dalam peta standar Cakra.”
“Seberapa sulit?” tanya Jaka.
“Sangat sulit. Sari menyebutnya ‘The Guardian’. Sebuah sistem pertahanan yang diprogram dengan logika tempur Dr. Satya sendiri.”
“Satya memasang jebakan di rute rahasianya sendiri?” Riko menggerutu.
“Dia nggak pernah percaya siapa pun,” kata Jaka. “Dia merancang Benteng Garuda untuk bertahan dari serangan luar dan serangan dalam. Guardian ini adalah sistem menara plasma otomatis yang disamarkan sebagai pipa air. Mereka diprogram untuk mengenali pola jalan kaki manusia. Jika pola itu nggak sesuai dengan prajurit Cakra yang terdaftar, mereka menembak.”
Kala berhenti di depan. “Lorong di depan terbuka ke sebuah ruangan pompa besar. Aku bisa melihat pantulan cahaya dari logam. Itu pasti menara itu.”
“Kita harus mematikan mereka,” kata Riko, mengangkat pistolnya.
“Nggak semudah itu,” sela Jaka. “Data Sari bilang, jika kita mencoba meretas menara itu, mereka akan mengirim sinyal darurat ke seluruh Benteng. Satya akan tahu kita di sini.”
“Jadi, kita nggak bisa meretas, nggak bisa menembak, dan nggak bisa jalan seenaknya?” tanya Riko. “Terus, kita ngapain?”
Jaka menoleh ke Eyang. “Eyang, lo masih ingat cara berjalan Satya?”
Eyang mengerutkan kening. “Cara berjalan? Maksud lo?”
“Pola gerak tubuh, Riko,” Jaka menjelaskan. “Setiap orang punya pola gerak unik. Satya, sebagai seorang perfeksionis, memiliki pola yang sangat kaku, sangat teratur. Guardian itu diprogram untuk mencari pola itu sebagai izin masuk.”
“Lo mau kita meniru Satya?” Riko tertawa hambar. “Nggak mungkin. Itu gila.”
“Nggak ada pilihan lain,” kata Jaka. “Data Sari mencakup semua yang Satya lakukan. Termasuk pola jalannya. Echo, aku butuh visualisasi Satya, real-time, diproyeksikan ke medan di depan kita. Tampilkan langkah kakinya.”
“Memproyeksikan data.”
Jaka menatap ke depan. Meskipun lorong itu gelap, di mata Jaka muncul garis-garis neon biru yang membentuk grid di lantai. Di grid itu, muncul bayangan virtual Satya, bergerak dengan langkah yang sangat presisi, setiap langkah dihitung dan diulang.
“Kala, Riko, Eyang. Kita harus meniru dia. Tepat. Kalau kita meleset satu inci, menara itu akan menembak.”
Kala menatap bayangan virtual itu. “Aku bisa melakukannya. Lengan sibernetikku bisa dikalibrasi untuk presisi tinggi.”
Riko menelan ludah. “Gue ... gue nggak yakin bisa. Gue nggak se-presisi kalian.”
“Lo harus bisa, Riko,” kata Jaka tegas. “Tarik napas. Bayangkan lo ada di garis start. Lo cuma perlu berjalan seperti robot. Satu, dua, tiga.”
Riko mengangguk, meletakkan pistolnya, dan mulai melatih langkahnya di tempat.
“Aku yang pertama,” kata Jaka. “Aku akan jadi lead. Kala, lo di belakang gue, siapin EMP pulsa pendek. Kalau ada yang salah, blast aja menara itu. Kita lari. Eyang, lo di tengah Riko. Gerak lo lebih lambat, itu bisa jadi masalah.”
“Aku akan mengikuti ritme Riko,” kata Eyang, suara tenang. “Tenang, Jaka. Aku pernah menari di istana. Ini cuma langkah kaki.”
Jaka tersenyum tipis. “Oke. Mulai.”
Jaka memposisikan dirinya di titik awal yang ditunjukkan oleh bayangan virtual Satya. Ia menarik napas dalam-dalam, menenggelamkan dirinya dalam data. Ia tidak lagi Jaka. Ia adalah bayangan logis Satya.
Langkah pertama. Kaki kanan. Tumit menyentuh lantai dengan sudut 90 derajat. Berat badan didistribusikan secara merata.
Klik.
Di depan, Jaka bisa mendengar desis pelan dari menara plasma yang bersembunyi. Menara itu mendeteksi gerakan, tetapi tidak menembak. Pola jalannya terdeteksi sebagai ‘sah’.
Langkah kedua. Kaki kiri. Jarak yang sama. Kecepatan yang sama.
Jaka bergerak maju, satu langkah demi satu langkah, seperti mesin yang sempurna. Rasanya seperti berjalan di atas kawat tipis yang terbuat dari laser.
Di belakangnya, ia bisa merasakan Kala memulai langkahnya. Gerakan Kala sedikit lebih mulus, berkat implan sibernetiknya.
“Riko, sekarang lo,” bisik Jaka.
Riko maju. Langkah pertamanya sedikit ragu.
Desis…
Jaka merasakan udara menegang.
“Sempurna, Riko,” kata Jaka, nadanya tenang dan menghipnotis. “Langkah kedua. Jangan terburu-buru.”
Riko mengambil langkah kedua. Lebih baik. Eyang mengikutinya, menggunakan tongkatnya sebagai pengukur jarak, bukan sebagai penopang.
Mereka bergerak lambat, menyusuri ruangan pompa yang besar, yang penuh dengan menara plasma tersembunyi. Setiap langkah adalah risiko. Jaka fokus pada pola, pada ketegasan Satya.
Lima belas langkah. Mereka hampir sampai di pintu keluar, yang mengarah ke lorong ventilasi.
“Hampir sampai,” bisik Kala.
Jaka mengambil langkah terakhir, lalu berbalik, menatap Riko dan Eyang. Mereka berhasil. Riko menghela napas lega.
“Oke, kita , ”