"Aku tidak akan mengikuti kakek ini satu langkah pun lagi, Jaka! Kamu sudah kehilangan akal sehatmu! Kita hampir mati diledakkan misil, dan sekarang kamu mau berlindung di balik lonceng tembaga?"
Suara Riko menggelegar, memantul di dinding gua beton yang lembap. Ia membanting sisa ranselnya ke lantai tanah yang berdebu. Wajahnya merah padam, debu dan jelaga ledakan van tadi masih menempel di pipinya, kontras dengan kilat kemarahan di matanya. Di sudut ruangan yang remang-remang, Ki Sasmita, pria tua yang menyelamatkan mereka, hanya duduk tenang sambil mengelus lonceng tembaganya, seolah-olah teriakan Riko hanyalah suara angin lalu.
Jaka, yang sedang menyeka darah dari hidungnya dengan sobekan kain, menatap Riko dengan tatapan dingin yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Lalu kamu punya ide yang lebih baik, Riko? Kembali ke atas sana? Masuk ke jaringan publik dan membiarkan Satya menghancurkan otak kita dalam hitungan detik?"
"Setidaknya itu masuk akal, Jaka! Itu teknologi! Kita bisa meretas, kita bisa mencari proxy! Bukan malah ikut dukun digital ini!" Riko menunjuk Ki Sasmita dengan tangan gemetar.
"Satya adalah orang yang menciptakan cara kita berpikir, Riko," Jaka melangkah maju, suaranya merendah namun tajam. "Dia yang mengajariku logika biner. Dia yang mengajarimu cara mengemudi di bawah tekanan sistem. Selama kita menggunakan metode yang dia ajarkan, kita hanyalah tikus yang berlari di dalam labirin yang dia bangun. Dia bisa memprediksi setiap baris kode yang aku ketik sebelum aku menekannya!"
"Jadi kamu mau percaya pada 'suara hantu' dan 'resonansi' ini? Kamu ini insinyur, Jaka! Kamu orang paling logis yang aku kenal!"
"Logika itu yang membunuh teman-teman kita di Arkadia, Riko!" Jaka berteriak, suaranya pecah oleh emosi yang tertahan. "Logika itu yang membuat Laras terjebak di dalam tabung sekarang! Aku sudah selesai dengan dunianya Satya. Aku harus mencari jalan yang tidak bisa dia baca. Jalan yang dianggapnya sampah."
Riko terdiam, napasnya memburu. Ia melihat Jaka yang tampak hancur namun memiliki tekad baru yang aneh. "Kamu benar-benar serius? Kamu mau meninggalkan semua yang sudah kita pelajari?"
"Aku sudah meninggalkan segalanya saat van itu meledak," Jaka menoleh ke Ki Sasmita. "Katakan padaku, Kek. Kenapa Satya tidak bisa melihat tempat ini?"
Ki Sasmita tersenyum, menampakkan beberapa gigi yang hilang. "Karena di sini, Nak, tidak ada angka satu atau nol. Tempat ini adalah 'kebisingan' bagi sistemnya. Seperti mencoba mendengar bisikan di tengah badai petir. Satya terlalu terobsesi dengan ketertiban, sehingga dia buta terhadap kekacauan yang murni."
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki ringan dari lorong gelap di belakang gua. Langkah itu berirama, diikuti oleh senandung kecil yang terdengar ganjil di tempat seperti ini.
"Oh, kamu sudah bangun, Pahlawan Penyelamatku yang tampan? Aku baru saja mau mengirimkan 'salam sayang' lewat frekuensi otakmu."
Seorang wanita muncul dari kegelapan. Rambutnya pendek berantakan dengan warna perak yang mencolok, mengenakan jaket oversized penuh kabel dan sensor yang berkedip warna-warni. Di tangannya, ia memegang sebuah konsol kuno yang sudah dimodifikasi habis-habisan.
Jaka mengernyit. "Naya? Kamu yang berada di ventilasi tadi bersama Ki Sasmita?"
Naya melompat kecil, lalu berdiri tepat di depan Jaka. Ia terlalu dekat, membuat Jaka mundur selangkah karena tidak nyaman. "Tentu saja! Siapa lagi yang bisa melakukan overload pada sistem saraf Jagabala dengan lonceng tembaga kalau bukan aku? Kamu ingat kan saat kamu membukakan pintu selku di Pulau Data? Aku bilang aku akan memberikan hatiku padamu, tapi karena hati itu terlalu biologis, aku berikan algoritma resonansiku saja."
"Naya adalah salah satu tahanan yang paling ditakuti Satya," Ki Sasmita menjelaskan. "Dia seorang neuro-linguistik hacker. Dia tidak meretas mesin, dia meretas persepsi mesin terhadap realitas."
"Dan aku juga meretas jantung Jaka yang dingin ini," Naya mengedipkan mata, lalu tiba-tiba menarik kabel yang menggantung di leher Jaka. "Aduh, Jaka, Jaka... Otak binermu ini sangat kuno. Terlalu kaku. Sangat menggemaskan seperti komputer tahun 90-an."
"Lepaskan," Jaka menepis tangan Naya dengan canggung. "Aku menyelamatkanmu supaya kamu membantuku melawan Satya, bukan untuk membedah isi kepalaku atau berkomentar tentang hatiku."
Naya tertawa, suara tawanya terdengar seperti glitch digital yang entah bagaimana terasa merdu. "Kamu tahu, Jaka? Kamu itu seperti baris kode yang rusak tapi sangat ingin diperbaiki. Sangat anti-mainstream. Biasanya orang yang lari dari Satya itu menangis, tapi kamu malah terlihat seperti ingin menelan seluruh server Bunda Pertiwi."
Riko mendengus, mencoba menahan senyum di tengah ketegangannya. "Jaka, sepertinya kamu baru saja menemukan masalah baru yang lebih berbahaya dari Satya."