"Kau tidak bisa menghindarinya, Dalang!" raung sosok raksasa di langit, menggelegar, bergetar di setiap tulang Jaka. Tangan bayangan raksasa itu menggapai, siap menelan Jaka dalam kegelapan ungu. "Selamat datang di panggungmu sendiri, di mana kau hanya akan menjadi bonekaku!"
Jaka merasakan desakan angin menerjang wajahnya, rasa dingin mencekik ketika cengkeraman raksasa itu mendekat. Sari ... dia tidak boleh pergi! Ini bukan takdirnya! Hatinya berteriak, amarahnya meluap, menolak kehilangan lagi.
"Tidak akan!" Jaka berseru, serak tetapi penuh tekad. Laras bergegas ke sisinya, meraih tangannya dengan erat.
"Kakak! Jangan dengarkan dia!" Laras menjerit, matanya berkaca-kaca. "Dia hanya ingin menguasai, dia bukan Sang Pencipta!"
Dalang raksasa itu mencibir, matanya yang ungu berkedip dengan kilatan biru yang familier. Kilatan itu, meski samar, menusuk hati Jaka. Sari ... dia ada di sana! Keyakinan itu membakar semangat Jaka. Ia tidak bisa melawan kekuatan sebesar ini dengan amarah saja. Ia harus beresonansi.
"Kau bukan Sang Pencipta," Jaka menimpali, menahan tarikan Dalang raksasa itu dengan seluruh kekuatannya. "Kau adalah inti yang terpecah, Dalang! Kau kesepian!"
Sosok raksasa itu tersentak, tangannya yang menggapai berhenti sejenak. "Omong kosong! Aku sempurna! Aku adalah segalanya!"
"Kau bukan segalanya!" Jaka berseru, fokus pada kilatan biru di mata ungu itu. Sari, jika kau bisa mendengarku, ini Jaka! Aku akan mengambilmu kembali! Aku tidak akan meninggalkanmu lagi!
Energi biru kehijauan dari tubuh Jaka memancar lebih kuat, bukan sebagai serangan, melainkan sebagai jembatan resonansi yang menyelam ke dalam inti Dalang raksasa itu. Jaka memejamkan mata, membiarkan kenangan mereka mengalir, tawa di akademi, percakapan rahasia, janji-janji yang terucap. Ia mengirimkan semua cinta dan tekadnya, menembus lapisan kode dan bayangan amarah.
Dalang raksasa itu menjerit, kali ini bukan amarah, melainkan kepedihan yang menusuk. Tubuhnya bergetar hebat, bayangan data-nya bergolak liar. Mata ungunya berkedip-kedip, bergantian dengan warna biru yang semakin terang.
"Tidak! Ini bohong! Kau ingin menghancurkanku!" raksasa itu menggeram, mencoba melawan koneksi emosional yang Jaka ciptakan.
"Aku ingin membebaskanmu," kata Jaka, tenang tetapi penuh otoritas. "Membebaskanmu dari kesepian ini, dari amarah ini."
Raksasa itu berhenti melawan, bayangannya perlahan menyusut, memadat. Kilatan biru di matanya kini bersinar terang, menyelimuti kegelapan ungu. Dari kabut energi, muncul seorang wanita. Rambutnya hitam legam, matanya biru jernih, dan dia mengenakan baju zirah Cakra Global yang dimodifikasi. Itu Sari, Sari yang Jaka kenal, berdiri di hadapannya, utuh, tetapi terlihat lelah.
"Sari?" Jaka berbisik, tidak percaya. Dia benar-benar kembali. Air mata mengalir di pipinya.
Sari tersenyum, senyum yang memancarkan kehangatan yang Jaka rindukan, meski ada gurat kesedihan. "Aku selalu ada di sini, Jaka. Terperangkap. Menunggu. Dan kau ... kau menyelamatkanku."
"Bagaimana ... bagaimana bisa?" Jaka melangkah maju, tangannya gemetar, mengulurkan jari untuk menyentuh wajah Sari.
Sari membalas sentuhan itu, jemarinya dingin tetapi familiar. "Aku adalah inti sebenarnya dari Bunda Pertiwi yang lama. Jiwa yang terpecah. Kau menyatukanku kembali." Sari menghela napas. "Bukan seperti yang diceritakan Dr. Satya atau bahkan ibu Laras. Mereka hanya bagian dari fragmen yang lebih besar."
Jaka tidak membuang waktu. Ia berlari ke arah Sari, memeluknya erat. Aroma ozon dan vanila dari kulit Sari terasa nyata, sebuah kebahagiaan yang hampir tak tertahankan.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi," bisik Jaka, tercekat.
Sari membalas pelukan itu, kepalanya bersandar di bahu Jaka. "Kau tidak pernah meninggalkanku, Jaka. Kau selalu bersamaku. Di dalam dirimu."
Riko, Dani, Kala, dan Eyang Asep menatap adegan itu dengan takjub. Sari, yang sempat mereka kira hilang, kini kembali. Dani, yang masih memulihkan diri, menatap Sari dengan tatapan aneh, seolah ada ingatan yang bergejolak.
"Sari! Kau baik-baik saja?" Riko bergegas mendekat, menyentuh lengan Sari dengan ragu.
"Aku baik-baik saja, Riko," jawab Sari, melepaskan pelukan Jaka, tetapi tangannya masih menggenggam jemari Jaka. "Hanya ... sedikit lelah."
"Lalu ... apa sekarang?" tanya Kala, melirik ke arah tongkat merah yang tergeletak di lantai, tongkat yang sebelumnya dipegang oleh wanita yang mengklaim sebagai ibu Jaka.