Nusantara Cyber

Farikha Salsabilla Putri
Chapter #18

Buronan Utama Alpha

"Kau tidak bisa menghindarinya, Dalang," kata Sari klon, dingin dan menusuk, tanpa jejak emosi. Senapan plasma di tangannya terangkat, mengarah tepat ke dada Jaka. "Pilih. Sekarang. Atau aku yang akan memilih untukmu. Dan percayalah, kau tidak akan suka pilihanku."

Jaka menatap mata biru kehijauan Sari yang di hadapannya, merasakan dinginnya laras senjata itu memanggil takdir. Di dalam kepalanya, suara Sari yang ada di dalam dirinya terasa bergetar, meredup seperti nyala api yang kekurangan oksigen. Dia ... dia merasakanku. Satya benar. Dia menghubungkan bagian dari diriku ke klon ini. Rasa sakit merayapi hati Jaka, beban pilihan ini menghimpitnya. Ia tidak akan kehilangan siapa pun lagi.

"Aku tidak akan memilih salah satu dari kalian," jawab Jaka, mantap, meskipun di dalam dirinya ada badai. Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, mencari pusat badai itu. "Aku akan mengambil kalian berdua."

Sari klon mendengkus. "Nonsens. Kau pikir kau bisa bermain dewa dengan kesadaran? Kau hanya wadah kosong yang dipenuhi hantu. Pilihanmu hanya dua, hidup atau mati."

Dia tidak tahu apa yang dia hadapi, pikir Jaka, membuka matanya. Ia merasakan setiap core di dalam dirinya, Laras, Dani, Satya, Sari digital, dan bahkan Bunda Pertiwi yang lama, semuanya kini berputar, menunggu komandonya. Itu adalah kekacauan yang indah, dan ia harus menjadi dalang dari kekacauan itu.

"Aku Dalang," kata Jaka. "Dan aku tidak pernah hanya punya dua pilihan."

Sari klon menembak. Sinar plasma merah melesat, membelah udara dingin di atap Benteng Garuda. Namun, Jaka sudah bergerak. Ia tidak menghindar secara fisik. Ia mengulurkan tangannya ke depan, dan energi biru kehijauan memancar dari tubuhnya, membentuk perisai transparan. Sinar plasma itu menghantam perisai, memercik, lalu lenyap.

"Apa?!" Sari klon terkesiap, wajahnya menunjukkan kejutan untuk pertama kalinya. "Itu bukan protokol Cakra!"

"Itu adalah Dalang," jawab Jaka, kini terdengar berlapis, seolah ribuan suara berbicara melaluinya. Ia merasakan kekuatan Bunda Pertiwi yang baru mengalir di setiap serat tubuhnya. Ia adalah perisai. Ia adalah kota.

Sari klon menembak lagi, berulang kali, tetapi setiap tembakan hanya menghilang di perisai energi Jaka. Riko, Kala, dan Eyang Asep terpaku di belakang Jaka, menyaksikan pertempuran yang mustahil ini. Dani, yang baru saja pulih dan merangkul Riko, menatap Jaka dengan mata terbelalak, campuran kekaguman dan ketakutan.

"Serangan fisik tidak akan bekerja, Dalang," kata Sari klon, kini kembali dingin. "Tapi itu tidak masalah. Aku datang dengan cadangan."

Ia melepaskan tembakan plasma, bukan ke Jaka, melainkan ke tepi atap tempat Riko dan yang lain berdiri. Jaka memperkuat perisainya di sana, menahan ledakan yang berpotensi melukai timnya. Namun, Sari klon memanfaatkan celah itu. Ia melesat maju, lengan sibernetiknya berubah menjadi bilah tajam yang berkilau.

"Kau terlalu protektif, Dalang," desisnya, menyerang Jaka dengan kecepatan luar biasa. Bilah itu menghantam perisai energi, menciptakan suara berderit yang memekakkan telinga.

Jaka menahan serangan itu, tapi ia merasakan perisai mulai goyah. Kekuatan Sari klon begitu fokus, begitu presisi, hasil latihan bertahun-tahun sebagai agen terbaik Cakra Global. Aku harus menemukan kelemahannya, pikir Jaka.

Dia ada di dalam diriku, Jaka, bisikan Sari digital tiba-tiba muncul di benaknya, kini lebih kuat, lebih jernih. Dia adalah bagian dari diriku yang Satya manipulasi. Fokuskan resonansimu ke ingatannya. Ingatan tentang kamu. Tentang aku yang sesungguhnya.

Jaka mengerti. Itu bukan pertarungan fisik. Itu pertarungan ingatan. Ia memejamkan mata, memproyeksikan seluruh energinya ke dalam core Sari klon. Ia tidak menyerang. Ia mengirimkan kenangan.

Gelombang memori membanjiri pikiran Sari klon, tawa mereka saat pertama kali bertemu di akademi, percakapan rahasia di bawah pohon banyan digital, sentuhan tangan mereka yang tak disengaja di lab, janji-janji yang diucapkan dalam bisikan, bahkan rasa sakit pengkhianatan Jaka yang Satya tanamkan. Semua itu kini terputar di benak Sari klon.

Sari klon tersentak. Bilahnya berhenti hanya beberapa inci dari wajah Jaka. Matanya yang biru kehijauan berkedip liar, memindai, mencoba memahami informasi yang tiba-tiba membanjiri dirinya. Wajahnya menunjukkan pergulatan emosi yang hebat, kontradiksi antara kode dingin dan ingatan hangat.

"Tidak ... ini bohong," bisik Sari klon, pecah, tidak lagi sedingin sebelumnya. "Satya bilang kau musuh ... bahwa kau mengkhianati kami."

"Dia berbohong padamu, Sari," kata Jaka, lembut, penuh penyesalan. "Dia memanipulasiku. Dan dia memanipulasimu. Dia membuatmu berpikir ini adalah takdirmu. Tapi kau ... kau adalah lebih dari sekadar klon. Kau adalah bagian dari Sari yang sama yang ada di dalam diriku."

Di dalam kepala Jaka, Sari digital mendesak. Ingatkan dia, Jaka! Ingatkan dia tentang kita!

Jaka mengulurkan tangan fisik, menyentuh pipi Sari klon. Dinginnya logam dari implan sibernetiknya terasa, tetapi di bawahnya, ia bisa merasakan kehangatan yang familiar.

"Aku mencintaimu, Sari," bisik Jaka. "Aku selalu mencintaimu. Dan itu adalah kelemahanku. Tapi juga kekuatanku. Kau di sini, bersamaku, karena ikatan itu. Sekarang, pilih. Pilih cinta."

Air mata mengalir di pipi Sari klon. Bukan air mata digital, melainkan cairan bening yang terasa asin, membuktikan kemanusiaan yang berusaha dia lupakan. Laras, dari belakang Jaka, mengembuskan napas lega. Riko menatap dengan bingung. Kala menyentuh implan lengannya, seolah ia bisa merasakan kejutan data.

"Cinta ...." bisik Sari klon. Laras plasma di lengannya jatuh lemas. Matanya meredup, lalu kembali menyala dengan warna biru standar yang Jaka kenal. Optik merah yang tadinya bersinar kini padam sepenuhnya. "Aku ... aku tidak mengerti."

"Kau tidak perlu mengerti secara logika, Sari," kata Jaka. "Cukup rasakan." Ia memeluk Sari klon. Pelukan itu canggung, antara logam dan daging, tetapi penuh kehangatan. "Mari kita pulang."

Sari klon membalas pelukan itu, tubuhnya bergetar. "Aku ... aku ingat."

Dia berhasil, Dalang, bisik Echo, dipenuhi kegembiraan. Kedua core Sari sekarang terhubung, beresonansi dalam matriks yang stabil. Kekuatanmu ... bertambah.

Jaka merasa sedikit pusing. Kekuatan yang baru ini begitu besar, begitu luas, tetapi juga terasa asing. Ia telah menyatukan begitu banyak jiwa, begitu banyak core. Ia bukan lagi dirinya sendiri. Ia adalah Dalang, perwujudan dari kota itu sendiri.

Lihat selengkapnya