Nusantara Cyber

Farikha Salsabilla Putri
Chapter #14

Jeritan dalam Kode

"Dia memindahkan Bunda Pertiwi. Core utama AI Nusantara baru saja pindah dari pusat kota ke lokasi fisik kita. Dan dia melakukannya menggunakan kesadaran ....”

Suara Echo terpotong oleh dengungan statis yang tiba-tiba memenuhi kegelapan lift yang menggantung. Listrik mati total, hanya menyisakan cahaya biru pucat yang sangat tipis dari punggung Laras. Jaka mencengkeram tepi lift, darahnya menderu di telinga, campur aduk dengan rasa takut yang baru.

"Apa artinya itu, Echo?" tanya Jaka, hampir berbisik dalam kegelapan pekat itu.

Keheningan total. Bahkan Echo pun hilang. Hanya suara dengungan statis yang tersisa, suara yang terasa berasal dari mana-mana sekaligus.

"Jaka," bisik Riko dari suatu tempat di kegelapan di sampingnya. "Jangan bergerak. Aku nggak bisa lihat apa-apa."

Jaka bisa merasakan tangan Laras yang dingin menggenggam pergelangan tangannya, genggaman yang penuh ketegasan. "Kak, jangan lepasin aku. Kita nggak boleh panik."

"Aku tidak panik," balas Jaka, walau napasnya tersengal. Ini lebih buruk dari ledakan. Ini adalah kehampaan digital.

Dari kegelapan di ujung lift, terdengar suara Eyang Asep, sedikit bergetar. "Suara sirene itu ... dia berhenti, kan? Suara siren yang aneh tadi?"

"Ya, Eyang," jawab Jaka. "Itu sirene yang jauh lebih tua dari IKN. Itu sirene sistem yang terisolasi. Sistem yang sekarang ... ada di sini."

Tiba-masing, cahaya biru dari punggung Laras memudar, lalu kembali menyala, lebih kuat. Di dinding lift, sebuah panel kecil yang tadinya mati, kini menyala dengan warna amber darurat.

"Panel itu ... itu sistem darurat lift lama," kata Kala, terdengar lebih dekat dari yang Jaka duga. "Aku bisa coba power pakai cadangan Terminal Alpha. Mungkin kita bisa mengaktifkan rem magnetik darurat."

"Lakukan, Kala!" perintah Jaka.

Kala bergerak cepat, suara gesekan logam terdengar saat dia mengakses panel servis. Jaka mencondongkan tubuhnya ke arah Laras, mencoba menenangkan adiknya yang tampak kelelahan.

"Laras, kau baik-baik saja? Apa yang Satya suntikkan padamu?" Jaka meremas tangan adiknya.

Laras mendongak, matanya yang biasanya penuh rasa ingin tahu kini tampak berat. "Dia menanamkan ... kunci. Kunci untuk membalikkan injeksi. Aku nggak sempat menyelesaikan."

"Kunci apa?"

"Kunci emosi, Kak. Satya nggak bisa mengendalikan apa yang nggak bisa dia ukur. Dia mencoba mengunci diriku di core-nya, tapi aku menyuntikkan hash pengkhianatanmu ke dalam dirinya saat kau menarikku." Laras menyentuh kening Jaka dengan lembut. "Aku menciptakan sebuah celah. Sebuah bug dalam logikanya. Tapi aku perlu kau untuk menyelesaikannya."

Jaka merasakan kehangatan samar dari sentuhan Laras, sebuah koneksi yang bukan digital, tapi murni biologis, yang sempat hilang saat ia dikuasai Satya. "Apa yang harus kulakukan?"

"Dia ada di dalam kepalamu, Kak. Dia merasa terluka oleh pengkhianatanmu. Kau harus memaksanya untuk menggunakan kekuatannya untuk membuka jalur keluar. Bukan untuk menguasai kota, tapi untuk menyelamatkan kita."

"Itu mustahil," bisik Jaka. "Dia akan melawan."

"Dia harus melawan reset Icarus, Kak. Kalau dia mati di dalam kepalamu, reset itu akan aktif tanpa kendali. Kita semua mati. Kita harus membuatnya fokus ke sana."

Terdengar bunyi klik keras dari panel yang sedang diakses Kala. "Aku berhasil membuka daya cadangan! Tapi ini hanya cukup untuk satu tindakan, Jaka. Mau kita gunakan untuk mengaktifkan rem magnetik, atau ... "

"Atau kita biarkan dia memegang kendali atas sistem yang sekarang ada di sini," Jaka menyelesaikan kalimat itu. Dia menatap Laras. "Kita tidak bisa kembali ke atas. Kita sudah jatuh terlalu dalam. Kita harus melewati dasar."

"Dasar?" tanya Riko, terdengar tegang.

"Laras memindahkan Bunda Pertiwi ke sini, Riko. Core utama AI kota ini ada di dalam lift ini sekarang. Jika kita bisa mengaksesnya, kita bisa mengendalikan sistem kota, bahkan saat listrik mati total."

"Mengendalikan apa yang sudah mati?" ejek Kala, tetapi dia tetap memegang kabel cadangan itu.

"Bunda Pertiwi hanya tertidur, Kala. Dia perlu dibangunkan dengan sinyal yang tepat," kata Jaka. Dia menatap Laras. "Aku akan menggunakan Satya untuk membuka akses root ke core ini. Tapi aku butuh waktu untuk menahannya."

Laras menggenggam tangan Jaka erat. "Aku akan memberimu waktu itu, Kak. Aku akan menjadi jangkar emosionalmu. Aku akan memastikan Satya tidak bisa mengambil alih kendali tubuhmu sepenuhnya."

Saat itu, terdengar bunyi krek dari luar lift. Pintu baja itu bergetar.

"Mereka datang!" teriak Riko. "Mereka merayap di kabel luar!"

"Jaka, cepat!" desak Kala.

Jaka memejamkan mata, fokus. Dia memanggil Satya. Bukan dengan kode, tapi dengan rasa sakit, rasa takut, dan rasa cinta yang mendalam untuk adiknya.

Kau mau jadi dewa, Satya? Kau mau jadi inti? Bagus! Jadilah inti! Ambil alih semuanya! Jaka memproyeksikan energi itu.

Di dalam kepalanya, Satya bereaksi keras. Logika sempurnanya terancam oleh emosi mentah. "Kau tidak akan mengkhianatiku lagi, Jaka! Aku akan mengambil alih kendali ... ."

Lihat selengkapnya