Nusantara Cyber

Salsabilla Kim
Chapter #42

Kebutuhan akan Artefak

"Kamu gila, Kek! Kita punya kiamat satelit di atas kepala, dan kamu menyuruhku mencari batu di laut beracun?"


Jaka menggebrak meja kayu lapuk di persembunyian darurat pinggiran pantai utara. Napasnya masih terasa berat, sisa-sisa debu beton Menara Cakra masih menempel di rambutnya yang acak-acakkan. Di depannya, Ki Sasmita tetap tenang menuangkan air panas ke dalam cangkir seng, seolah teriakan Jaka hanya desiran angin laut.


"Itu bukan sekadar batu, Jaka. Itu adalah resonansi murni yang tumbuh sebelum Satya meracuni dunia ini dengan barisan angka dinginnya," Ki Sasmita menyodorkan cangkir itu.


"Aku butuh senjata, Kek! Bukan dongeng sebelum tidur tentang harta karun Jakarta lama!" Jaka menyisir rambutnya dengan kasar, wajahnya menunjukkan frustrasi yang luar biasa.


"Sihir digitalmu gagal di menara tadi, kan? Logika mesingmu mental melawan Perisai Pertiwi, kan?" Ki Sasmita menatap mata Jaka dengan tajam, membuat Jaka terbungkam seketika.


"Itu karena Satya menggunakan Laras sebagai tameng..." Jaka membela diri dengan suara yang merendah.


"Kamu butuh jembatan, Jaka. Sesuatu yang bisa menyatukan niat manusiamu dengan logika mesin Bunda Pertiwi secara sempurna tanpa menghancurkan keduanya. Kamu butuh Serat Kuno."


Naya tiba-tiba muncul dari balik tirai plastik, menyeret dua set pakaian selam yang modifikasinya terlihat sangat berantakan. Ia mengenakan pelampung leher berwarna merah jambu cerah dengan motif bebek, kontras dengan wajahnya yang masih memar. Ia tersenyum sangat lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi namun ada sisa cokelat di sana.


"Lihat, Jaka! Aku sudah membuatkan baju selam pasangan untuk kita! Kita akan jadi dua putri duyung paling modis di laut Jakarta yang beracun!" Naya berseru girang.


"Naya, demi apa pun, lepaskan pelampung bebek itu. Kita akan masuk ke zona radiasi data, bukan mau berenang di kolam hotel!" Jaka memijat pangkal hidungnya, merasa kepalanya makin pening.


"Tapi ini estetik, Jaka sayang! Kalau nanti kita diterkam monster laut digital, setidaknya dia akan berpikir dua kali untuk memakan sesuatu yang seimut ini," Naya nyengir, lalu ia mencoba memakaikan masker selam yang juga berwarna merah jambu ke wajah Jaka.


"Singkirkan itu dari wajahku, Naya! Aku sedang serius bicara dengan Ki Sasmita!" Jaka menepis tangan Naya, namun Naya justru mencubit hidungnya dengan gemas.


"Jangan galak-galak terus. Nanti sarafmu kaku lagi seperti kabel rusak. Lagipula, baju selam ini sudah aku pasangi jalur kabel saraf ganda. Kita bisa berpegangan tangan di bawah air tanpa takut kehilangan sinyal romantis," Naya mengedipkan mata, membuat Riko yang sedang mengasah pisaunya di sudut ruangan langsung pura-pura muntah.


"Bisa tidak satu hari saja aku tidak melihat drama picisan kalian? Aku merasa harga diriku sebagai teknisi turun drastis setiap kali Naya mulai bicara," Riko menggerutu tanpa menoleh.


Lihat selengkapnya