Nusantara Cyber

Farikha Salsabilla Putri
Chapter #23

Kematian Sang Dalang

"Permainan selesai, Dalang kecil. Aku akan mengambil semuanya."

Suara Nyonya Dalang menggelegar, dingin dan kejam, menusuk Jaka hingga ke tulang. Tangan putih pucatnya terangkat, siap merebut inti Dalang yang kini bersemayam dalam diri Jaka. Sari, yang tadi mendorong Jaka, kini terpental menghantam atap Benteng Garuda, tubuhnya bergetar tak berdaya. Jaka berusaha bangkit, tetapi rasa lumpuh masih mencengkeram. Matanya menatap Sari yang tergeletak.

"Tidak!" Jaka meraung, berusaha merangkak. Aku tidak akan membiarkanmu mengambilnya! Aku tidak akan kehilangan siapa pun lagi! Amarah membakar dalam dirinya, memicu kekuatan baru.

Nyonya Dalang tersenyum kejam, tatapannya beralih ke Sari. "Nusantara akan tunduk padaku. Sekarang, Dalang kecil, saksikan bagaimana aku menghancurkan semua yang kau cintai. Dimulai dari ... dia."

Energi ungu gelap mulai menyelimuti tubuh Sari, mengancam menelannya. Sari menatap Jaka, matanya memancarkan keputusasaan. Jaka ... selamatkan dirimu ... bisikan Sari yang terintegrasi di dalam Jaka terdengar lemah, hampir tidak terdengar. Jaka merasakan hati Sari di dalam dirinya perlahan memudar, seperti cahaya yang redup.

Tidak! Aku tidak akan menyerah! Tekad itu menggelegar dalam diri Jaka, mengalahkan rasa sakit dan kelumpuhan. Ia mengulurkan tangannya, memproyeksikan seluruh energinya yang tersisa, semua core yang kini menyatu di dalam dirinya. Ia tidak akan menyerah. Ia tidak akan memilih untuk lari. Ia akan bertarung.

"Jaka! Hentikan!" teriak Laras, berusaha meraih Jaka, tetapi Riko menahannya.

Namun, Jaka tidak mendengarkan. Ia fokus pada satu tujuan, menyelamatkan Sari. Energi biru kehijauan memancar dari Jaka, berbenturan dengan energi ungu gelap yang menyelimuti Sari. Pertempuran kekuatan yang mengerikan pecah di atas atap Benteng Garuda, mengancam merobek realitas.

Nyonya Dalang mencibir. "Kau pikir kau bisa melawanku, sampah digital? Aku adalah inti dari segalanya!"

"Kau bukan segalanya!" Jaka membantah, kini kembali berlapis, menggelegar. Aku tidak sendirian! Sari ada di sini! Ia menekan energinya, memproyeksikan kenangan Sari di dalam dirinya ke arah Sari yang diserang, berharap membangunkan inti terdalamnya.

Sari yang tergeletak di tanah tiba-tiba tersentak. Kelopak matanya berkedip. Energi ungu gelap itu sedikit goyah.

"Dia bereaksi!" teriak Riko.

Nyonya Dalang melihatnya, amarah membakar matanya. "Tidak! Dia adalah bidakku! Aku yang mengendalikan! Kau membohongiku, Jaka!"

"Akulah yang tidak berbohong," balas Jaka, memaksakan diri melangkah maju. Setiap langkah adalah perjuangan, tetapi tatapan mata Sari yang tergeletak memberinya kekuatan. Aku mencintaimu, Sari. Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi. "Kau hanya gema yang haus kekuasaan. Sari yang sejati adalah cinta. Bukan kehampaan."

Gelombang energi biru kehijauan dari Jaka menghantam Nyonya Dalang, bukan dengan kekerasan, tetapi dengan resonansi yang mendalam. Itu adalah resonansi semua core yang Jaka satukan, ketenangan logis Sari, kegilaan Dani, kebijaksanaan kuno Bunda Pertiwi, bahkan logika dingin Satya yang terperangkap. Jaka menyalurkan segalanya, mencoba menyatukan yang terpecah.

Nyonya Dalang berteriak, bukan suara fisik, melainkan jeritan digital yang memekakkan telinga. Tubuhnya bergetar hebat, jubah hitamnya berkibar liar. Ia merasakan kekuatan Jaka menusuk ke inti kekuasaannya.

"Tidak mungkin! Aku adalah Nyonya! Aku adalah yang pertama!" Nyonya Dalang melesat ke arah Jaka, tangannya membentuk cakar energi ungu, siap merobeknya.

Jaka tidak gentar. Ia memejamkan mata, membiarkan semua core di dalamnya beresonansi menjadi satu perisai. Perisai itu bukan hanya energi, tetapi ikatan, kepercayaan, dan cinta. Cakar Nyonya Dalang menghantam perisai itu. Getaran dahsyat mengguncang atap Benteng Garuda.

Lihat selengkapnya