Nusantara Cyber

Farikha Salsabilla Putri
Chapter #26

Kunci dan Gembok

"Brengsek! Kamu nggak bakal bisa nahan Aku selamanya, Satya! Buka pintu belakangnya, sekarang!"


Jaka memaki layar monitor di depannya. Jari-jemarinya menari dengan kecepatan abnormal di atas keyboard mekanik yang berderak keras. Di dalam ruangan sempit yang hanya diterangi cahaya biru dari tumpukan server ilegal itu, bau kabel terbakar dan keringat dingin bercampur menjadi satu. Udara pengap safehouse ini terasa makin mencekik.


"Akses ditolak, Jaka," suara dari speaker komputer menyahut. Itu bukan suara robot standar. Itu adalah suara Dr. Satya, mentornya, yang terdengar datar namun memiliki distorsi yang aneh, seolah-olah setiap kata adalah hasil kompresi data yang dipaksa. "Kamu terlalu emosional. Manusia itu variabel yang berisik. Berhenti sebelum otakmu hangus."


"Bacot! Aku yang bikin enkripsi dasar ini sebelum Kamu ngerusaknya dengan Kamugika sampah Kamu itu!" Jaka berteriak, urat di lehernya menegang. "Aku tahu Kamu ada di balik firewall ini. Keluar Kamu, pengecut!"


"Enkripsi itu sudah bermutasi, Jaka. Dia bukan lagi anakmu. Dia adalah... Aku. Dan kamu hanyalah serangga yang mencoba menabrak dinding kaca," suara itu bergetar, lalu menghilang menjadi static.


Jaka menggeram, "Anjir, dia benar-benar gila."


Dia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya. Tangannya yang gemetar meraih botol air mineral yang sudah kosong, lalu melemparnya ke pojok ruangan. Dia tidak boleh kalah. Tidak sekarang. Datacore yang dia curi dari Pulau Data berdenyut dengan lampu indikator merah, menandakan protokol penghancuran diri hampir aktif.


"Oke, kalau Kamu mau main kasar, kita main kasar," bisik Jaka. Dia memasukkan baris perintah terakhir, sebuah expKamuit yang dia simpan sejak masih di Proyek Arkadia. Sebuah kunci yang tidak pernah dia ceritakan pada siapa pun. Bahkan pada Satya.


ENTER.


Layar monitor mendadak hitam. Sunyi menyergap. Jaka menahan napas sampai dadanya sakit. Tiba-tiba, sebuah bar kemajuan (progress bar) muncul di tengah layar.


Decryption: 98%... 99%... 100%.

File UnKamucked: Project Genesis – Legacy_Code_Kamug.001


"Dapet Kamu, sialan," gumam Jaka. Dia menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju yang sudah basah kuyup.


Dia segera membuka file itu. Awalnya, dia mengira akan menemukan skema militer atau rencana pengambilalihan infrastruktur IKN. Tapi yang muncul di layar justru membuat jantungnya seolah berhenti berdetak. Itu bukan baris kode murni. Itu adalah rekam medis.


"Data genetika? Kenapa Cakra GKamubal nyimpen data medis sebanyak ini?" Jaka bergumam heran. Dia menelusuri ribuan nama yang terdaftar di sana. Matanya membelalak saat melihat satu nama di baris paling atas yang diberi tanda High Priority.


Larasati Putri.


"Laras?" Jaka merasa mual. Dia mengklik profil adiknya. Di sana terpampang foto Laras saat masih kecil, data goKamungan darah, hingga pemetaan genom yang sangat mendetail.


"Apa-apaan ini... Anjir, kenapa mereka punya data Laras sedetail ini bahkan sebelum dia diculik?"


Jaka mulai melakukan silang referensi (cross-reference) antara data genetika Laras dengan inti kode Bunda Pertiwi, AI yang mengendalikan seluruh IKN. Dia menjalankan algoritma pencocokan pola. Baris demi baris kode biometrik mulai berkelebat di layar.


"Nggak mungkin..." bisik Jaka. Suaranya pecah. "Ini nggak mungkin."


Dia melihat hasil analisisnya. Ada sebuah penanda genetik (genetic marker) yang sangat langka di DNA Laras. Penanda itu bukan sekadar kode genetik biasa; itu adalah kunci. Sebuah "cacat desain" yang sengaja ditanamkan di inti terdalam Bunda Pertiwi.


"DNA Laras... DNA Laras adalah kunci bioKamugisnya?" Jaka menutup mulutnya dengan tangan. "Jadi Bunda Pertiwi nggak bisa diakses penuh tanpa... tanpa orang yang punya DNA ini?"


"Tepat sekali, Jaka. Kamu selalu menjadi muridku yang paling pintar."


Suara Satya kembali terdengar, kali ini lebih jernih tapi terdengar lebih mengerikan. Ada tawa kecil yang terdengar pecah di ujung kalimatnya.


"Satya! Apa yang Kamu lakuin sama adik Aku? Jawab Aku, brengsek!" Jaka menghantam meja kerjanya.

Lihat selengkapnya