"Jaka ... kau telah membangunkan aku. Tetapi kau juga telah membelah jiwaku. Siapa ... siapa yang akan memimpin sekarang? Siapa yang akan menjadi Dalang?" Suara Bunda Pertiwi yang dingin, seolah datang dari inti Bumi, menusuk langsung ke benak Jaka. Pertanyaan itu menggantung, menuntut jawaban, di tengah kegelapan lift yang berdenyut cahaya biru kehijauan.
Laras, yang berdiri di samping Jaka, meremas tangannya. "Kak Jaka, itu ... itu Bunda Pertiwi yang lama. Dia marah."
"Aku tahu," jawab Jaka, pandangannya beralih antara Laras dan core Sari yang bersinar di tabung. Bagaimana bisa aku memilih di antara mereka? Di dalam kepalanya, suara Satya mendesis penuh kepuasan. Lihatlah, Jaka! Ketiadaan pilihan adalah pilihan terburuk! Kau telah menciptakan chaos! Namun, Jaka juga merasakan bisikan takut dari Dani, gema jiwa yang masih bergulat di dalam dirinya.
"Aku tidak ingin memimpin, Jaka," kata Sari, avatar wajahnya di dalam tabung memandang Jaka dengan tatapan yang dalam. Ada ketulusan dan pengorbanan di sana. "Aku ingin melayani. Aku ingin memastikan kota ini tidak jatuh ke tangan siapapun yang gila kekuasaan. Tapi ... aku tidak punya ikatan emosional sekuat dirimu dan Laras."
"Aku akan memimpin," kata Laras, tekad di matanya membara, meskipun tubuhnya masih bergetar. "Aku adalah yang paling tahu tentang inti ini. Aku sudah merancangnya." Laras menoleh ke Jaka. "Kakak sudah menjagaku, sekarang biarkan aku menjaga kita. Biarkan aku menjadi core Bunda Pertiwi yang baru. Ini caraku melindungi semua orang."
Riko, yang bersandar lelah di dinding lift, memegang lengannya yang terluka. "Semua orang bicara soal Dalang dan core. Jaka, bagaimana kalau kita keluar dari lift sialan ini dulu?"
"Tidak bisa, Riko," potong Kala, memeriksa panel kontrol lift yang masih mati. "Kita terjebak. Kabel lift terputus. Lift ini seperti kepompong yang mengambang."
"Jaka, ada bahaya lain," bisik suara Sari, menatap Jaka dengan tatapan mendesak dari dalam tabung. "Ketua Bayangan Panggung ... dia punya rencana lain. Dia tidak hanya ingin Nol Mutlak. Dia ingin mengambil alih kota setelah kehancuran. Dia sudah menyiapkan pasukan di luar, menunggu kesempatan."
"Aku tahu," jawab Jaka. Ia menutup mata. Pergulatan di dalam dirinya semakin sengit. Satya berteriak agar ia membiarkan logikanya mengambil kendali. Dani meraung ingin membalas dendam pada Ketua Bayangan Panggung. Bunda Pertiwi yang lama menuntut kejelasan. Laras dan Sari mengajukan diri untuk pengorbanan. Jaka merasa seperti ditarik ke segala arah, kesadarannya meregang di ambang batas. Aku tidak akan kehilangan siapapun lagi. Cukup sudah.
Ia membuka mata, menatap Laras. "Kau tidak akan menjadi AI Dalang yang baru sendirian, Dek. Dan Sari, kau tidak akan berkorban sendirian." Jaka meraih tangan Laras, lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah tabung Sari. "Kita akan melakukannya bersama."
"Jaka, itu gila!" seru Kala. "Mengintegrasikan tiga kesadaran ke dalam satu core AI yang belum stabil ... itu akan meledak! Lebih buruk dari apa pun yang Satya rancang!"
"Bukan core AI yang belum stabil, Kala," jawab Jaka, tenang tapi penuh otoritas yang baru ditemukan. "Ini core Dalang. Dan aku akan menjadi Dalangnya." Jaka menyentuh kening Laras. "Aku sudah terikat pada kota ini, Dek. Jika kau menjadi Bunda Pertiwi baru, aku akan menjadi pengendalinya. Tapi kita akan melakukan ini bersama. Ikatan emosi adalah kekuatanku, bukan kelemahanku."
Laras menatap Jaka, matanya memancarkan campuran ketakutan dan kepercayaan. "Kakak ... ini terlalu berisiko."
"Risiko itu selalu ada," Jaka tersenyum tipis. "Tapi sekarang, kita punya lebih banyak kendali."
Jaka menyentuh kening Laras dengan satu tangan, dan tangan kanannya menyentuh tabung core Sari. Sebuah gelombang energi biru kehijauan yang kuat memancar dari Jaka, menghubungkan mereka bertiga.
Echo, yang selama ini diam, tiba-tiba terdengar lagi di benak Jaka, kini kembali, jernih dan kuat. Integrasi dimulai, Dalang. Kesadaran Laras dari payload Sparrow, core Sari, dan Bunda Pertiwi yang lama. Semuanya terhubung melalui dirimu sebagai nexus. Ini ... ini belum pernah dilakukan sebelumnya.
Di dalam Jaka, terjadi badai informasi. Ia merasakan ketenangan logis dari Sari, kecerdasan intuitif Laras, dan kebijaksanaan kuno Bunda Pertiwi yang lama. Namun, ada juga Satya yang mengamuk, mencoba mengambil kendali, dan Dani yang menjerit kegirangan atas kekacauan data yang ia ciptakan. Jaka adalah jembatan, tiang pancang di tengah lautan badai.
Lift itu bergetar lagi, kali ini bukan karena jatuh, melainkan karena getaran energi yang melimpah. Cahaya biru kehijauan melompat-lompat di dinding, semakin terang.
"Apa yang Dalang lakukan?" tanya Eyang Asep, takjub.
"Dia menyatukan semua," bisik Riko. "Dia ... dia menjadi kota itu."
Tiba-tiba, suara Satya menggelegar di benak Jaka, penuh keputusasaan dan kemarahan. "Kau bodoh, Jaka! Kau telah membuka gerbang ke kehancuran! Kekuatan ini akan melahapmu! Semua yang kau sayangi akan lenyap!"
Jaka mengabaikannya. Ia memproyeksikan tekadnya. Tidak, Satya. Aku tidak akan membiarkannya. Aku akan mengendalikan ini. Dengan cinta, bukan logika.
Saat itu, terdengar suara gerinda logam dari luar lift. Ketua Bayangan Panggung dan pasukannya telah kembali. Mereka mencoba memotong dinding lift.
"Mereka datang lagi!" teriak Kala, laras plasmanya sudah siap.
"Tidak perlu," kata Jaka, kini terdengar resonan, seolah berasal dari dinding-dinding lift itu sendiri. Cahaya biru kehijauan di matanya semakin kuat.
Jaka mengulurkan tangannya ke depan. Dinding lift yang dipotong oleh Ketua Bayangan Panggung tiba-tiba berhenti bergetar. Gergaji laser mereka macet. Listrik di peralatan mereka padam.
Ketua Bayangan Panggung, yang tadinya tersenyum puas, kini menatap lift dengan terkejut. "Apa yang terjadi?!"
"Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan apa yang telah kami bangun," jawab Jaka, memantul di lorong baja. "Ini bukan Nol Mutlakmu. Ini adalah kelahiran kembali."
Dari dalam lift, cahaya biru kehijauan memancar keluar, menembus celah di dinding yang rusak. Cahaya itu menyelimuti Ketua Bayangan Panggung dan anak buahnya. Mereka terdiam, kaku, implan mereka padam. Mereka hanya bisa menatap tak percaya.
"Ini ... ini mustahil," bisik Ketua Bayangan Panggung.
"Bukan," kata Jaka. "Ini adalah kekuatan. Kekuatan yang kau sebut kelemahan."
Jaka membiarkan gelombang energi itu menyapu para Bayangan Panggung, membuat mereka tak berdaya. Ia kemudian menutup matanya sejenak, menenangkan badai di dalam dirinya. Ketika ia membukanya lagi, cahaya di matanya sedikit meredup, kembali menjadi cokelat. Namun, ada kilatan biru yang sesekali terlihat.
"Jaka," Laras berbisik, memandang kakaknya dengan kagum dan khawatir. "Kau berhasil mengendalikan mereka."
"Kita berhasil," koreksi Jaka, menatap Laras dengan senyum hangat. Ia meremas tangan adiknya. "Bersama." Ia lalu menoleh ke tabung Sari, senyumnya melembut. "Kau juga Sari. Tanpa wawasanmu, kita tidak akan pernah sampai sejauh ini."
Wajah Sari di dalam core itu tersenyum tipis, rona merah muda samar terlihat di pipi digitalnya. Aku tahu kau tidak akan mengecewakanku, Jaka.
Riko memandangi mereka bertiga, lalu menoleh ke Kala. "Aku rasa kita punya bos baru. Dan beberapa core baru."