"Kamu ingin kami bertaruh nyawa di bawah komandomu? Jangan bercanda, Jaka. Kamu baru saja hampir meledakkan otakmu sendiri hanya karena mencoba menyentuh frekuensi dasar. Bagaimana mungkin seorang amatir yang kaku seperti kamu bisa memimpin kami?"
Suara itu berat dan berwibawa, datang dari seorang pria paruh baya dengan jenggot perak yang rapi bernama Mada. Ia adalah seorang filsuf terapan yang pernah mengepalai departemen etika kuantum sebelum Satya membuangnya ke Pulau Data. Mada berdiri di tengah ruangan kuil digital, menatap Jaka dengan tatapan merendahkan. Di belakangnya, belasan orang lainnya, para ilmuwan, seniman, dan pemikir yang dibebaskan Jaka, berbisik-bisik ragu.
Jaka, yang masih duduk bersandar pada tumpukan server dengan perban di pelipisnya, menarik napas panjang. "Aku tidak meminta kalian bertaruh nyawa untukku. Aku meminta kalian bertaruh nyawa untuk apa yang Satya curi dari kalian."
"Bicara memang mudah," sahut seorang wanita muda dengan rambut dicat warna pelangi yang tampak berantakan. Ia adalah Sora, seorang seniman instalasi yang mampu menerjemahkan radiasi elektromagnetik menjadi simfoni visual. "Tapi kami melihat spektrum jiwamu tadi, Jaka. Sangat abu-abu. Sangat biner. Kamu tidak punya warna yang dibutuhkan untuk menembus pertahanan Bunda Pertiwi yang sekarang sudah bermutasi."
"Hei! Berhenti merundung kesayanganku!" Naya tiba-tiba melompat ke depan Jaka, berkacak pinggang dengan wajah yang dibuat seseram mungkin, meskipun jatuhnya malah terlihat menggemaskan. "Dia memang sedikit kaku, oke? Mungkin seleranya agak membosankan dan dia terlalu sering menghitung langkahnya, tapi dialah yang membuka pintu sel kalian! Tanpa dia, kalian masih akan membusuk di Pulau Data sambil menghitung kecoa!"
"Naya, sudah..." gumam Jaka, merasa telinganya mulai memerah karena pembelaan Naya yang terlalu eksplosif.
"Tidak bisa! Mereka harus tahu kalau kamu itu spesial!" Naya berbalik, lalu tiba-tiba mencium kening Jaka yang terbalut perban dengan suara cup yang keras. "Dia punya arsitektur Arkadia di kepalanya! Kalian semua mungkin punya 'sihir', tapi dia adalah tongkat sihirnya! Tanpa dia, kekuatan kalian hanya akan menjadi sampah data yang menguap di udara!"
Riko, yang sedang mencoba memakan sesuatu yang mirip biskuit tapi berbau seperti dupa di sudut ruangan, langsung tersedak. "Aduh! Bisa tidak kalian melakukan adegan drama Korea itu nanti saja? Tenggorokanku rasanya seperti menelan kabel tembaga!"
Mada mengerutkan kening, menatap interaksi aneh itu dengan dahi berkerut. "Arsitektur Arkadia? Kamu serius, Naya?"
"Tanya saja pada kakek tua itu kalau tidak percaya!" Naya menunjuk Ki Sasmita yang sedang tenang menyeduh teh di pojok ruangan.
Ki Sasmita mengangguk perlahan. "Jaka adalah 'perangkat keras' yang hilang. Kalian semua adalah 'perangkat lunak' yang terlalu canggih untuk dijalankan di mesin biasa. Satya tahu itu, makanya dia memisahkan kalian. Jaka memiliki struktur dasar yang bisa menahan beban resonansi kalian tanpa hancur. Kegagalannya tadi bukan karena dia lemah, tapi karena dia mencoba menjadi kalian, bukannya menjadi wadah bagi kalian."
Jaka berdiri dengan susah payah, menepis tangan Naya yang mencoba membantunya. Ia menatap Mada dan Sora bergantian. "Aku tidak tahu cara melukis kode seperti Sora. Aku juga tidak punya kedalaman pemikiran seperti Anda, Mada. Tapi aku tahu cara kerja pondasi Bunda Pertiwi karena aku yang ikut membangunnya bersama Satya. Aku tahu celah terkecil di mana logika mesin bertemu dengan intuisi manusia."
"Dan apa rencanamu?" tanya Mada, nada suaranya sedikit melunak.
"Kita akan membentuk 'Bayangan Panggung'. Sebuah tim yang tidak bergerak di jalur peretasan konvensional. Kita akan menyerang Satya dari sudut yang dia anggap mustahil. Kita akan menggunakan musik, warna, filosofi, dan doa untuk mengacaukan frekuensi Bunda Pertiwi," jawab Jaka mantap.
"Itu terdengar sangat tidak ilmiah," Sora terkikik, namun matanya mulai berbinar. "Aku suka. Aku bosan melihat dunia yang hanya berisi warna biru dan hitam milik Cakra Global."
"Aku setuju dengan satu syarat," Mada melangkah maju, menjabat tangan Jaka. "Jangan pernah anggap kami sebagai bawahan. Kami adalah rekan. Dan jika suatu saat logikamu mulai membahayakan nyawa kami demi tujuan pribadimu, aku sendiri yang akan memutus koneksimu."
"Sepakat," ujar Jaka.
Naya tiba-tiba memeluk lengan Jaka dengan posesif. "Nah! Sekarang karena kita sudah jadi tim, panggil aku 'Nyonya Komandan', oke?"
"Naya, lepaskan. Ini serius," desis Jaka, mencoba melepaskan lengannya namun Naya malah semakin erat memeluknya.