"Kau baru saja mengunci dirimu sendiri di luar. Aku ada di dalam core sekarang. Dan aku ingin tahu mengapa kau menyelamatkan Laras, padahal dia yang menanamkan virus kematian di dalam dirimu."
Suara itu, suara Dani, keluar dari sosok yang mirip Jaka, berdiri di lorong gelap. Sorot mata merah menyala dari sosok itu menuduh, menghujam langsung ke jantung Jaka. Lift bergeming di antara lantai, listrik padam kecuali cahaya redup dari panel darurat dan punggung Laras. Riko terkesiap, mundur selangkah. Kala memosisikan diri di depan Eyang, implan lengannya sudah siaga.
"Apa maksudmu, Dani?" tanya Jaka, melindungi Laras yang gemetar di belakangnya. "Laras tidak akan pernah melakukan itu."
Laras mendongak, matanya berkaca-kaca. "Kak Jaka, itu ... aku melakukannya. Tapi bukan virus kematian. Itu untuk melindungi Kakak."
"Melindungiku?" Jaka merasakan nyeri di kepalanya, Satya di dalam dirinya berdesis jijik. Lihat, muridku? Ini buah dari sentimentalitas. Pengkhianatan.
Sosok Dani melangkah maju, tangannya terangkat. "Dia mengikat kesadaranmu ke Bunda Pertiwi. Jika dia berhasil, kau tidak akan pernah bisa lari. Kau akan menjadi budak kota ini, boneka mereka. Dia ingin kau menanggung beban ini, beban yang dia ciptakan!"
"Tidak!" Laras terisak. "Aku tidak ingin Kakak menjadi budak! Aku ingin Kakak bebas! Aku mengikatmu ke Bunda Pertiwi agar Satya tidak bisa mengendalikanmu sepenuhnya. Aku memberimu pilihan, bukan belenggu!"
Riko mengangkat pistolnya. "Siapa pun kau, hentikan omong kosong ini! Atau aku tembak!"
"Kau tidak akan menembak 'Kakak'-mu, Riko," balas Dani, senyum miris di wajahnya. "Aku ada di sini, di depanmu. Sama seperti dulu. Kau meninggalkanku sendirian. Kau membiarkan aku mati di Sektor Lama!"
Riko tersentak. Pistolnya sedikit bergetar. "Itu tidak benar! Aku mencarimu! Mereka bilang kau sudah tidak ada!"
"Tidak ada, ya?" Dani tertawa sinis. "Aku adalah ketiadaan yang diciptakan Satya dari kerinduanmu. Aku adalah gema yang kini memiliki tubuh." Ia menoleh ke Jaka. "Dan dia ingin membunuhmu, Jaka. Dia ingin menghancurkanmu. Seperti dia menghancurkanku."
Pintu lift, yang tadinya tertutup, tiba-tiba berderit pelan. Listrik yang padam kini berganti dengan cahaya samar berwarna hijau dari luar. Sosok-sosok bertopeng mulai terlihat.
"Sudah cukup drama keluarga," suara dingin Pria berambut putih itu menggema. Ia masuk ke dalam lift yang rusak, diikuti oleh dua Bayangan Panggung. "Maaf mengganggu reuni kalian. Namun, kami punya agenda yang lebih besar."
Jaka merasakan darahnya membeku. Ketua Bayangan Panggung. Satya di kepalanya meraung. Jaka! Pria itu yang menanamkan virus ke Laras! Dia berbohong!
Laras menggeleng cepat. "Tidak, Kak! Dia yang ingin mematikan Bunda Pertiwi sepenuhnya! Dia yang ingin menciptakan kehampaan total!"
Ketua Bayangan Panggung menatap Laras, lalu ke sosok Dani. Senyum tipis mengembang di bibirnya. "Gadis ini benar, sebagian. Aku ingin membersihkan. Nol Mutlak yang sejati. Dan kau, Jaka, dengan hantu di dalam dirimu, akan menjadi kunci untuk itu."
"Aku tidak akan menjadi kunci siapa pun," desis Jaka, memeluk Laras lebih erat. "Aku adalah Dalang. Aku mengendalikan panggung ini."
"Panggungmu runtuh, Dalang," balas Ketua Bayangan Panggung. "Dani telah memberitahuku segalanya. Setiap rencanamu, setiap langkahmu. Dia mata-mata yang sempurna. Dan kini dia adalah core baru dari Bayangan Panggung."
Jaka menatap Dani, rasa sakit menusuk di dadanya. Dani ... kau mata-mata?
"Aku hanya ingin kakakku bebas," kata Dani, matanya menyala merah. "Aku tidak ingin kau mengulang kesalahannya, Kak Jaka. Bebas dari mereka semua. Bebas dari Bunda Pertiwi."
"Dia tidak bebas, Jaka," suara Sari tiba-tiba bergema di kepala Jaka, jernih dan mendesak. Dia adalah pion mereka. Ketua Bayangan Panggung mengendalikannya.
Jaka tersentak. Sari? Kau hidup?
Aku selalu hidup di dalam datamu, Dalang, balas Sari, kini terasa lebih dekat, seolah membelai pikirannya. Dia menanamkan backdoor ke dalam kesadaran Dani saat dia masih sebuah gema. Dia menggunakannya sebagai kunci untuk mengakses pikiranmu.
"Cukup omong kosong," kata Ketua Bayangan Panggung. "Kunci kami butuhkan adalah gadis itu. Dia memiliki resonansi tertinggi untuk memicu Nol Mutlak di seluruh Nusantara." Ia memberi isyarat kepada Bayangan Panggungnya. "Ambil Laras."
Dua Bayangan Panggung meluncur maju. Gerakan mereka cepat, hampir tak terlihat. Riko menembak. Peluru memantul dari baju zirah reaktif mereka. Kala mengaktifkan laras plasmanya, menembak. Sinar plasma biru meleset, mengenai dinding lift.
Jaka merasakan bahaya itu menusuk ke tulang. Ia tidak bisa lagi hanya bereaksi. Ia harus bertindak.
"Dani! Hentikan mereka!" teriak Jaka, memproyeksikan perasaannya. "Mereka akan menyakiti Laras! Dia bukan boneka!"
Sosok Dani ragu sesaat, matanya berkedip. Ada pergulatan batin yang terlihat. Ketua Bayangan Panggung melihatnya.
"Jangan dengarkan dia, Dani!" perintah Ketua Bayangan Panggung, mengeras. "Dia telah mengkhianatimu! Dia mengunci inti coremu!"
"Dia tidak mengunci aku!" balas Dani, bergetar. "Dia menyelamatkanku! Dia menyelamatkanku dari Satya!"
"Pilihan yang salah, Jaka," desis Ketua Bayangan Panggung, melihat keraguan Dani. Dia melangkah maju, tangan terangkat, melancarkan serangan siber-biologis ke Dani.
Sosok Dani berteriak, kejang-kejang. Mata merahnya meredup, lalu padam. Ia jatuh ke lantai, lumpuh.
"Dani!" teriak Riko.
"Kau tidak akan bisa mengambil adikku!" Jaka Meraung, kemarahannya meledak. Ia maju, menghantam Bayangan Panggung pertama. Ini bukan lagi serangan data. Ini fisik. Jaka mengayunkan tinjunya, menembus baju zirah reaktif mereka, merasakan logam implan di bawah kulit mereka. Ia pernah menjadi Ghost. Ia tahu cara menghancurkan.
Bayangan Panggung itu tersentak, mundur selangkah. Jaka menyerang lagi, mengayunkan lengan ke Bayangan Panggung kedua, mengabaikan nyeri di bahunya.