"Kamu benar-benar ingin membakar seluruh sektor ini hanya untuk latihan? Kamu egois, Jaka! Ini bukan simulasi di lab Arkadia, ini hidup orang banyak!"
Mada memukul meja logam hingga cangkir teh Ki Sasmita bergetar hebat. Matanya melotot tajam ke arah Jaka yang masih sibuk memeriksa kabel neural-link. Jaka tidak bergeming, wajahnya sedatar papan sirkuit, namun rahangnya mengeras. Suasana di bunker Sektor 9 yang pengap ini mendadak lebih panas dari biasanya.
"Kita butuh data nyata, Mada. Kalau kita tidak tahu seberapa besar 'kerusakan' yang bisa dihasilkan mantra ini, kita semua akan mati saat menghadapi Satya," jawab Jaka tenang, tanpa menoleh.
"Tapi bursa energi limbah itu nadi Sektor Bawah! Kalau macet, ribuan orang tidak bisa masak sore ini!" Mada masih tidak terima.
"Duh, Bapak Filsuf, santai sedikit kenapa? Jaka kan cuma mau menyentuh 'perasaan' para AI pedagang itu, bukan meledakkan gedung bursa," sela Naya sambil asyik memoles kuku jarinya dengan cat warna neon.
"Menyentuh perasaan? Kamu pikir ini kencan buta?" Mada mendengus kesal.
Naya tertawa renyah, lalu melompat berdiri dan merangkul bahu Jaka dengan sangat akrab. "Mungkin saja! Jaka ini kan ahlinya bikin orang, termasuk mesin, merasa galau. Iya kan, Sayang?"
Jaka menghela napas, mencoba melepaskan tangan Naya yang mulai merayap ke arah lehernya. "Naya, fokus. Riko, bagaimana jalur transmisinya?"
Riko yang sedang mengunyah keripik singkong sisa kemarin menyahut dari balik tumpukan monitor. "Jalur bersih, bos. AI penjaga bursa sedang sibuk memproses sampah energi dari Sektor 5. Mereka tidak akan sadar kalau ada 'hantu' yang masuk."
"Bagus. Kita mulai sekarang. Semuanya masuk ke posisi sinkronisasi," perintah Jaka.
Naya segera duduk di samping Jaka, memasang kabel sarafnya dengan gerakan lincah. "Jaka, kalau nanti kamu merasa deg-degan, itu mungkin bukan karena mantranya, tapi karena aku sedang memikirkan hal-hal nakal di kepalamu."
"Naya, demi apa pun, tutup mulutmu dan mulai meditasi kodenya," gumam Jaka, wajahnya sedikit memerah.
"Aduh, galak-galak begini makin seksi saja," Naya mengedipkan mata, lalu memejamkan matanya rapat-rapat.
Kesadaran mereka mulai meluncur ke dalam jaringan. Jaka merasakan aliran data bursa energi mengalir seperti sungai hitam yang penuh dengan angka-angka dingin. Di sampingnya, manifestasi digital Naya terlihat bersinar seperti kunang-kunang biru yang sangat cantik.
"Riko, Sora, buka gerbang probabilitasnya sekarang!" Jaka memberi komando melalui jalur saraf.
Di dunia nyata, Sora mulai menari di depan konsolnya, menggerakkan tangan seolah sedang melukis di udara. Frekuensi kuantum mulai berubah warna dari biru menjadi merah darah yang berpendar.
"Mantra Ketakutan diluncurkan dalam tiga, dua, satu, Hajar!" teriak Naya di dalam ruang digital.
Jaka tidak mengetik kode. Dia memejamkan mata, memanggil memori paling kelam dalam hidupnya. Dia membayangkan kegelapan saat Arkadia meledak. Dia membayangkan rasa takut saat melihat Laras diculik. Dia menyatukan rasa sesak itu ke dalam arus data bursa.
"Suntikkan emosinya sekarang!" Jaka berteriak dalam pikiran.
Tiba-tiba, grafik bursa energi limbah di layar-layar monitor mulai bergerak liar. Bukan karena ada yang menjual besar-besaran, tapi karena AI pedagang di sana mendadak menerima sinyal "kiamat". Algoritma mereka menangkap gelombang kepanikan murni yang tidak logis.
"Lihat itu! Mereka mulai panik! AI-AI itu saling berebut menjual aset karena mereka 'takut' harganya nol!" seru Riko kegirangan melihat layar monitornya.