Nusantara Cyber

Salsabilla Kim
Chapter #41

Pesan dalam Nyanyian

"Tembak dia sekarang, Jaka! Sebelum tangannya yang bercahaya itu memutus lehermu! Jangan jadi pengecut hanya karena dia punya wajah adikmu!"


Riko berteriak parau dari bawah reruntuhan meja konsol yang menindih kakinya. Debu beton beterbangan di udara yang mendadak terasa berat karena gravitasi gila yang dipancarkan Laras. Di depan Jaka, sosok Laras, yang kini menjadi wadah fisik Bunda Pertiwi, berdiri tegak dengan kulit keemasan yang berpendar. Matanya yang kosong menatap Jaka, sementara tangannya terangkat, mengumpulkan partikel cahaya yang siap meledak.


"Aku tidak bisa membunuhnya, Riko! Kamu tidak lihat? Dia sedang menangis di dalam sana!" Jaka membalas sambil menghindar ke belakang pilar yang retak.


"Menangis matamu! Dia baru saja menghancurkan menara ini dengan sekali lambaian tangan!" Riko memaki, wajahnya merah padam karena menahan sakit di kakinya yang terjepit baja.


"Jaka! Dengar ya, kalau kamu sampai mati di tangan adikmu, aku akan meretas alam kuburmu dan memutar lagu dangdut paling norak selamanya!" Suara Naya terdengar cempreng dari balik tumpukan puing di sisi lain ruangan.


"Naya? Kamu masih hidup?" Jaka berseru, hatinya sedikit lega mendengar ocehan absurd wanita itu.


"Tentu saja masih hidup! Aku kan belum sempat mengajakmu ke pelaminan siber!" Naya berteriak lagi, diikuti suara batuk karena debu. "Tapi tolong ya, Jaka sayang, pilar di atas kepalaku ini tidak terlalu estetik untuk dijadikan nisan. Cepat selesaikan kencan mautmu itu!"


Laras meluncur maju tanpa menyentuh lantai, gerakannya luwes seperti penari namun mematikan. Sebuah ledakan frekuensi keluar dari telapak tangannya, menghancurkan pilar pelindung Jaka menjadi butiran debu. Jaka terlempar, namun alih-alih menjauh, ia justru berlari menembus asap, menerjang ke arah Laras dengan tangan terbuka.


"Jaka! Apa yang kamu lakukan? Itu bunuh diri!" Sora berteriak melalui jalur komunikasi nirkabel yang masih aktif di telinga Jaka.


Jaka tidak peduli. Ia membiarkan serangan cahaya Laras membakar lengan jaketnya. Tepat saat Laras akan melayangkan pukulan kedua, Jaka menangkap pergelangan tangan adiknya yang bersinar panas. Sentuhan itu memicu feedback listrik yang luar biasa, melemparkan kesadaran Jaka masuk ke dalam jalur saraf Bunda Pertiwi secara paksa.


"Aku masuk! Sora, Mada, lakukan sinkronisasi sekarang!" Jaka mengerang di dalam jalur frekuensi sarafnya.


Dunia fisik di Menara Cakra seolah membeku. Jaka kini berada di dalam limbo digital, sebuah ruang putih tanpa batas yang dipenuhi oleh miliaran baris kode emas milik Bunda Pertiwi. Di depannya, Satya berdiri dalam bentuk raksasa, wajahnya tertawa mengejek di antara tumpukan data tirani yang ia kendalikan.


"Kamu pikir sentuhan fisik bisa mengalahkan integrasi sempurna ini, Jaka?" Suara Satya bergema seperti guntur.


"Jaka! Tunggu! Lihat polanya!" Suara Sora tiba-tiba memotong di dalam kesadaran Jaka, terdengar sangat bersemangat.


"Pola apa, Sora? Aku hampir gila menahan tekanan Satya di sini!" Jaka membalas, manifestasi digitalnya mulai retak karena beban data.


"Lihat di sektor 9-Z! Ada anomali di antara kode pertahanan emas Satya!" Sora, sang seniman frekuensi, mulai memproyeksikan sebuah visualisasi warna. "Ada pola merah jambu yang bergetar. Itu bukan kode Satya. Itu, itu sebuah melodi!"


Lihat selengkapnya