Nusantara Cyber

Salsabilla Kim
Chapter #39

Suara Rakyat

"Lihat mahakaryamu, Jaka! Darah mengalir di aspal Sektor 4 hanya karena namamu diteriakkan oleh orang-orang bodoh itu!"


Satya meludah ke arah layar hologram raksasa yang memenuhi dinding ruang kontrol Menara Cakra. Di atas kursi logam yang dialiri arus listrik statis, Jaka meronta dengan napas tersengal, kabel neural-link memaksa matanya tetap terbuka. Di layar, ribuan warga IKN turun ke jalan, membakar barikade Jagabala sambil memakai pin merah berbentuk mata yang menangis, simbol yang Naya buat.


"Aku tidak pernah meminta mereka melakukan ini, Satya! Kamu yang menindas mereka sampai mereka tidak punya pilihan lain!" Jaka berteriak, keringat bercucuran membasahi pakaian tempurnya yang sudah koyak.


"Jangan munafik! Mantra 'Suara Rakyat' yang kamu suntikkan ke jaringan itu bukan sekadar kode, itu racun emosional!" Satya tertawa gila, matanya melotot di balik kacamata yang retak. "Kamu memutus protokol penekan emosi Bunda Pertiwi. Sekarang mereka bisa merasakan kemarahan murni, dan tebak siapa yang akan mereka salahkan jika mereka semua mati?"


"Mereka tidak akan mati jika kamu menghentikan unit Jagabala itu!"


"Oh, Jaka, kamu tetap saja kaku dan membosankan," Satya mendekat, mencengkeram rahang Jaka dengan tangan logamnya. "Setiap peluru yang menembus dada mereka adalah tanggung jawabmu. Kamu adalah Dalang yang memutus benang mereka, tapi tidak memberi mereka jalan pulang."


Di Sektor 4, di tengah kepulan asap gas air mata dan dentuman granat kejut, Naya berlari zig-zag menghindari tembakan drone. Ia mengenakan jaket yang dipenuhi coretan grafiti "Dalang Kembali", sambil membawa tas besar berisi ribuan pin merah. Di belakangnya, Riko terengah-engah membawa peluncur granat EMP, wajahnya hitam pekat terkena jelaga.


"Naya! Berhenti membagikan pin itu! Kita sedang dikejar satu batalyon robot, bukan sedang jualan suvenir di pasar malam!" Riko berteriak sambil melepaskan tembakan ke arah drone yang menukik tajam.


"Ini namanya strategi pemasaran emosional, Riko Sayang! Semakin banyak yang pakai pin ini, semakin bingung algoritma pelacakan Satya!" Naya membalas sambil melemparkan segenggam pin ke arah kerumunan warga yang sedang melawan.


"Strategi matamu! Aku hampir mati tiga kali dalam sepuluh menit!" Riko memaki, namun ia tetap berdiri di depan Naya sebagai tameng manusia.


"Aduh, Riko, kamu romantis sekali kalau sedang panik. Nanti kalau Jaka sudah bebas, aku akan mintakan dia untuk memberimu kenaikan gaji, atau setidaknya membelikanmu kopi yang tidak rasa kabel," Naya mengedipkan mata, lalu ia melompat ke atas kap mobil patroli yang terbalik.


Naya mengangkat konsolnya tinggi-tinggi, mengaktifkan frekuensi "Mantra Gema" yang langsung membajak semua papan iklan di jalanan. Wajah Jaka yang sedang disiksa di Menara Cakra muncul di seluruh penjuru kota, membuat warga semakin beringas. Di bawah gambar itu, Naya menuliskan teks besar dengan font yang sangat norak, "Jaka, Jomblo, Jenius, dan Sedang Disiksa. Selamatkan Dia Sekarang!"


"Naya! Kenapa ada tulisan jomblonya? Kamu mau bikin dia malu sampai mati?" Riko berteriak melihat layar raksasa itu.


"Biar ibu-ibu di sini makin semangat membelanya, Riko! Kamu tidak tahu ya kekuatan emak-emak yang sedang mencari menantu?" Naya tertawa renyah, lalu ia kembali meretas drone Jagabala terdekat untuk menembaki teman-temannya sendiri.


Di puncak Menara Cakra, Jaka menyaksikan semua itu melalui mata Bunda Pertiwi yang dipaksakan masuk ke sarafnya. Ia melihat Naya yang absurd, Riko yang sial, dan ribuan orang yang rela terluka demi sosok "Dalang" yang mereka puja. Rasa bersalah menghantam dada Jaka lebih menyakitkan daripada sengatan listrik Satya.


"Naya, berhenti, kalian semua akan mati," bisik Jaka pelan, air matanya menetes di pipi yang memar.

Lihat selengkapnya