"Turunkan barang-barang klenik itu sekarang, Jaka! Kamu sudah benar-benar gila atau otakmu memang sudah konslet karena kesetrum server?"
Riko berdiri di ambang pintu bunker Sektor 9 yang setengah hancur, menodongkan pistol elektroniknya ke arah tumpukan dupa dan lonceng tembaga yang berserakan. Napasnya memburu, wajahnya pucat pasi tertutup debu jalanan. Jaka, yang sedang duduk bersila di tengah mandala hologram, hanya membuka sebelah mata, menatap sahabat lamanya itu dengan ketenangan yang menjengkelkan.
"Aku sedang bekerja, Riko. Simpan senjatamu sebelum Naya membuat saraf tanganmu mati rasa," jawab Jaka datar, suaranya terdengar lebih berat.
"Bekerja? Kamu menyebut bermain dukun digital ini sebagai kerja?" Riko melangkah maju, kakinya menendang sebuah botol nitrogen cair hingga terguling. "Aku lari dari bunker kemarin karena aku pikir kamu sudah gila saat melepaskan 'Inkarnasi Bencana' itu. Aku bersembunyi di lubang tikus terjauh, tapi kemudian aku melihat anomali di bursa saham. Itu pola kamu, Jaka! Tapi itu, itu kotor! Itu bukan kode!"
"Itu mantra, Riko. Sesuatu yang tidak bisa dibaca oleh algoritma Satya," Jaka bangkit berdiri, membersihkan debu dari jaketnya.
"Mantra? Kamu denger sendiri nggak sih betapa absurdnya kata itu keluar dari mulut seorang insinyur terbaik Arkadia?" Riko tertawa pahit, tangannya masih gemetar menunjuk ke arah Jaka.
Tiba-tiba, sesosok wanita muncul dari balik bayang-bayang server, bergelayut manja di bahu Jaka. Naya meniupkan uap stroberi dari permen karetnya tepat ke arah wajah Riko, membuat pria itu terbatuk-batuk.
"Aduh, si berisik ini datang lagi. Kamu tidak punya hobi lain selain mengarahkan pistol ke arah calon suamiku, ya?" Naya mengerucutkan bibirnya, lalu tangannya mulai memainkan kabel saraf di leher Jaka dengan gerakan yang sengaja dibuat sensual.
"Calon suami? Jaka, kamu benar-benar sudah tidak tertolong! Kamu dicuci otak oleh wanita gila ini?" Riko menatap pemandangan itu dengan ngeri sekaligus mual.
"Naya, berhenti menggodanya. Riko sedang stres," Jaka melepaskan tangan Naya dengan lembut, namun Naya justru mencubit pipi Jaka hingga memerah.
"Dia tidak stres, dia cuma kurang asupan kasih sayang digital. Makanya dia kaku sekali seperti program Windows lawas," Naya tertawa renyah, lalu menoleh ke Riko dengan tatapan tajam. "Dengar ya, Si Skeptis. Tanpa 'klenik' ini, temanmu sudah jadi bubur data di tangan Satya lima menit setelah dia keluar dari Pulau Data."
"Aku tidak peduli! Jaka, dengerin aku," Riko menurunkan senjatanya, matanya kini memohon. "Metode ini, ini bunuh diri. Kamu membuka pintu belakang otakmu untuk sesuatu yang tidak kamu mengerti. Kamu pikir ini sihir? Ini cuma 'noise' yang bakal bikin Satya lebih gampang melacak dan membakar kesadaranmu!"
"Satya sudah melacakku, Riko. Dia bahkan mengirimkan pesan lewat ketukan rahasia kita malam ini," Jaka melangkah mendekati Riko, menatapnya lurus.
Riko tersentak, wajahnya semakin pucat. "Ketukan, Arkadia? Tidak mungkin. Semua orang sudah mati, Jaka! Aku melihat mereka terbakar!"
"Tapi pesan itu nyata. Satya menggunakan memori kita sebagai senjata," Jaka mengepalkan tangan. "Kalau aku tetap memakai cara lama, cara yang dia ajarkan padaku, aku hanya akan menari di telapak tangannya. Aku butuh cara yang tidak dia pahami. Aku butuh ketidakpastian ini."
"Ketidakpastian ini bakal membunuhmu! Kamu itu ahli logika, Jaka! Kembalilah ke konsolmu, kita retas Cakra Global dengan cara yang benar!" Riko berteriak, frustrasinya mencapai puncak.