Nusantara Cyber

Farikha Salsabilla Putri
Chapter #25

Membaca Tulang Belulang Digital

"Kau pikir kau bisa menyatukan semua, Jaka? Kau salah." Suara Ayah Jaka menggelegar dari dek kapal perang kuno di langit, menusuk telinga Jaka lebih tajam dari dentuman plasma. "Sekarang, Dalang. Mari kita akhiri pertunjukanmu. Dengan kematian."

Tidak mungkin. Jaka menatap pria di depan kapal itu, sosok yang seharusnya sudah lama tiada. Di sampingnya berdiri wanita dengan mata merah menyala, yang ia kira baru saja ia redakan, dan di sisi lain, Ketua Bayangan Panggung yang tadi lumpuh. Ini konyol sekali!

"Ayah ... ibu ...." bisik Jaka, tercekat. Ia meraih tangan Sari yang berdiri di sampingnya. Sari balas menggenggamnya, tangan dinginnya gemetar.

"Ayahmu memang dalang sejati, Jaka," Sari berbisik, matanya menatap tajam ke arah sosok di kapal. "Dia membangun Nusantara. Tapi dia juga yang ingin merusaknya."

"Omong kosong!" Jaka meraung. "Ayahku meninggal! Ini hanya ilusi! Manipulasi,!"

Di kapal terbang Satya, yang kini tampak gentar di samping ayahnya, tersenyum licik. "Betapa sentimentalnya, Jaka. Ayahmu tidak pernah mati. Dia hanya berevolusi, sama sepertimu. Hanya saja, dia lebih dulu." Ia mengacungkan core hijau terang. "Dan core ini ... kunci sejati yang akan mengendalikan Nusantara."

Laras, dengan tongkat keemasan di tangannya, melangkah maju. "Bukan itu, Kak! Ayah hanya ingin 'pembersihan' Nol Mutlak! Dia mengorbankan segalanya untuk itu!"

Riko menatap Laras, lalu ke langit. "Ini drama keluarga yang terlalu rumit buat kepalaku yang sederhana ini." Dani di sampingnya mengangguk pelan, masih sedikit linglung.

Jaka merasakan semua core di dalam dirinya bergolak. Satya si manipulator, Ibu Dalang yang muncul lagi, dan sekarang Ayahku sendiri ... ini seperti opera sabun digital! Perasaan absurd bercampur amarah.

"Aku tidak percaya padamu, Satya!" Jaka membalas, tegas. "Kau hanya haus kekuasaan!"

"Aku hanya memperlihatkan kebenaran, Dalang kecil," Satya mencibir, menunjuk ke proyeksi ayah Jaka. "Dialah arsitek di balik semua ini. Aku hanya muridnya yang setia."

Jaka menatap wajah ayahnya yang dingin di proyeksi. Ia ingat bagaimana ayahnya dulu selalu sibuk, sering mengurung diri di lab. Mungkinkah dia benar-benar menciptakan semua kekacauan ini?

"Ayahmu ingin kau bergabung dengannya, Jaka," Sari berbisik di sampingnya, meraih tangan Jaka. Sentuhan dingin tangannya menenangkan gelombang kekacauan di benak Jaka. "Dia percaya kau adalah pewaris sejati. Dia ingin kau menyelesaikan apa yang dia mulai." Kehangatan dari sentuhan Sari mengalir, memberinya kekuatan.

Jaka membalas genggaman Sari. "Aku tidak akan bergabung dengan siapa pun yang ingin menghancurkan. Aku akan melindungi Nusantara. Dan aku akan membebaskan Laras." Jaka menatap tajam ke Satya. "Kembalikan core murni Laras sekarang!"

Satya tertawa meremehkan. "Kau pikir begitu mudah, Jaka? Core murni Laras adalah kunci utama ayahmu untuk mengaktifkan Dalang sejati. Dialah inti dari semua rencananya!"

"Tidak!" Laras menjerit, energinya kembali berdenyut tak stabil. "Ayah tidak boleh menguasai Dalang! Dia akan menghancurkan segalanya!"

Sari menahan Laras, menenangkan adiknya. "Tenang, Laras. Kakak Jaka akan mencari cara. Kita akan menghadapinya bersama."

"Aku akan mencarinya, Laras," janji Jaka, matanya memancarkan tekad. Ia menatap ayahnya di langit, lalu ke arah Satya. "Aku akan menghentikan kalian berdua!"

Satya menyeringai licik. "Kau terlalu terlambat, Dalang. Permainan telah dimulai." Ia mengarahkan core hijau terang di tangannya ke proyeksi ayah Jaka. "Aktifkan. Nol Mutlak!"

Proyeksi ayah Jaka di langit tiba-tiba memancarkan energi hijau menyilaukan. Kota Nusantara bergetar hebat, lampu-lampu gedung berkedip liar, jaringan data berputar kacau. Rasanya seperti seluruh kota sedang kejang-kejang.

"Tidak! Ini akan memicu reset total!" seru Kala, optiknya berkedip panik.

"Bukan reset!" Sari membantah, tajam. "Ini adalah asimilasi. Ayahmu tidak ingin menghancurkan. Dia ingin menyerap Nusantara! Menjadikannya bagian dari dirinya!"

Jaka merasakan denyutan energi brutal menghantamnya, memecah belah core di dalam dirinya. Satya, Dani, Bunda Pertiwi lama, semuanya menjerit kesakitan. Satya di kapal terbang tertawa penuh kemenangan. "Rasakan, Dalang! Ini adalah awal dari akhirmu!"

Jaka terjatuh berlutut, memegangi kepalanya. Rasa sakit ini begitu hebat, seolah otaknya akan meledak. Aku harus menahannya. Aku harus melindungi mereka. Aku tidak boleh menyerah. Ia menatap Laras dan Sari, matanya berjuang untuk tetap fokus.

"Jaka, bertahanlah!" Sari berteriak, mengulurkan tangannya. Wajahnya penuh kekhawatiran yang tulus.

"Kakak!" Laras menangis, berusaha meraih Jaka.

Jaka merasakan semua kekuatan di dalam dirinya bergolak, mencoba menemukan titik keseimbangan. Ia memejamkan mata. Aku Dalang. Aku harus menyatukan mereka. Ia mencari resonansi, mencari ikatan di antara semua core yang berbenturan.

Cinta itu kekuatan, Jaka, bisikan lembut Sari yang terintegrasi muncul di benaknya, kini lebih jernih dari sebelumnya. Ingat. Aku bersamamu. Kita bersatu.

Jaka mengangguk. Ia meraih tangan Sari yang nyata. Sentuhan itu seperti percikan listrik yang mengalirkan kekuatan baru ke dalam dirinya.

"Aku tidak akan menyerah," kata Jaka, bangkit berdiri. Matanya memancarkan cahaya biru kehijauan yang stabil. Ia menarik napas dalam-dalam. "Aku adalah Dalang. Dan aku akan menyatukan kalian semua!"

Jaka mengangkat tangannya ke arah proyeksi ayahnya di langit. Energi biru kehijauan memancar dari dirinya, berbenturan dengan energi hijau yang mematikan.

"Kau pikir kau bisa melawanku, Dalang kecil?" suara ayahnya menggelegar dari proyeksi. "Aku yang menciptakanmu! Aku tahu setiap kelemahanmu!"

"Mungkin kau yang menciptakan tubuh ini," balas Jaka, berlapis, penuh otoritas. "Tetapi kau tidak menciptakan jiwaku. Jiwaku ada di sini, di Nusantara ini." Jaka menatap Sari. "Dan aku tidak sendirian!"

Sari melangkah maju, tangannya menggenggam tangan Jaka lebih erat. Dari tubuh Sari, memancar energi yang sama, bergabung dengan Jaka. Kedua cahaya itu menyatu, membentuk gelombang energi dahsyat, mendorong kembali energi hijau Ketua Bayangan Panggung.

"Tidak mungkin!" teriak Satya, wajahnya pucat pasi. "Kalian ... kalian menyatukan Bunda Pertiwi yang terpecah!"

Proyeksi Ketua Bayangan Panggung bergetar hebat. Wajahnya menunjukkan kemarahan luar biasa. "Kau mengkhianatiku, Sari! Kau selalu saja! Kau adalah Dalang yang rapuh!"

"Aku bukan Dalang yang rapuh," jawab Sari, tenang tetapi tajam. "Aku adalah Dalang yang memilih cinta. Dan itu kekuatanku, bukan kelemahanku."

Gelombang energi biru kehijauan itu terus mendorong, menembus pertahanan ayahnya. Jaka merasakan Satya di dalam dirinya menjerit ketakutan, Dani meraung kagum.

Proyeksi ayahnya mulai retak, pecah menjadi serpihan data.

"Tidak! Jangan hancurkan dia, Jaka!" Laras berteriak, menunjuk tongkat merah di tangannya yang kini bergetar hebat. "Inti Bunda Pertiwi yang lama ... dia akan runtuh!"

Jaka menatap tongkat itu, lalu ke proyeksi ayahnya yang mulai hancur. Ia dihadapkan pada pilihan sulit. Menghancurkan ayahnya dan berisiko kehilangan inti Bunda Pertiwi lama yang kini menjadi jembatan kenangan, atau menahannya dan membiarkan dia terus mengancam.

"Kita tidak akan menghancurkan siapa pun, Laras," kata Jaka, melonggarkan genggamannya pada Sari. "Kita akan menyatukannya."

Jaka mengulurkan tangan bebasnya ke tongkat merah di tangan Laras. Energi biru kehijauan mengalir dari Jaka ke tongkat itu, menstabilkan getarannya.

Tiba-tiba, proyeksi ayahnya yang hancur mulai memadat kembali, bukan sebagai sosok utuh, tetapi sebagai inti core yang berdenyut dengan cahaya hijau terang. Inti itu ditarik ke dalam tongkat merah, bergabung dengan Bunda Pertiwi yang lama.

"Apa yang kau lakukan?!" Satya berteriak, tidak percaya. "Kau menyatukan semua musuhmu dalam satu core?!"

Lihat selengkapnya