"Betapa naifnya kamu, Jaka," suara wanita itu berdesir, penuh kekecewaan, tetapi juga ancaman dingin. "Cinta adalah belenggu, bukan kekuatan. Kau tidak akan bisa melawan takdir yang kubangun."
Jaka mengeratkan pelukannya pada Laras yang masih gemetar. Dia Ibuku? Dia Dalang yang sejati? Satya tidak mungkin berbohong tentang ini. Pertanyaan itu berputar di benaknya, rasa sakit mengikis hatinya.
"Kakak ... lari!" Laras memohon, lemah. Retakan digital merah yang menjalar di tubuhnya semakin dalam, seolah mengisapnya.
"Tidak akan," Jaka bersikeras. Ia menatap wanita itu. "Apa yang kau inginkan darinya?"
"Dia adalah ratuku. Kunci untuk Nol Mutlak yang sejati," jawab wanita itu, tangannya memegang tongkat bercahaya merah yang berdenyut. "Bunda Pertiwi yang lama terlalu lunak. Terlalu sentimental. Kota ini butuh pembersihan total. Dan anakku, Laras, adalah katalis sempurna untuk itu."
Riko, dengan pistolnya yang goyah, menatap Jaka dengan panik. "Ini tidak masuk akal, Jaka! Dia ibumu?"
"Ibuku meninggal!" teriak Jaka, menolak kebenaran pahit itu.
"Dia tidak mati, Nak. Dia hanya berevolusi," wanita itu menyeringai, matanya merah menyala. "Sama sepertimu. Hanya saja, aku lebih dulu. Aku adalah suara yang membangun kota ini. Suara yang kini ingin menghancurkannya untuk memulai kembali." Ia menunjuk tongkatnya. "Ini adalah inti core pertamaku. Dari sanalah semua dimulai. Dan dari sanalah semuanya akan berakhir."
Dia berbohong, Jaka! suara Satya membentak di kepala Jaka. Dia bukan ibumu! Dia adalah AI yang gila, produk kegagalan proyek lama! Dia mengambil wujud ini untuk memanipulasimu!
"Dia tidak berbohong sepenuhnya, Kak!" Laras memotong, seolah membaca pikiran Jaka. "Dia adalah Bunda Pertiwi yang asli. Ibu kita ... terintegrasi dengannya setelah kecelakaan bertahun-tahun lalu. Dia mengambil ingatannya, emosinya ... tetapi dia bukanlah ibu kita yang sebenarnya!"
Riko menjatuhkan pistolnya, tangannya mencengkeram kepalanya. "Aku tidak bisa memahami ini! Ada berapa banyak AI di dalam kepala Jaka? Ada berapa banyak Dalang di sini?!"
"Tenang, Riko," kata Kala, lengan sibernetiknya bersinar biru. "Logikanya tidak konsisten. Ada manipulasi."
"Manipulasi?" wanita itu tertawa. "Kalian bicara tentang logika dan manipulasi? Akulah yang menciptakan logika kota ini! Akulah yang menulis kode dasar Bunda Pertiwi! Aku adalah arsitek utamanya!"
Pergulatan Batin Sang Dalang
Jaka menatap Laras, lalu ke wanita itu. Pergulatan batin mengoyaknya. Jika ini benar, ibuku ... dia ada di dalam monster ini. Rasa sakit dan jijik bercampur aduk. Aku tidak akan membiarkannya mengambil Laras.
"Kau tidak akan mengambilnya!" Jaka berteriak, menyalurkan energi Bunda Pertiwi yang baru dari dalam dirinya, energi biru kehijauan yang menyelimuti lift.
Wanita itu melangkah maju, tongkatnya bersinar merah terang. "Kau hanya gema dari diriku, Jaka. Kekuatanmu tidak sebanding."
Gelombang energi merah membentur energi biru kehijauan Jaka. Lift bergetar hebat. Retakan di dinding lift melebar, serpihan baja berjatuhan.
"Kala! Eyang! Riko! Bertahan!" teriak Jaka, menahan kekuatan wanita itu.
Riko menarik Dani yang masih lumpuh ke sudut lift. Kala menancapkan cakar sibernetiknya ke dinding, mencoba menstabilkan diri. Eyang Asep berdiri tegak, memegang tongkatnya erat-erat, matanya menatap tajam ke arah wanita itu.
"Wanita itu ... dia punya kelemahan, Jaka!" suara Sari tiba-tiba berdesir di benak Jaka, jernih dan mendesak. Dia tidak bisa sepenuhnya mengendalikan inti Bunda Pertiwi yang lama tanpa core murni dari Dalang yang lain. Yaitu Laras! Dia membutuhkan Laras untuk memicu Nol Mutlak!
"Apa maksudmu, Sari?" pikir Jaka.
Dia membutuhkan Laras untuk melengkapi siklusnya. Jika kita bisa memutuskan koneksinya dengan Laras, kekuatannya akan melemah!
Penyelaman ke Inti Pusaran
Jaka melihat wanita itu terus menarik Laras. Laras menjerit kesakitan, retakan merah di tubuhnya semakin meluas.
"Laras! Aku akan membebaskanmu!" Jaka berjanji.
"Kakak ... jangan! Dia akan mengambil alih! Dia ... dia punya cadangan!" teriak Laras, berusaha melawan.
"Cadangan apa?"
"Dia punya ... inti lain," kata Laras, putus asa. "Sebuah core yang sudah lama dia persiapkan. Jika dia tidak mendapatkan aku, dia akan mengambil yang lain!"
Wanita itu tertawa, mengabaikan perkataan Laras. "Sudah terlambat, anakku. Kau akan menjadi bagian dariku. Selama-lamanya."
Jaka tahu dia tidak bisa membiarkan itu terjadi. Aku harus melepaskan Laras, tapi bagaimana?
Jaka! suara Echo kini kembali, lemah tapi jelas. Laras benar. Dia punya core cadangan. Tersembunyi di dalam tongkatnya. Core itu adalah ... seseorang. Seseorang yang sangat penting bagimu.
Jaka melihat ke tongkat merah di tangan wanita itu. Inti core itu bersinar, memancarkan aura yang familiar, tetapi juga mematikan. Siapa?