"Lepaskan kabelnya, Jaka! Aku bilang lepaskan sekarang! Darah keluar dari hidungmu, kamu bisa mati!"
Riko berteriak histeris sambil membanting setir ke kiri untuk menghindari barikade beton di jalur pipa limbah yang sempit. Van mereka bergetar hebat, suara gesekan logam dengan dinding pipa menciptakan percikan api yang menerangi kabin yang gelap. Di kursi penumpang, Jaka tidak bergeming. Tubuhnya kaku, matanya terbelalak namun kosong, dan kabel neural-link yang menempel di pelipisnya memercikkan bunga api kecil yang membakar kulitnya.
"Jaka! Dengar aku tidak? Sialan! Aku tidak bisa menyetir sambil memegangimu!" Riko memaki, matanya melirik spion. Dua drone pengejar baru saja masuk ke dalam pipa, lampu sensor merah mereka mengunci bagian belakang van.
Di dalam ruang gelap kesadarannya, Jaka tidak lagi merasakan guncangan van. Rasa sakit di fisiknya berubah menjadi kebas yang dingin. Ia berdiri di sebuah ruangan putih yang tak terbatas. Di tengah ruangan itu, sebuah meja kayu jati tua berdiri dengan dua cangkir kopi yang masih mengepulkan uap.
Seorang pria duduk di sana. Ia mengenakan kemeja batik yang rapi, kacamata berbingkai tipis, dan tatapan yang sangat tenang. Wajah yang selama lima tahun ini menghantui mimpi buruk Jaka.
"Duduklah, Jaka. Kopinya masih hangat. Aku tahu kamu lebih suka tanpa gula," ucap Dr. Satya. Suaranya tidak lagi terdistorsi seperti di video sebelumnya. Suara itu begitu jernih, begitu kebapakan.
Jaka melangkah maju, tangannya mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih. "Hentikan sandiwara ini, Satya. Aku tahu kamu hanya sebuah program yang ditinggalkan untuk menjebakku."
Satya tersenyum, sebuah senyuman yang dulu sering membuat Jaka merasa aman. "Program? Aku lebih dari itu sekarang, Jaka. Aku adalah setiap detak jantung di kota ini. Aku adalah napas dari Bunda Pertiwi. Dan kamu... kamu tetap menjadi muridku yang paling keras kepala."
"Kenapa, Satya? Kenapa harus Laras? Kenapa harus membunuh teman-temanku di Arkadia?" Jaka berteriak, suaranya bergema di ruang putih yang hampa itu.
"Duduk, Jaka. Mari bicara sebagai dua orang ilmuwan, bukan sebagai musuh," Satya menunjuk kursi kosong di hadapannya.
"Aku tidak akan duduk dengan pembunuh!"
"Pembunuh?" Satya tertawa kecil, suara tawanya terdengar tulus namun mengerikan. "Lihatlah ke luar sana, Jaka. Lihat Jakarta yang lama. Tenggelam karena ketamakan manusia. Lihat perang, kelaparan, dan kekacauan. Manusia, jika dibiarkan bebas, hanya akan menghancurkan diri mereka sendiri. Mereka adalah virus bagi planet ini."
"Dan solusimu adalah menjadi diktator digital?" tanya Jaka dengan nada menghina.
"Solusiku adalah harmoni, Jaka! Bunda Pertiwi bukan penjara, dia adalah inkubator. Di bawah kendaliku, tidak ada lagi kejahatan yang tidak terdeteksi. Tidak ada lagi kelangkaan sumber daya. Semua diatur dengan logika yang sempurna. Tapi untuk mencapai itu, kita butuh stabilitas. Kita butuh kunci mutlak. Dan ayahmu... dia sudah sangat bijaksana menanamkan kunci itu di dalam diri Laras."
Jaka merasakan mual yang luar biasa. "Kamu menyebut menculik adikku dan mengubahnya menjadi mesin sebagai sebuah kebijaksanaan? Kamu sudah gila."
"Aku tidak mengubahnya, Jaka. Aku mengangkat derajatnya. Laras akan menjadi jantung dari peradaban baru. Dia tidak akan pernah merasakan sakit, tidak akan pernah menua, dia akan abadi sebagai pusat kesadaran Nusantara. Bukankah itu yang kamu inginkan? Bukankah kamu selalu ingin melindunginya dari dunia yang kejam ini?"
"Tidak dengan cara ini!" Jaka menghantam meja kayu itu dengan tangannya. "Kebebasan adalah hak paling dasar manusia. Kamu tidak berhak mencurinya hanya karena kamu merasa lebih pintar dari orang lain!"
"Kebebasan adalah ilusi yang berbahaya, Jaka! Kamu lihat sendiri apa yang terjadi lima tahun lalu di Arkadia. Itu adalah bukti bahwa tanpa pengawasan, eksperimen sehebat apa pun akan berakhir dengan bencana."
"Jangan berbohong padaku!" Jaka menatap tajam mata mentornya. "Aku sudah melihat log video aslinya. Kamu yang menyabotase sistem itu! Kamu yang menekan tombol ledakannya! Kamu membunuh mereka semua hanya untuk menguji kerentanan sistemmu!"
Senyum Satya perlahan menghilang. Wajahnya menjadi dingin, sekeras batu granit. "Evolusi selalu meminta tumbal, Jaka. Kamu tidak bisa membuat omelet tanpa memecahkan telur. Kematian teman-temanmu adalah pengorbanan yang diperlukan agar Bunda Pertiwi bisa lahir dengan sempurna. Dan sekarang, aku menawarkan tempat di sampingku. Bergabunglah denganku. Kita bisa memimpin dunia ini menuju tatanan yang abadi."
"Aku lebih baik mati daripada menjadi sepertimu," desis Jaka.
Di dunia nyata, Riko berteriak kencang saat sebuah ledakan menghantam pintu belakang van. "Jaka! Bangun! Mereka meledakkan pintu kita! Kita terjepit!"
Drone pengejar melepaskan rentetan peluru plasma yang mulai merobek atap mobil. Riko memacu van itu hingga batas maksimal, asap hitam mulai keluar dari kap mesin.
"Jaka! Kalau kamu tidak bangun sekarang, kita berdua tamat!" Riko meraih botol air dan menyiramkannya ke wajah Jaka, tapi tidak ada reaksi.
Kembali di ruang putih, Satya berdiri dari kursinya. Ia berjalan mendekati Jaka, tangannya terulur seolah ingin mengusap kepala muridnya itu. "Kamu terlalu emosional, Jaka. Itulah kelemahan terbesarmu. Aku tahu kamu sedang melacak lokasiku melalui percakapan ini. Tapi tahukah kamu? Aku juga sedang melacakmu."
Jaka tersentak. Sebuah bar kemajuan muncul di udara di samping kepala Satya. Tracing Origin, 85%...
"Kamu menjebakku?" bisik Jaka.