"Hentikan sekarang juga, Jaka! Kamu lihat apa yang terjadi di Sektor 4? Kereta maglev baru saja saling hantam karena sinyal jalurnya kamu putar balik secara paksa!"
Mada berteriak tepat di depan wajah Jaka, membuat Pusat Komando Darurat di bawah tanah Sumbu Kebangsaan ini bergetar. Jaka tidak bergeming, matanya terpaku pada puluhan layar hologram yang menampilkan kehancuran IKN. Aroma uap nitrogen dan kopi instan memenuhi ruangan sempit yang penuh dengan server bergerak ini. Anggana Wirasraya, sang teknisi buta yang baru mereka temui setelah evakuasi maut di terowongan, duduk tenang di sudut sambil mendengarkan simfoni data melalui sensor sarafnya.
"Ini bukan soal kereta, Mada. Ini soal bandwidth. Satya butuh sepuluh persen kekuatannya untuk mengurus tabrakan itu," jawab Jaka dingin, jarinya terus menari di atas konsol virtual.
"Sepuluh persen? Nyawa orang di dalam kereta itu bukan statistik, Jaka! Kamu mulai menjadi monster yang sama dengan Satya!" Mada memukul meja, wajahnya memerah padam.
"Aku melakukan apa yang perlu dilakukan. Kalau tidak ada distraksi masif, Anggana tidak bisa menyelinap ke jalur pribadi Satya. Riko, bagaimana bursa energi?" Jaka mengalihkan pandangannya tanpa sedikit pun rasa menyesal.
Riko, yang masih memakai perban di kepala akibat kecelakaan van kemarin, mengunyah kacang atom dengan suara berisik. "Hancur total, Bos. Aku baru saja memerintahkan drone pengantar pizza di Sektor 1 untuk menjatuhkan pesanan mereka ke atas mobil patroli Jagabala. Lucu sekali melihat robot-robot itu tertutup keju mozzarella."
"Bagus. Naya, bagaimana dengan sistem periklanan kota?" Jaka bertanya lagi.
Naya tidak langsung menjawab. Ia sedang asyik melakukan gerakan tarian aneh mengikuti irama glitch digital di monitornya. Ia mengenakan bando telinga kucing yang berpendar warna neon, kontras dengan suasana perang siber yang suram. Ia menoleh ke arah Jaka, lalu memberikan ciuman jauh yang membuat Jaka hampir salah menekan tombol perintah.
"Selesai, Kapten Sayang! Sekarang semua hologram iklan di pusat kota tidak lagi memamerkan mobil mewah atau apartemen mahal. Aku menggantinya dengan bait-bait puisi 'Serat Centhini'. Satya pasti pusing mencari tahu kenapa sistemnya mendadak jadi sangat puitis dan mistis," Naya tertawa renyah, lalu kembali mengetik dengan kecepatan gila.
"Naya, ini bukan waktunya bermain-main," gumam Jaka, wajahnya sedikit memerah.
"Siapa yang bermain? Aku serius tahu! Jaka, mukamu kalau sedang panik begitu bikin aku ingin instal ulang hati kamu biar isinya cuma ada folder fotoku saja," Naya menjulurkan lidahnya, membuat Riko tersedak kacang atomnya.
"Ugh, bisa tidak kalian tidak pacaran dulu sementara kota ini sedang hancur? Aku merasa seperti nyamuk di tengah medan perang," gerutu Riko sambil membersihkan remah kacang di bajunya.
"Iri bilang bos! Makanya, cari pacar, jangan cuma pacaran sama kabel fiber optic terus," Naya membalas sambil tetap fokus pada layarnya.
Jaka kembali menatap layar utama yang menampilkan peta Sektor 2. Sebuah ambulans terlihat terjebak di tengah kemacetan karena sistem lampu lalu lintas yang ia acak. Jaka merasakan dadanya sesak. Ada pertempuran hebat di dalam kepalanya antara kebutuhan strategis dan kemanusiaan yang tersisa.
"Anggana, berapa lama lagi sampai celah itu terbuka?" tanya Jaka, suaranya sedikit bergetar.
Anggana Wirasraya mengangkat wajahnya yang pucat, matanya yang buta menatap ke arah yang kosong. "Bunda Pertiwi sedang menjerit, Jaka. Dia bingung memproses jutaan anomali yang kamu buat. Tapi Satya mulai beradaptasi. Dia sedang memotong jalur komunikasi warga sipil untuk menghemat energi pertahanan. Kamu punya waktu tiga menit sebelum ambulans itu terjebak selamanya."
"Tiga menit? Itu tidak cukup! Jaka, kembalikan sinyal lampu lalu lintas itu sekarang!" Mada kembali mendesak, tangannya mencengkeram bahu Jaka.
Jaka melihat layar ambulans itu lagi. Di dalamnya, seorang anak kecil terlihat pucat di atas tandu. Jaka teringat pada Laras. Rasa bersalah menghantamnya seperti palu godam. Ia menutup mata sejenak, mencoba menyeimbangkan resonansi mantranya.