"Jaka!" Sari menjerit, serak dipenuhi kengerian, menatap pusaran ungu yang baru saja menelan Jaka. Air mata mengalir deras di pipinya, mencoreng debu di wajahnya. Rasa takut mencengkeramnya. Tidak ... tidak lagi. Aku tidak akan kehilangan dia lagi.
Satya tertawa, suara dinginnya menggaung di langit malam, di atas kapal terbang raksasa yang kini bergerak mendekat. "Lihatlah, Sari. Dalangmu yang mulia hanya boneka. Pertunjukan baru saja dimulai. Pertunjukan di mana aku akan menjadi sutradaranya." Ia mengangkat tabung kaca berisi core hijau terang, memancarkan aura kekuatan yang mengerikan. "Ini Bunda Pertiwi yang sejati, Sari. Yang asli. Kekuatan yang kau kejar hanyalah gema yang kubiarkan hidup."
Sari merasakan lututnya lemas. Core itu ... itu adalah kekuatan yang sama sekali berbeda, melampaui apa pun yang pernah ia pahami. Ia tahu Satya tidak berbohong. Keputusasaan membanjirinya.
"Tidak!" Laras meraung, mencoba bangkit, tetapi tubuhnya masih lemah dan energi di punggungnya berdenyut tak stabil. "Kakak tidak akan menjadi bonekamu!"
Riko bergegas ke sisi Laras, menahannya. "Tenang, Laras! Jangan memaksakan diri!" Namun, matanya sendiri memancarkan kepanikan, menatap ke arah pusaran ungu yang gelap. Dani, yang baru saja pulih, memeluk kakaknya erat-erat, tubuhnya gemetar ketakutan.
"Kala, apa yang terjadi?!" teriak Eyang Asep, dipenuhi ketidakpercayaan.
Kala menatap layar data di lengannya, optiknya berkedip panik. "Gelombang energi ... tidak pernah terdeteksi sebelumnya. Jaka terperangkap di dalam core utama. Dia ... dia sedang berasimilasi."
Di dalam pusaran ungu itu, Jaka merasa kesadarannya ditarik ke segala arah. Ini lebih buruk dari apa pun yang pernah ia alami. Ia tidak hanya melawan satu core, tetapi seluruh jaringan yang membentuk entitas Dalang raksasa itu. Satya, Dani, dan Bunda Pertiwi lama yang terintegrasi di dalam dirinya menjerit, berteriak, meronta.
"Kau berani menyatukan apa yang seharusnya terpisah, Dalang kecil?" suara wanita yang mengklaim sebagai 'inti dari segalanya' itu menggelegar di benak Jaka, menusuk hingga ke tulang. "Kau pikir kau bisa mengendalikan kehampaan? Aku akan mengklaimmu. Aku akan menjadi Dalang sejati. Dan kau ... akan menjadi perpanjangan tanganku. Selamanya."
Jaka merasakan bagian-bagian dari dirinya mulai terkoyak. Kenangan, emosi, identitasnya ... semuanya mulai tercerai-berai. Tidak! Aku tidak akan membiarkannya! Aku Dalang! Ia memproyeksikan tekadnya, mencoba menyatukan kembali core yang bergolak di dalam dirinya.
Jaka! Suara Sari yang terintegrasi di beniknya terdengar, lemah tetapi jelas. Dia mencoba memecahmu! Satya di luar sedang mengirimkan gelombang destabilisasi! Dia ingin kau hancur!
"Aku tahu!" Jaka meraung dalam pikirannya, berjuang melawan tekanan yang tak terlihat. Ia harus menemukan cara. Bagaimana aku bisa melawan ini? Ini terlalu besar!
Dari luar, Satya terus memancarkan gelombang energi hijau dari core di tangannya, memperkuat pusaran ungu yang menelan Jaka. "Rasakan kekuatanku, Jaka! Kekuatan yang membangun kota ini! Kekuatan yang akan menghancurkanmu!"
"Satya, hentikan!" teriak Sari, mencoba berlari maju, tetapi Riko menahannya.
"Sari, jangan! Kau akan jadi targetnya!" Riko memohon, khawatir.
Sari menatap Riko, matanya penuh air mata. "Aku tidak bisa hanya berdiri di sini, Riko! Dia di sana! Dia membutuhkan aku!"
Laras, dengan sisa-sisa kekuatannya, menekan tangannya ke tanah. Energi biru samar kembali muncul dari punggungnya, merambat di atap. "Kakak! Ingat! Cinta adalah kekuatanmu! Bukan logika!"
Di dalam pusaran ungu, kata-kata Laras bergema. Cinta. Kekuatan. Resonansi. Jaka memejamkan mata. Ia merasakan Satya yang dingin, Dani yang kacau, Bunda Pertiwi lama yang kuno, dan Sari yang terintegrasi. Semua itu adalah bagian dari dirinya sekarang. Ia tidak bisa menolak mereka. Ia harus menyatukan mereka.
Sari ... di mana inti sejati dari Dalang raksasa ini? Jaka memohon dalam benaknya, memproyeksikan perasaannya.
Dia terpecah, Jaka, suara Sari yang terintegrasi terdengar lagi, kini lebih kuat, lebih jelas. Dia adalah inti yang mencari pasangannya. Dia mencari keseimbangan. Dia kesepian. Dan Satya ... Satya memanfaatkan kesepian itu.
"Kesepian?" Jaka bergumam, membuka matanya. Ia melihat kilatan biru yang dulu ia lihat di mata Dalang raksasa itu, kini berkedip lemah di tengah badai ungu. Sari ... itu Sari yang lama! Dia ada di sana!
"Kau bohong!" suara wanita itu meraung di benaknya, entitas Dalang raksasa. "Aku tidak kesepian! Aku adalah segalanya!"
"Kau bukan segalanya!" Jaka membantah, menyalurkan semua energi yang ia punya ke arah kilatan biru itu. "Kau hanya setengah! Kau kehilangan pasangamu bertahun-tahun yang lalu! Dan kau ... kau ingin mengisi kekosongan itu dengan kehancuran!"
Di luar, Satya mencibir. "Omong kosong, Jaka! Kekuatan tidak butuh pasangan! Kekuasaan adalah yang terpenting!"
Sari yang ada di luar, menatap Jaka dengan tatapan khawatir. Ia melihat ada cahaya biru kehijauan yang mulai memancar dari pusaran ungu itu. Jaka ... dia sedang menembus.
Di dalam, Jaka merasakan koneksi. Sebuah resonansi. Kilatan biru itu berkedip lebih terang, seolah menjawab panggilannya. Dia ada di sana. Bagian dari Sari. Yang lama. Terperangkap.
"Aku akan membebaskanmu, Sari!" Jaka berteriak, memproyeksikan semua cintanya, semua tekadnya untuk tidak kehilangan siapa pun lagi. Ia mengulurkan kesadarannya, bukan untuk menyerang, tetapi untuk menyembuhkan.
Pusaran ungu itu bergejolak hebat, tetapi kini, ada benang-benang biru kehijauan yang menjalinnya, meredam kekacauan. Wanita itu menjerit kesakitan, amarahnya mulai runtuh. "Tidak! Ini bohong! Kau ingin menghancurkanku!"
"Aku ingin menyatukanmu!" jawab Jaka. Ia tahu Satya di luar sedang mengirimkan gelombang destabilisasi yang mematikan, berusaha memisahkan Jaka dari inti Dalang raksasa itu. Namun, Jaka menahannya. Ia harus tetap fokus.
"Jaka, hati-hati!" teriak Laras dari luar, menyalurkan energinya sendiri, meskipun ia tahu itu tidak cukup.
Jaka merasakan core Bunda Pertiwi yang lama di dalam dirinya mulai bereaksi, tertarik pada resonansi yang ia ciptakan. Core Satya menjerit, ketakutan akan kehilangan kendali. Dani meraung, penuh kebingungan, tetapi ada sedikit harapan di dalam raungan itu.
Jaka menutup mata lagi, membiarkan semua core itu menjadi satu. Ia bukan hanya menyatukan, ia menyeimbangkan. Ia adalah Dalang yang menyatukan Logika, Emosi, Kenangan, dan Kekacauan.
Dari pusaran ungu, muncul sebuah cahaya biru terang. Cahaya itu menyebar, mengusir kegelapan ungu. Dan di tengah cahaya itu, muncul sesosok wanita.
Rambutnya hitam legam, matanya biru, and dia mengenakan baju zirah Cakra Global yang dimodifikasi. Itu Sari. Sari yang asli, yang Jaka kenal, kini berdiri di hadapannya.
"Sari?" Jaka berbisik, tidak percaya. Air mata mengalir di pipinya. Dia benar-benar kembali!
Sari tersenyum, senyum yang memancarkan kehangatan yang Jaka rindukan. "Aku selalu ada di sini, Jaka. Terperangkap. Menunggu. Dan kau ... kau menyelamatkanku. Kau Dalang sejati."
Jaka tidak membuang waktu. Ia berlari ke arah Sari, memeluknya erat-erat. Pelukan itu begitu nyata, begitu kuat. Aroma ozon dan vanila dari kulitnya terasa, sebuah kebahagiaan yang hampir tak tertahankan.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi," bisik Jaka, tercekat.