"Kau pikir kau bisa menyatukan semua, Jaka? Kau salah." Suara Ayah Jaka menggelegar dari dek kapal perang kuno di langit, menusuk telinga Jaka lebih tajam dari dentuman plasma. "Sekarang, Dalang. Mari kita akhiri pertunjukanmu. Dengan kematian."
Tidak mungkin. Ia menatap pria di depan kapal itu, sosok yang seharusnya sudah lama tiada. Di sampingnya berdiri wanita dengan mata merah menyala, yang ia kira baru saja ia redakan, dan di sisi lain, Ketua Bayangan Panggung yang tadi lumpuh. Ini konyol sekali!
"Ayah ... ibu ...." bisik Jaka, tercekat. Ia meraih tangan Sari yang berdiri di sampingnya. Sari balas menggenggamnya, tangan dinginnya gemetar.
"Ayahmu memang dalang sejati, Jaka," Sari berbisik, matanya menatap tajam ke arah sosok di kapal. "Dia membangun Nusantara. Tapi dia juga yang ingin merusaknya."
"Omong kosong!" Jaka meraung. "Ayahku meninggal! Ini hanya ilusi! Manipulasi!"
Di kapal terbang Satya, yang kini tampak gentar di samping ayahnya, tersenyum licik. "Betapa sentimentalnya, Jaka. Ayahmu tidak pernah mati. Dia hanya berevolusi, sama sepertimu. Hanya saja, dia lebih dulu." Ia mengacungkan core hijau terang. "Dan core ini ... kunci sejati yang akan mengendalikan Nusantara."
Laras, dengan tongkat keemasan di tangannya, melangkah maju. "Bukan itu, Kak! Ayah hanya ingin 'pembersihan' Nol Mutlak! Dia mengorbankan segalanya untuk itu!"
Riko menatap Laras, lalu ke langit. "Ini drama keluarga yang terlalu rumit buat kepalaku yang sederhana ini." Dani di sampingnya mengangguk pelan, masih sedikit linglung.
Jaka merasakan semua core di dalam dirinya bergolak. Satya si manipulator, Ibu Dalang yang muncul lagi, dan sekarang Ayahku sendiri ... ini seperti opera sabun digital! Perasaan absurd bercampur amarah.
"Aku tidak percaya padamu, Satya!" Jaka membalas, tegas. "Kau hanya haus kekuasaan!"
"Aku hanya memperlihatkan kebenaran, Dalang kecil," Satya mencibir, menunjuk ke proyeksi ayah Jaka. "Dialah arsitek di balik semua ini. Aku hanya muridnya yang setia."
Jaka menatap wajah ayahnya yang dingin di proyeksi. Ia ingat bagaimana ayahnya dulu selalu sibuk, sering mengurung diri di lab. Mungkinkah dia benar-benar menciptakan semua kekacauan ini?
"Ayahmu ingin kau bergabung dengannya, Jaka," Sari berbisik di sampingnya, meraih tangan Jaka. Sentuhan dingin tangannya menenangkan gelombang kekacauan di benak Jaka. "Dia percaya kau adalah pewaris sejati. Dia ingin kau menyelesaikan apa yang dia mulai." Kehangatan dari sentuhan Sari mengalir, memberinya kekuatan.
Jaka membalas genggaman Sari. "Aku tidak akan bergabung dengan siapa pun yang ingin menghancurkan. Aku akan melindungi Nusantara. Dan aku akan membebaskan Laras." Jaka menatap tajam ke Satya. "Kembalikan core murni Laras sekarang!"
Satya tertawa meremehkan. "Kau pikir begitu mudah, Jaka? Core murni Laras adalah kunci utama ayahmu untuk mengaktifkan Dalang sejati. Dialah inti dari semua rencananya!"
"Tidak!" Laras menjerit, energi di punggungnya kembali berdenyut tak stabil. "Ayah tidak boleh menguasai Dalang! Dia akan menghancurkan segalanya!"
Sari menahan Laras, menenangkan adiknya. "Tenang, Laras. Kakak Jaka akan mencari cara. Kita akan menghadapinya bersama."
"Aku akan mencarinya," Jaka berjanji, matanya memancarkan tekad. Ia menatap ayahnya di langit, lalu ke arah Satya. "Aku akan menghentikan kalian berdua!"
Satya menyeringai licik. "Kau terlalu terlambat, Dalang. Permainan telah dimulai." Ia mengarahkan core hijau terang di tangannya ke proyeksi ayah Jaka. "Aktifkan. Nol Mutlak!"
Proyeksi ayah Jaka di langit tiba-tiba memancarkan energi hijau menyilaukan. Kota Nusantara bergetar hebat, lampu-lampu gedung berkedip liar, jaringan data berputar kacau. Rasanya seperti seluruh kota sedang kejang-kejang.
"Tidak! Ini akan memicu reset total!" seru Kala, optiknya berkedip panik.
"Bukan reset!" Sari membantah, tajam. "Ini adalah asimilasi. Ayahmu tidak ingin menghancurkan. Dia ingin menyerap Nusantara! Menjadikannya bagian dari dirinya!"
Jaka merasakan denyutan energi brutal menghantamnya, memecah belah core di dalam dirinya. Satya, Dani, Bunda Pertiwi lama, semuanya menjerit kesakitan. Satya di kapal terbang tertawa penuh kemenangan. "Rasakan, Dalang! Ini adalah awal dari akhirmu!"
Jaka terjatuh berlutut, memegangi kepalanya. Rasa sakit ini begitu hebat, seolah otaknya akan meledak. Aku harus menahannya. Aku harus melindungi mereka. Aku tidak boleh menyerah. Ia menatap Laras dan Sari, matanya berjuang untuk tetap fokus.