Nusantara Cyber

Farikha Salsabilla Putri
Chapter #27

Keruntuhan Arkadia

"Kamu gila, Jak! Benar-benar gila! Kalau tadi Aku telat satu detik aja jemput Kamudi gang itu, kepala Kamuudah bolong dipreteli Jagabala!"


Riko membanting pintu van bututnya hingga bergetar. Dia masih gemetar, napasnya memburu di balik kemudi. Di sampingnya, Jaka hanya duduk diam dengan tatapan kosong, memeluk datacore yang masih terasa hangat di dadanya. Bau ozon dari ledakan EMP tadi masih menempel di jaketnya, menyesakkan paru-paru.


"Jak! Kamudenger Aku nggak sih? Anjir, jawab Aku!" Riko memukul setir, frustrasi.


"Jalan, Rik," jawab Jaka datar. Suaranya serak, nyaris tak terdengar. "Cari tempat yang lebih aman. Signal mereka bakal nge-track mobil ini dalam hitungan menit kalau kita nggak masuk ke zona dead-spot."


"Aku udah tahu! Kita ke bengkel bawah tanah si Ambon. Di sana ada jammer militer," Riko menginjak gas, memacu van itu membelah jalanan IKN yang gemerlap namun dingin. "Sekarang kasih tahu Aku, apa yang Kamutemuin di sana sampai Kamunekat mau mati konyol?"


Jaka tidak menjawab. Dia segera membuka laptop militernya yang tersambung ke datacore. Layar hologram muncul di antara mereka, menampilkan barisan kode yang masih berantakan. Jaka mulai mengetik dengan ritme yang stabil, meski tangannya masih sedikit bergetar.


"Laras, Rik. Laras adalah alasan mereka ngelakuin semua ini," bisik Jaka akhirnya.


"Maksud lo? Mereka nyulik Laras cuma buat mancing lo? Aku udah bilang itu dari awal, Jak!"


"Bukan! Bukan buat mancing Aku!" Jaka menoleh ke arah Riko, matanya memerah. "DNA Laras... dia punya kunci biologis buat Bunda Pertiwi. Sesuatu yang ditanam Ayah kita di dalam tubuh dia. Satya butuh Laras buat dapet kontrol mutlak. Tanpa Laras, Satya cuma punya setengah kunci."


Riko terdiam. Van itu meluncur melewati terowongan bawah tanah yang gelap. "DNA? Jadi adik Kamuitu... semacam dongle hidup buat sistem paling kuat di negara ini? Sialan, itu jahat banget."


"Dan ada lagi," Jaka kembali menatap layar. "Ada satu folder yang terenkripsi dua lapis di balik data Laras. Namanya Arkadia."


Riko mengerem mendadak saat mereka sampai di depan pintu besi besar sebuah bengkel tua. Dia menoleh ke Jaka dengan wajah pucat. "Arkadia? Proyek yang bikin lo... yang bikin Kamucacat lima tahun lalu?"


"Iya. Proyek yang Aku pikir gagal karena kesalahan perhitungan Aku," Jaka mengklik folder itu. Barisan log rahasia mulai terbuka. "Buka pintunya, Rik. Aku harus liat isinya sekarang."


Setelah masuk ke dalam bengkel yang dipenuhi bau oli dan besi tua, Jaka langsung menyambungkan datacore itu ke rig komputasi besar milik Ambon. Layar-layar besar di dinding bengkel menyala, menampilkan data yang selama lima tahun ini terkubur di dasar server Cakra Global.


"Coba liat log ini, Rik," Jaka menunjuk ke sebuah grafik simulasi. "Lihat parameter kegagalannya. Waktu itu, Aku ngerasa sistemnya overload karena Aku terlalu cepat masuk ke inti core. Aku pikir Aku yang ceroboh sampai nyebabin ledakan itu."


Riko mendekat, dahinya berkerut. "Terus? Di sini tulisannya apa?"


"Tulisannya... 'Simulated failure bypass: Satya.D'. Liat tanggalnya. Ini dibuat dua jam sebelum ledakan terjadi. Satya sengaja nyuntikkan virus ke dalam backdoor yang Aku pake," Jaka mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. "Ledakan itu bukan kecelakaan. Itu sabotase."


"Tunggu, maksud KamuSatya sengaja mau ngebunuh Kamudan seluruh tim Arkadia?" Riko tidak percaya. "Kenapa dia harus ngelakuin itu? Kamuitu murid emasnya dia, Jak!"


"Karena dia butuh stress test," jawab Jaka, suaranya kini dipenuhi amarah yang mulai mendidih. "Dia pengen tahu seberapa jauh sistem Bunda Pertiwi bisa nahan guncangan kalau core-nya hancur. Dia butuh kambing hitam buat nutupin eksperimen ilegalnya, dan Aku adalah orang yang paling pas. Dia ngerusak karir Aku, ngebunuh teman-teman Aku, dan bikin Aku hidup jadi hantu selama lima tahun... cuma buat uji coba kerentanan sistem!"


"Anjir... bener-bener setan itu orang," gumam Riko, dia terduduk di kursi plastik yang reyot. "Jadi selama ini Kamunyalahin diri Kamusendiri, Kamudepresi, Kamulari ke lobang tikus... padahal itu semua rencana dia?"


Jaka tidak menjawab. Dia terus menelusuri data itu. Matanya menangkap sebuah skema integrasi baru. "Liat ini, Rik. Kerentanan yang ditemuin di Arkadia lima tahun lalu, sekarang lagi diperbaiki... pake DNA Laras. Dia pake penderitaan Aku dulu buat bikin sistem yang sempurna sekarang, dan Laras adalah bahan bakarnya."


"Jak, sabar... jangan hancurin komputernya!" Riko memegang tangan Jaka yang hampir menghantam layar monitor.

Lihat selengkapnya