"Tembak saja satelit itu sekarang, Jaka! Sebelum Satya benar-benar mengunggah seluruh kesadarannya dan menjadi tuhan digital yang tidak bisa kita sentuh!"
Riko berteriak sambil mengarahkan peluncur granat EMP-nya ke arah jendela besar Menara Cakra yang sudah retak. Matanya merah, napasnya memburu melihat pendar ungu di langit malam yang semakin terang. Di sampingnya, Jaka menarik kerah jaket Riko dengan kasar, memaksa pria itu menurunkan senjatanya.
"Jangan bodoh, Riko! Kalau kamu menembak titik itu sekarang, seluruh Sektor 1 sampai 4 akan mengalami gagal jantung massal!" Jaka membentak, suaranya parau karena emosi yang tertahan.
"Maksudmu apa? Satya ada di sana! Itu sasaran empuk!" Riko menyalak, tidak mengerti kenapa Jaka mendadak menjadi ragu.
"Satya mengaktifkan Protokol Penyangga. Dia mengikat detak jantung Laras dan sinyal satelitnya langsung ke sistem pendukung kehidupan IKN," Jaka menunjuk ke layar monitor yang masih berfungsi. "Oksigen, pemurni air, bahkan alat pacu jantung di rumah sakit kota, semuanya sekarang bergantung pada stabilitas sinyal Satya."
Riko terdiam, tangannya perlahan melemas hingga peluncur granat itu hampir jatuh ke lantai. Wajahnya pucat pasi menyadari kenyataan pahit yang baru saja Jaka beberkan. Satya tidak lagi menggunakan robot untuk melindunginya, dia menggunakan jutaan nyawa sebagai tameng hidup.
Naya tiba-tiba muncul dari balik reruntuhan meja konsol, rambutnya berantakan dan pipinya terkena coretan oli. Ia membawa sebuah batang cokelat yang bungkusnya sudah sobek, lalu menyodorkannya ke depan mulut Jaka. Ia tersenyum sangat lebar seolah mereka tidak sedang berada di ambang kiamat.
"Makan dulu, Kapten Kaku. Otak jeniusmu itu butuh glukosa, bukan cuma beban moral yang berat," Naya berkata dengan nada riang yang terdengar sangat absurd.
"Naya, ini bukan waktunya untuk makan cokelat," gumam Jaka, namun ia tetap menggigit cokelat itu karena Naya memaksa memasukkannya ke mulutnya.
"Enak, kan? Itu cokelat edisi terbatas yang aku curi dari mesin penjual otomatis di lantai bawah," Naya nyengir, lalu ia mengusap sisa cokelat di sudut bibir Jaka dengan ibu jarinya. "Dengar ya, kalau kita semua mati hari ini, setidaknya aku ingin kamu mati dalam keadaan manis, bukan pahit seperti kopi tanpa gula kesukaanmu itu."
"Kamu benar-benar tidak punya rasa takut ya?" Jaka menatap mata Naya, merasakan sedikit ketenangan di tengah badai.
"Takut itu membosankan, Jaka. Lebih baik aku memikirkan cara bagaimana kita bisa berciuman di ruang hampa udara nanti," Naya mengedipkan mata, membuat Riko yang melihat mereka langsung mendengus jijik.
"Ugh, kalian berdua benar-benar tidak punya tempat dan waktu yang tepat untuk bermesraan!" Riko memaki, meskipun ia merasa sedikit lega melihat Jaka mulai tenang.
Tiba-tiba, ruangan itu dipenuhi oleh cahaya putih keemasan yang keluar dari lubang ventilasi dan sela-sela lantai. Sebuah hologram raksasa muncul di tengah ruangan, namun bentuknya tidak lagi menyerupai pemandu wisata ramah IKN. Sosok itu adalah Bunda Pertiwi, namun wajahnya terus berubah-ubah setiap detik, berganti menjadi wajah warga sipil yang sedang ketakutan di jalanan.
"Jaka, kenapa kamu ingin menghancurkan rumahmu sendiri?" suara hologram itu bergema, merupakan gabungan dari ribuan suara manusia yang tumpang tindih.
"Itu bukan Bunda Pertiwi, itu Satya yang memakai topeng sistem!" Sora berteriak dari sudut ruangan sambil terus mencoba mempertahankan firewall tim mereka.