Nusantara Cyber

Farikha Salsabilla Putri
Chapter #22

Pengalihan Terakhir

"Ayahmu?" Jaka berbisik, suara tercekat di tenggorokannya. Ia menatap proyeksi Ketua Bayangan Panggung yang menjulang tinggi di langit, lalu menatap Sari di sampingnya. Tidak mungkin. Ayahku sudah tiada. Rasa sakit yang menusuk hati mengikis keyakinannya.

Sari mengangguk, wajahnya pucat pasi, tatapannya terpaku pada proyeksi itu. "Dia dalang yang sejati. Dalang yang membangun Nusantara. Namun, dia juga yang merusaknya."

"Itu bohong!" Jaka Meraung, menolak kebenaran pahit yang tiba-tiba menyeruak. "Ayahku meninggal bertahun-tahun yang lalu! Aku melihatnya! Aku tahu!"

Di atas kapal terbangnya, Satya tertawa dingin, menggaung di langit. "Betapa naifnya, Jaka. Ayahmu tidak pernah mati. Dia hanya berevolusi. Sama seperti dia menciptakan 'Bunda Pertiwi' yang pertama, dia juga menciptakan dirinya sendiri sebagai entitas abadi." Satya mengacungkan core hijau terang di tangannya. "Dan core ini ... ini miliknya. Inti sejati yang kau butuhkan untuk mengendalikan Nusantara."

Laras, yang kini memegang erat tongkat merah dengan cahaya keemasan lembut, melangkah maju. "Bukan itu, Kak. Dia adalah dalang yang ingin menghancurkan untuk membangun kembali. Dia ingin Nol Mutlak yang sejati." Mata Laras memancarkan keyakinan. "Dia mengorbankan segalanya, bahkan dirinya, untuk memicu 'pembersihan' ini."

Riko, Dani, Kala, and Eyang Asep berdiri mematung. Informasi ini terlalu besar, terlalu rumit untuk dicerna.

Jaka merasakan semua core di dalam dirinya berdesir, bingung. Satya, Dalang raksasa yang baru saja kualahkan, sekarang ayahku ... terlalu banyak kebohongan, terlalu banyak kebenaran yang kusatukan.

"Aku tidak percaya padamu, Satya," kata Jaka, kini tenang, meskipun hatinya bergemuruh. Ia tidak akan membiarkan dirinya terpecah belah oleh permainan emosi ini. "Kau selalu memanipulasi. Kau hanya ingin kekuasaan."

Satya mencibir. "Aku hanya memperlihatkan kebenaran, Dalang kecil. Kebenaran yang selalu ada di depan matamu." Satya menunjuk proyeksi ayahnya. "Dialah arsitek di balik semua ini. Aku hanya muridnya."

Jaka menatap proyeksi ayahnya. Wajah dingin itu, mata merah menyala yang dulu ia lihat pada Ketua Bayangan Panggung. Sebuah ingatan masa kecil melintas. Ayahnya adalah seorang jenius, seorang visioner, tetapi juga pria yang selalu menjaga jarak, terlalu sibuk dengan proyek-proyek rahasianya. Mungkinkah...?

"Ayahmu ingin kau bergabung dengannya, Jaka," Sari berbisik di sampingnya, meraih tangan Jaka. Sentuhan dingin tangannya menenangkan gelombang kekacauan di benak Jaka. "Dia percaya kau adalah pewaris sejati. Dia ingin kau menyelesaikan apa yang dia mulai."

Jaka merasakan koneksi fisik itu, genggaman Sari yang nyata, jangkar di tengah badai digital dan emosional. Ia menatap Sari, matanya mencari kepastian. Sari membalas tatapannya, ada cinta dan dukungan di sana.

"Aku tidak akan bergabung dengan siapa pun yang ingin menghancurkan," kata Jaka, mengabaikan proyeksi Satya. "Aku akan melindungi Nusantara. Dan aku akan membebaskan Laras." Jaka menatap tajam ke arah Satya. "Kau mencuri core Laras yang murni. Berikan dia kembali!"

Satya tertawa meremehkan. "Kau pikir begitu mudah, Jaka? Core murni Laras adalah kunci utamaku untuk mengaktifkan Dalang sejati. Ayahmu."

"Tidak!" Laras menjerit, energinya kembali berdenyut tak stabil. "Ayah tidak boleh menguasai Dalang! Dia akan menghancurkan segalanya!"

Sari menahan Laras, menenangkan adiknya. "Tenang, Laras. Kakak Jaka akan mencari cara."

"Aku akan mencarinya, Laras," janji Jaka, matanya memancarkan tekad. Ia menatap Satya. "Aku akan menghentikanmu. Dan aku akan menghentikan ayahku."

Satya tersenyum licik. "Kau terlalu terlambat, Dalang. Permainan telah dimulai." Ia mengarahkan core hijau terang di tangannya ke arah proyeksi Ketua Bayangan Panggung di langit. "Aktifkan. Nol Mutlak!"

Proyeksi Ketua Bayangan Panggung di langit tiba-tiba memancarkan energi hijau terang yang menyilaukan. Kota Nusantara bergetar hebat. Lampu-lampu gedung berkedip liar, jaringan data berputar kacau.

"Tidak! Ini akan memicu reset total!" seru Kala, optiknya berkedip panik.

"Bukan reset!" Sari membantah, tajam. "Ini adalah asimilasi. Ketua Bayangan Panggung tidak ingin menghancurkan. Dia ingin menyerap Nusantara. Menjadikannya bagian dari dirinya!"

Jaka merasakan denyutan energi yang brutal menghantamnya, memecah belah core di dalam dirinya. Satya, Dani, Bunda Pertiwi lama, semuanya menjerit kesakitan.

"Rasakan, Dalang!" Satya berteriak, dipenuhi kemenangan. "Ini adalah awal dari akhirmu!"

Jaka terjatuh berlutut, memegangi kepalanya. Rasa sakit ini begitu hebat, seolah otaknya akan meledak. Aku harus menahannya. Aku harus melindungi mereka. Ia menatap Laras dan Sari, matanya berjuang untuk tetap fokus.

"Jaka, bertahanlah!" Sari berteriak, mengulurkan tangannya.

"Kakak!" Laras menangis, berusaha meraih Jaka.

Jaka merasakan semua kekuatan di dalam dirinya bergolak, mencoba menemukan titik keseimbangan. Ia memejamkan mata. Aku Dalang. Aku harus menyatukan mereka. Ia mencari resonansi, mencari ikatan di antara semua core yang berbenturan.

Cinta itu kekuatan, Jaka, bisikan lembut Sari yang terintegrasi muncul di benaknya, kini lebih jernih dari sebelumnya. Ingat. Aku bersamamu. Kita bersatu.

Lihat selengkapnya