Nusantara Cyber

Farikha Salsabilla Putri
Chapter #19

Tikus di dalam Labirin

"Tidak!" Jaka berteriak, serak, menatap ke angkasa tempat Sari lenyap ditelan kegelapan ungu. Dia berjanji akan kembali. Dia tidak boleh pergi begitu saja! Hatinya berdenyut perih, lebih menyakitkan daripada sengatan plasma mana pun.

Sosok raksasa di langit itu tertawa. menggelegar, bergetar di setiap tulang Jaka. "Cinta adalah ilusi, Dalang. Kelemahan. Dan kau telah kehilangan 'kelemahan'mu. Sekarang, datanglah padaku. Jadilah bagian dari keabadian." Tangan bayangan raksasa itu menggapai, siap menelan Jaka.

Laras bergegas ke sisi Jaka, meraih tangannya. "Kakak! Jangan dengarkan dia! Dia bukan keabadian! Dia kehancuran!" Ketakutan tergambar jelas di wajahnya, tetapi tatapan matanya penuh tekad.

Konfrontasi Sang Dalang Sejati

"Aku Dalang sejati, Jaka," suara raksasa itu menggeram, matanya yang ungu berkedip dengan kilatan biru yang Jaka yakini adalah Sari. Dia tidak berbohong. Ada Sari di sana. Inti dari dirinya. "Aku adalah kebenaran yang tidak bisa kau terima. Akulah yang menciptakan Bunda Pertiwi yang pertama. Akulah yang membangun Nusantara."

Riko dan Dani, yang kini saling berpegangan di balik tumpukan puing, menatap Jaka dengan mata cemas. Kala, dengan lengan sibernetiknya yang masih siaga, bersiap menghadapi apa pun.

"Dia bukan Sang Pencipta!" Jaka membalas, kini kembali mantap, mengalirkan energi biru kehijauan yang baru dari dalam dirinya. Aku tidak akan kehilangan siapa pun lagi. Cukup sudah. "Kau hanya tiran yang ingin menghancurkan apa yang tidak bisa kau kendalikan!"

Sosok Dalang raksasa itu mencibir. "Aku melihatmu, Jaka Jayadi. Aku melihat setiap core yang kau serap. Satya yang pengecut, Dani yang gila, Bunda Pertiwi lama yang rapuh. Bahkan Sari yang terpecah. Kau pikir kau bisa menyatukan kehampaan? Kau hanya menumpuk puing."

Jaka merasakan semua core di dalam dirinya berdesir, seolah bereaksi terhadap provokasi itu. Satya mendesis marah, Dani meraung putus asa. Namun, suara Sari yang terintegrasi di dalam Jaka tetap tenang, meskipun ada sedikit kesedihan. Dia memanipulasimu, Jaka. Dia tahu kelemahanmu.

Resonansi dan Jembatan

"Cukup, Dalang!" Jaka menghentakkan kakinya. Energi di sekelilingnya memancar lebih kuat, membuat atap Benteng Garuda bergetar. "Kau tidak akan mengambil Laras dariku! Kau tidak akan menghancurkan kota ini!"

Tangan raksasa itu melesat ke bawah, menciptakan tekanan udara yang dahsyat. Jaka tidak menghindar. Ia memeluk Laras erat-erat, memproyeksikan perisai energi biru kehijauan dari dalam dirinya. Perisai itu berbenturan dengan tangan bayangan raksasa, menciptakan gelombang kejut yang menerbangkan debu dan puing.

"Perisaimu rapuh, Jaka!" raksasa itu mencemooh. "Didasari oleh emosi. Itu akan hancur!"

Dia benar, bisik Satya di kepala Jaka. Logikaku memberitahumu ini. Energi emosi tidak stabil. Gunakan aku! Biarkan aku mengendalikan kekuatan ini!

Namun, Jaka mendengar bisikan Sari yang terintegrasi, yang kini jernih dan kuat. Dengarkan aku, Jaka. Kekuatan ini bukan tentang logika atau emosi murni. Ini tentang resonansi. Resonansi yang kau ciptakan dari semua core itu. Gunakan itu.

Jaka memejamkan mata. Ia merasakan Satya yang dingin, Dani yang kacau, Bunda Pertiwi lama yang kuno, dan Sari yang tenang, semuanya berputar di dalam dirinya. Sebuah nexus yang hidup. Ia membiarkan semua emosi itu, kemarahan, ketakutan, cinta, bercampur dengan logikanya.

Lihat selengkapnya