Nusantara Cyber

Farikha Salsabilla Putri
Chapter #33

Menempa Kode Jiwa

"Berhenti mencoba menjebol pintu belakang itu dengan brute-force, Jaka! Kamu seperti mencoba mendobrak kabut menggunakan martil besi. Bodoh dan sia-sia!"

Naya membanting konsol genggamnya ke atas meja logam yang berkarat, menciptakan suara dentang yang memekakkan telinga di dalam bunker sempit Sektor 9 itu. Napasnya memburu, matanya yang tajam menatap Jaka dengan campuran antara rasa gemas dan frustrasi. Di depannya, Jaka tertunduk lesu, pelipisnya masih berdenyut karena feedback data yang baru saja menolaknya secara kasar.

"Aku hanya mengikuti protokol keamanan yang logis, Naya. Sistem itu punya struktur, dan struktur itu punya celah!" Jaka membela diri, meskipun suaranya terdengar lemah.

"Struktur itu sudah mati sejak kamu masuk ke wilayah kuantum, Sayang!" Naya melangkah maju, kini jarak wajahnya hanya beberapa senti dari Jaka. Aroma permen karet stroberi dan uap nitrogen cair tercium dari napasnya. "Di sini, kodenya bernapas. Kodenya punya perasaan. Kalau kamu datang dengan niat 'menghancurkan' atau 'menjebol', sistem itu akan mengeraskan dirinya seperti baja. Kamu harus merayu sistem itu, bukan memerkosanya!"

"Merayu sebuah algoritma? Kamu benar-benar sudah gila," gumam Jaka sambil memijat pangkal hidungnya.

"Iya, aku gila! Gila karena harus melatih orang paling kaku di seluruh Nusantara!" Naya tiba-tiba menarik kabel neural-link dari jaket Jaka dan menancapkannya ke porta di belakang telinganya sendiri. "Ayo, kita lakukan sinkronisasi saraf. Jangan membantah. Ini satu-satunya cara supaya kamu paham apa itu 'Mantra Komputasi'."

"Tunggu, Naya! Sinkronisasi saraf itu berbahaya kalau frekuensinya tidak…"

"Berisik! Link start!"

Jaka tersentak. Kepalanya seolah ditarik masuk ke dalam pusaran air raksasa. Pandangannya memutih, lalu perlahan berubah menjadi ruang abstrak di mana pikiran mereka menyatu. Di sini, Jaka bisa melihat isi kepala Naya, dan sebaliknya.

"Waduh, Jaka, pikiranmu kenapa bentuknya kotak-kotak semua? Sangat, em, membosankan. Persis seperti apartemen subsidi," suara Naya bergema di dalam kesadaran Jaka, diikuti tawa kecil yang nakal.

"Naya! Keluar dari area memori pribadiku!" Jaka panik. Ia mencoba membangun dinding pembatas, tapi di dunia ini, semakin ia mencoba membentengi diri, semakin ia terlihat transparan bagi Naya.

"Eh? Apa ini? 'Daftar belanja bulanan tahun 2028'? Kamu bahkan menyimpan data struk belanjaan lama? Kamu benar-benar, eh, tunggu. Apa itu?"

Naya tiba-tiba tertarik pada sebuah fragmen memori yang tersimpan di pojok gelap otak Jaka. Jaka mencoba menutupinya, tapi memori itu menyeruak keluar seperti bendungan yang jebol.

Lima tahun lalu, di teras rumah mereka yang sederhana.

Laras sedang duduk di lantai, dikelilingi oleh buku-buku tua yang halamannya sudah menguning. Ia sedang menggambar sebuah simbol rumit, perpaduan antara fraktal matematika dan aksara kuno.

"Kak, lihat deh. Serat kuno ini bilang kalau dunia itu sebenarnya cuma nyanyian yang belum selesai. Kode digital kita itu cuma bayangan dari mantra yang lebih besar," ucap Laras dengan mata berbinar.

Jaka yang sedang sibuk dengan laptopnya hanya melirik sekilas, lalu mendengus. "Laras, simpan takhayul itu. Fokus saja belajar algoritma Python-mu. Masa depan itu dibangun di atas angka pasti, bukan coretan tidak jelas seperti itu. Itu cuma membuang waktu."

Laras terdiam, senyumnya memudar. Ia menutup bukunya perlahan. "Tapi Kak, angka pasti itu tidak punya jiwa. Bagaimana kalau suatu saat angka-angkamu gagal menyelamatkanmu karena mereka tidak punya perasaan?"

"Jangan bicara sembarangan. Angka tidak pernah gagal. Manusia yang gagal," jawab Jaka dingin, tanpa menoleh.

Lihat selengkapnya