"Tembak saja kepalanya, Jaka! Cepat! Sebelum bilah logam itu memotong leher kita semua!"
Riko berteriak histeris sambil merangkak mundur, menjauh dari sosok yang menyerupai Ayah Jaka. Sosok itu berdiri kaku, matanya yang biru neon berkedip-kedip seperti lampu jalanan yang rusak. Udara di bunker Sektor 9 mendadak berbau hangus dan ozon, sementara getaran frekuensi rendah membuat gigi mereka gemertak.
"Itu ayahku, Riko! Aku tidak bisa menembaknya begitu saja!" Jaka membalas dengan teriakan yang tak kalah kencang.
"Itu bukan ayahmu, Bodoh! Itu cuma zombi digital yang dibungkus daging hasil kloning!" Riko memaki sambil mencoba meraih pistol elektroniknya yang tergeletak di lantai.
Naya tiba-tiba melompat ke depan Jaka, memegang lonceng tembaga Ki Sasmita yang sekarang berpijar terang. "Jaka, dengarkan aku! Dia sedang menyedot kesadaranmu! Kalau kamu tidak memutus koneksinya sekarang, kamu akan terseret ke dalam neraka Bunda Pertiwi bersamanya!"
Jaka memejamkan mata, merasakan denyut nadi di pelipisnya yang hampir pecah. Ia tidak menarik pelatuk pistolnya, melainkan merentangkan tangan kanannya ke depan. Ia memanggil mantra "Kode Jiwa" yang paling kasar, sebuah frekuensi resonansi yang ia beri nama Lullaby for the Dead.
"Maafkan aku, Yah," bisik Jaka pelan di tengah kekacauan.
Gelombang biru transparan keluar dari telapak tangan Jaka, menghantam sosok di depannya. Sosok itu menjerit, suara yang terdengar seperti ribuan modem tua yang sedang dial-up secara bersamaan, lalu mendadak lemas. Bilah logam di tangannya mencair kembali menjadi genangan perak, dan sosok itu tumbang dengan debuman keras di lantai tanah.
"Mati, dia benar-benar mati?" Riko bertanya dengan napas tersengal-sengal, wajahnya pucat pasi.
"Dia hanya tidur, Riko. Sinyal Satya di dalam sarafnya berhasil kupaksa masuk ke dalam loop tanpa akhir," Jaka menjawab dingin, meski tangannya gemetar hebat.
Naya segera menghampiri Jaka, tanpa permisi ia langsung memeluk pinggang Jaka dan menyandarkan kepalanya di dada pria itu. "Dadamu berisik sekali, Jaka. Jantungmu sedang memainkan musik heavy metal ya? Sangat tidak estetik buat kesehatan."
"Naya, lepaskan. Kita harus segera pindah sebelum Satya mengirimkan unit yang lebih berat," Jaka mencoba mendorong Naya pelan, tapi gagal.
"Tidak mau! Aku sedang mengisi daya emosional. Tadi itu menakutkan tahu!" Naya mendongak, lalu tiba-tiba menjilat pipi Jaka yang terkena percikan oli. "Huwek, rasanya pahit! Kamu kurang makan sayur ya?"
"Naya! Berhenti melakukan hal absurd di tengah situasi hidup dan mati!" Jaka mendengus kesal, wajahnya memerah karena malu di depan Riko.
Riko bangkit berdiri, membersihkan celananya sambil menggerutu panjang pendek. "Oke, fiks. Aku resmi terjebak dengan pasangan dukun gila. Jaka, aku setuju membantumu. Bukan karena aku percaya pada mantra konyolmu, tapi karena melihat zombi bokapmu tadi membuatku sadar kalau Satya itu memang psikopat level dewa."