"Kamu bener-bener udah nggak waras, Jak! Turunin Aku sekarang kalau Kamu mau mati sendirian! Aku nggak mau jadi saksi mata kehancuran lo!"
Riko membanting laptop cadangannya ke kursi belakang van yang sedang melaju kencang di jalur bawah tanah IKN yang remang. Wajahnya merah padam, urat-urat di pelipisnya menonjol. Di sampingnya, Jaka sama sekali tidak menoleh. Matanya terpaku pada layar utama, jari-jarinya masih menari di atas keyboard, menembus lapisan enkripsi terakhir dari datacore yang dia curi.
"Aku nggak bakal turunin lo, Rik. Kamu satu-satunya orang yang Aku punya sekarang," sahut Jaka, suaranya dingin, nyaris robotik.
"Halah, tai! Kamu cuma butuh sopir buat pelarian lo, kan? Tadi Kamu liat apa di bengkel Ambon? Kamu liat bokap Kamu di video itu! Bokap lo, Jak! Orang yang kita pikir udah mati lima tahun lalu ternyata jadi bagian dari sabotase Arkadia! Kamu nggak ngerasa ada yang aneh apa?"
"Makanya Aku harus buka file terakhir ini, anjir! Diem dulu!" Jaka balas berteriak, suaranya menggelegar di dalam ruang kabin yang sempit.
"Gimana Aku bisa diem? Kita lagi menuju jantung IKN! Jantung Cakra Global! Itu tempat paling bahaya di seluruh Nusantara, dan Kamu cuma bawa modal amarah doang? Kamu mau nyari bokap Kamu atau mau mati konyol?"
Jaka menghentikan ketikannya sebentar, menoleh tajam ke arah Riko. "Aku mau kebenaran, Rik. Kalau bokap Aku emang pengkhianat, Aku yang bakal seret dia sendiri. Tapi ada yang nggak sinkron. Log video tadi... timestamp-nya dimanipulasi. Ada data yang disembunyiin di balik bayangan video itu. Seseorang pengen Aku liat apa yang mereka mau Aku liat."
"Maksud Kamu itu jebakan?" Riko sedikit melambatkan kecepatan van.
"Bukan cuma jebakan. Itu pengalihan isu. Kayak sulap, Rik. Tangan kanan pamer trik, tangan kiri lagi nyolong dompet lo. Satya pinter, tapi dia terlalu sombong buat mikir Aku bakal nembus algoritma double-ghost ini."
"Sialan, jadi video bokap Kamu itu cuma umpan?"
"Mungkin. Aku lagi coba reconstruct data asli di balik file itu sekarang. Hampir... dikit lagi..." Jaka kembali fokus ke layar. Bar kemajuan berwarna hijau tua merayap lambat. 94%... 95%...
"Jak, ada drone patroli di belakang kita! Tipe Sentinel!" Riko melirik spion, wajahnya kembali pucat. Lampu biru-merah berkedip jauh di belakang mereka.
"Banting ke kanan, masuk ke jalur pipa limbah! Di sana ada perisai timah, sinyal mereka bakal loss!" perintah Jaka tanpa menoleh.
"Kamu gila? Jalur itu sempit banget, van ini bisa nyangkut!"
"Lakuin aja atau kita berdua jadi abu di sini!"
Riko memaki keras, lalu membanting setir ke kanan secara ekstrem. Ban mobil berdecit hebat, menghantam trotoar sebelum masuk ke sebuah lubang besar di dinding terowongan. Van itu terguncang hebat, melempar barang-barang di belakang. Jaka hampir terjungkal, tapi tangannya tetap memegangi laptopnya seolah itu adalah nyawanya.
"Aku dapet! Rik, Aku dapet aksesnya!" teriak Jaka di tengah guncangan hebat.
"Syukurlah! Sekarang cari cara buat matiin drone di belakang kita!"
"Bukan itu, Rik... File ini... ini log video asli dari kantor pusat Cakra Global. Tanggalnya... satu minggu yang lalu."
Guncangan van mereda saat mereka masuk ke jalur pipa yang lebih stabil. Cahaya lampu van memantul di dinding logam yang basah. Jaka membuka file video itu. Gambarnya sangat jernih, resolusi tinggi, jauh dari video buram yang mereka lihat di bengkel tadi.
Video itu menunjukkan sebuah ruangan kantor yang sangat mewah di puncak Menara Cakra. Dinding kacanya menampilkan pemandangan IKN dari ketinggian yang luar biasa. Seorang pria duduk di kursi kebesaran, membelakangi kamera. Dia sedang bicara dengan seseorang melalui hologram.
"Kamu denger itu, Rik? Suaranya..." Jaka berbisik, tubuhnya mendadak kaku.
"Suara siapa? Aku cuma denger gumaman," sahut Riko sambil terus waspada pada kemudi.
"Suara pria itu... itu suara yang selama ini ngebimbing Aku pasca kecelakaan Arkadia. Suara yang Aku pikir suara malaikat pelindung Aku ."
Di dalam video, pria itu berdiri dari kursinya. Dia berjalan pelan menuju jendela besar. Gerakannya sangat tenang, sangat berwibawa, persis seperti cara seseorang yang memiliki dunia di telapak tangannya.