"Berhenti melawan arusnya, Jaka! Kalau kamu terus mencoba menghitung setiap bit yang lewat, otakmu akan terpanggang!"
Suara Ki Sasmita terdengar seperti guntur yang bergema di dalam batok kepala Jaka, bukan lewat telinga. Jaka mengerang, tubuhnya melengkung kaku di atas lantai tembaga yang dingin. Di sekelilingnya, stupa-stupa yang terbuat dari tumpukan server tua menderu kencang, mengeluarkan uap nitrogen cair yang dingin namun berbau tajam seperti amonia. Cahaya mandala hologram di langit-langit kuil digital itu berkedip liar, memproyeksikan kode-kode kuno yang tidak terbaca dalam warna ungu yang menyakitkan mata.
"Aku tidak bisa, rasanya seperti ribuan jarum masuk ke mataku!" Jaka berteriak, suaranya parau. Jari-jemarinya mencakar lantai, berusaha mencari pegangan di tengah badai sensorik yang menghantamnya.
"Itu karena kamu masih memakai logika binermu yang kaku itu!" Naya muncul di depan wajah Jaka, berjongkok sambil mengunyah permen karet dengan santai, meski matanya memancarkan kekhawatiran yang coba ia sembunyikan. "Lepaskan ego insinyurmu, Jaka. Data ini tidak ingin dibaca, dia ingin dirasakan. Seperti kamu merasakan, em, cintaku?"
"Bisa fokus tidak?" Jaka terengah-engah, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
"Aku sangat fokus! Fokus melihat betapa menyedihkannya kamu sekarang," Naya menjulurkan lidahnya, lalu tiba-tiba ia menempelkan telapak tangannya yang hangat ke dada Jaka. "Rasakan detak jantungmu. Jangan hitung frekuensinya. Rasakan saja ritmenya. Jangan coba menerjemahkan kodenya, biarkan kode itu mengalir lewat darahmu."
Jaka mencoba memejamkan mata, tapi yang ia lihat justru lebih mengerikan. Warna-warna yang tidak memiliki nama di dunia nyata berkelebat cepat. Ia mendengar suara tawa Laras yang bercampur dengan tangisan mesin, sebuah feedback kuantum yang terasa seperti gergaji mesin yang membelah kesadarannya.
"Argh! Laras! Aku melihat Laras!" Jaka menjerit. Ia memaksakan pikirannya untuk "menangkap" bayangan adiknya di tengah arus data.
"Jangan dikejar! Kamu akan menarik beban sistem ke arahmu!" Ki Sasmita memperingatkan, tapi terlambat.
Tiba-tiba, suara dengungan frekuensi tinggi meledak di dalam ruangan. Seluruh lampu di kuil itu pecah seketika. Jaka terpental sejauh tiga meter, menghantam salah satu stupa-server dengan keras. Darah segar menyembur dari hidungnya, dan kesadarannya nyaris padam.
"Jaka!" Naya menghambur ke arahnya, kepanikan kini jelas terdengar di suaranya.
"Woi! Ini ritual atau percobaan pembunuhan?" Riko muncul dari balik bayang-bayang, memegang alat pemadam api dengan wajah pucat pasi. "Kakek tua, kamu bilang tempat ini aman! Itu barusan apa? Hampir saja kepalanya meledak seperti popcorn!"
Ki Sasmita menghela napas panjang, mematikan lonceng tembaganya yang masih bergetar. "Dia mencoba memaksakan kehendaknya pada aliran data. Di dunia ini, niat adalah perintah, tapi keinginan adalah racun. Dia terlalu bernafsu ingin menyelamatkan adiknya, sampai lupa bahwa dia sendiri masih terbelenggu oleh logika."
Naya mengangkat kepala Jaka ke pangkuannya. Ia menyeka darah di wajah Jaka dengan ujung jaketnya yang penuh sensor. "Kamu bodoh ya? Kamu pikir bisa menaklukkan kuantum hanya dengan modal nekat?"
Jaka membuka matanya perlahan. Dunianya masih berputar. "Aku biasanya bisa meretas apa saja. Kenapa yang satu ini, aku merasa seperti bayi yang tidak tahu cara merangkak?"
"Karena memang kamu masih bayi di sini, Sayang," Naya mencubit pipi Jaka dengan gemas, sebuah tindakan yang membuat Riko melongo di pojok ruangan. "Kamu merasa frustrasi karena egomu sebagai 'Si Dalang' terluka, kan? Kamu benci merasa tidak kompeten."
"Aku tidak suka menjadi beban," gumam Jaka, ia mencoba duduk tapi kepalanya terasa seperti dihantam palu godam.