Nusantara Cyber

Salsabilla Kim
Chapter #38

Serangan Balik Jagabala

"Tekan tombolnya, Jaka! Jangan cuma diam melihat hologram palsu itu merayap di depan matamu! Tekan atau kita semua mati jadi rongsokan!"


Mada berteriak histeris sambil memegang lengannya yang berdarah akibat serpihan ledakan server. Di depannya, Jaka mematung, jarinya bergetar hanya beberapa milimeter dari tombol pemutus listrik total IKN. Hologram Laras yang bermata hitam pekat itu tersenyum, membisikkan kata-kata manis yang menyedot kewarasan Jaka.


"Jaka, awas!" Naya menjerit kencang.


Cakram hitam dari Jagabala-syaman meluncur deras membelah udara bunker yang pengap. Naya tidak menunggu perintah, ia menerjang Jaka, mendorong tubuh pria itu hingga terguling ke lantai tanah. Suara sreet tajam terdengar saat cakram itu mengiris bahu Naya, merobek jaket sensornya dan menyipratkan darah segar ke wajah Jaka.


"Naya! Kamu berdarah!" Jaka tersentak bangun, kemarahannya meledak seketika melihat Naya meringis kesakitan.


"Cuma lecet sedikit, Sayang. Jangan manja, cepat urus robot-robot bau baut itu!" Naya mencoba tertawa meski wajahnya pucat pasi. Ia menyeka darahnya, lalu menjilat jemarinya sendiri dengan gaya absurd. "Hmm, darahku rasanya seperti baterai bocor, mungkin aku kebanyakan minum soda."


"Bisa-bisanya kamu bercanda saat bahumu robek!" Riko memaki sambil menembakkan pistol elektromagnetiknya ke arah Jagabala yang mulai mendekat.


Tiba-tiba, suara nyanyian Laras yang merdu berubah menjadi dengungan statis yang menyakitkan. Tiga unit Jagabala baru meluncur masuk dari lubang atap, namun mereka tidak menyerang secara fisik. Kristal di dada mereka berpendar ungu gelap, memancarkan gelombang frekuensi yang mematikan.


"Peredam Kuantum!" Anggana Wirasraya berteriak, ia merangkak menuju konsol yang masih utuh. "Satya menggunakan gelombang anti-resonansi! Mantra kita tidak akan mempan, Jaka! Dia sudah menemukan frekuensi pembatalnya!"


Jaka mencoba memanggil mantra Kode Jiwa, namun setiap kali ia mencoba beresonansi, kepalanya serasa dihantam palu godam. Arus datanya mental, ditolak mentah-mentah oleh perisai logika biner Satya yang sudah dimodifikasi.


"Aku tidak bisa masuk! Kepalaku mau pecah!" Jaka mengerang, jatuh berlutut sambil memegangi pelipisnya.


"Jaka, dengarkan aku!" Naya merangkak mendekat, menangkup wajah Jaka dengan tangannya yang berlumuran darah. "Jangan lawan logikanya. Masuk lewat jalur bawah sadar. Anggana, bantu Jaka! Lakukan sinkronisasi saraf ganda sekarang!"


Anggana Wirasraya mengangguk cepat, ia mencolokkan kabel sarafnya langsung ke porta di belakang kepala Jaka. "Aku akan menjadi jangkar-mu, Jaka. Aku akan menahan beban logikanya, kamu yang menyusup!"


"Tapi Anggana, otakmu tidak akan kuat menahan beban peredam itu sendirian!" Sora memperingatkan dengan ngeri.


"Aku sudah tua dan buta, Sora. Biarkan aku melakukan satu hal yang berguna!" Anggana berteriak, wajahnya mulai membiru karena tekanan listrik yang luar biasa.


Pertempuran berpindah ke dunia maya secara brutal. Jaka merasakan kesadarannya ditarik masuk ke dalam labirin hitam yang dingin. Di sana, ia melihat tembok-tembok logika biner raksasa yang bergerak seperti gergaji, siap memotong setiap intuisi kuantum yang ia lemparkan.


Lihat selengkapnya