Nusantara Cyber

Farikha Salsabilla Putri
Chapter #13

Goro-Goro Dimulai

"Laras,” pria itu mengulang, suaranya tenang tetapi memiliki resonansi yang lebih tua dan dingin daripada suara Dr. Satya. “Dia adalah kunci untuk mematikan Bunda Pertiwi selamanya. Dan kami akan mengambilnya. Dengan atau tanpa, kamu.”

“Dia tidak akan menyentuhnya!” raung Jaka. Dia mendorong Laras sedikit ke belakang, berjongkok untuk melindunginya. Di kepalanya, Satya berteriak, “Dia pembohong, Jaka! Bunuh dia sekarang sebelum dia mengaktifkan Icarus!”

Pria berambut putih itu tersenyum sedih. Di belakangnya, enam sosok dengan topeng yang menampilkan pola matriks geometris maju perlahan. Cahaya biru dan putih di lorong baja itu berkedip karena noise data.

“Kau selalu melindungi sesuatu yang seharusnya kau bebaskan, Nak,” kata Pria itu, tatapannya menyapu Eyang yang asli, Eyang Asep, Riko, dan Kala.

Eyang Asep yang bersama tim mereka, yang kini berada di ujung terowongan di belakang Riko, langsung bergerak maju, tongkatnya terangkat. “Kau ... aku tidak tahu bagaimana kau sampai di sini. Tapi ini gila, Bos! Kau mau menghancurkan semuanya?!”

“Ketua hanya membersihkan sistem,” jawab salah satu sosok bertopeng dengan suara sintetis yang datar.

“Tahan tongkat kamu, Kakek,” Pria itu memberi isyarat pelan kepada Eyang Asep. “Kau telah melayani peranmu, membersihkan noise bagi kami selama ini. Aku tidak menyangka Jaka, si Dalang, akan menyelamatkan kamu. Ironi yang indah, ya?”

Riko menahan temannya, pistolnya diarahkan ke Bayangan Panggung itu. “Aku tidak tahu kau siapa, tapi jangan panggil Kakek teman kami! Aku akan tembak kamu!”

Pria itu tertawa kecil. “Aku adalah bayangan yang lebih tua, Riko. Aku yang menanam benih kekacauan. Goro-Goro adalah takdir Nusantara.”

“Dia bicara soal reset Icarus,” bisik Kala, optiknya berputar. “Dia mau mengaktifkan reset total Bunda Pertiwi. Dia pikir itu kebebasan!”

“Kala benar. Kebebasan digital datang dari pembersihan mutlak. Bunda Pertiwi harus mati.” Pria itu mengalihkan fokusnya kembali pada Laras. “Gadis itu memiliki kunci genetika yang sempurna, bukan untuk mengendalikan kota, tetapi untuk memaksanya menuju Nol Mutlak.”

Jaka merasa dingin melihat ketenangan absolut pria itu. Dia memejamkan mata, membiarkan suara Echo memandu. “Satya di dalam kepala kita tahu dia salah satu Pendiri IKN lama, Dalang. Tapi dia adalah pembohong gila yang lain!”

“Kak Jaka, dengarkan aku,” Laras berkata lirih di belakangnya, energi biru samar masih berkedip di punggungnya. “Pria ini benar, tapi dengan alasan yang salah. Aku sengaja menanamkan kunci ini. Tapi bukan untuk ledakan reset. Aku melakukannya agar kunci ini, DNAku, akan menghancurkan data Satya saat coreku menyatu.”

“Kamu ... kamu mau melakukan bunuh diri data?” tanya Jaka.

Laras mengangguk cepat. “Itu cara untuk mencegahnya mengintegrasikan kesadaran core AI miliknya. Pria ini ... dia tidak tahu cara mengaktifkan sepenuhnya. Tapi dia akan memaksa saya untuk melakukan integrasi.”

“Dan ledakan bio-digital itu? Apakah itu bagian dari rencanamu?”

“Tidak. Satya yang menambahkan variabel itu sebagai fail-safe untuk Proyek Icarus. Pria ini akan memicu yang paling buruk!” kata Laras, suaranya naik menjadi kepanikan.

“Aku ingin menghemat waktu, anak-anak,” sela Pria itu. “Serahkan saja Gadis itu.” Dia memberi isyarat ke belakangnya. “Ambil kunci itu.”

Dua Bayangan Panggung meluncur maju. Gerakan mereka cepat, hampir mustahil untuk dilacak, didorong oleh implan kecepatan siber tingkat tinggi.

“Riko! Eyang, Kala! Lindungi Laras!” teriak Jaka.

Riko menembak. Tembakan itu mengenai dada Bayangan Panggung pertama, tapi peluru hanya mental dari baju zirah reaktif mereka.

“Optik Riko terlalu lambat,” cibir Pria itu.

Kala berteriak, mengaktifkan laras plasmanya, menembak secara defensif. Sinar plasma biru mengenai Bayangan Panggung kedua, membakar baju zirah, tapi pria itu tetap maju.

Jaka melihat Bayangan Panggung pertama berbelok, bertujuan langsung untuk menjepit leher Laras.

“JANGAN BIARKAN DIA MENYENTUHNYA!” raung Satya di dalam diri Jaka. “KEJUTAN PERTAMA! DIA AKAN MENGAKTIFKAN INJEKSI MANUAL.”

Jaka tahu dia tidak bisa menggunakan core Satya tanpa mengambil risiko keracunan logikanya. Tapi dia tidak punya pilihan.

Jaka berlari lurus ke depan, menghantam Bayangan Panggung pertama tepat sebelum ia mencapai Laras. Tabrakan itu keras. Baja dan kevlar beradu dengan bahunya, mengirimkan getaran tajam ke lengannya.

“Dalangmu terlalu lemah,” kata Pria itu.

Bayangan Panggung itu menjepit tangan Jaka dengan cengkeraman baja, laras kecil muncul dari sarung tangan siber-nya, mengarah ke mata Jaka.

Jaka tidak melawan secara fisik. Dia hanya menutup mata, membiarkan Echo and Dani berkuasa, tetapi dengan injeksi logika Satya di latar depan.

“Kita bermain,” gumam Jaka, bukan ke Bayangan Panggung, tapi ke semua suara di kepalanya.

TENG!

Badai siber pecah dari dalam dirinya. Itu bukan serangan yang ditargetkan, itu adalah sebuah kelebihan beban data yang sangat kasar, Dani menyediakan kekacauan, Echo menyediakan kecepatan, dan Satya menyediakan arsitektur.

Bayangan Panggung yang mencengkeramnya tersentak hebat. Sensor topengnya meledak dengan percikan api. Laras itu jatuh tak berdaya ke lantai, kejang, lumpuh sejenak oleh pulsa digital yang berasal dari Jaka.

“Apa-apaan ini?! Ini bukan Ghost!” teriak Bayangan Panggung itu, sebelum ia jatuh pingsan.

“Ini Goro-Goro, Sob!” seru Riko, memanfaatkan momen itu untuk menendang kepala musuh hingga menjauh dari Jaka.

Lihat selengkapnya