"Jangan ditarik, Naya! Kabel saraf ini malah membuat kita berdua terseret ke dasar mesin turbin yang meledak!"
Jaka berteriak sambil meludahkan air asin yang terasa pahit di lidahnya. Perahu rakitan mereka baru saja hancur berkeping-keping dihantam tentakel kabel raksasa, melemparkan semua orang ke arah yang berbeda. Di tengah pusaran air keruh, Naya justru mencengkeram tangan Jaka erat-erat, memastikan kabel penghubung di baju selam mereka tidak terputus.
"Enak saja! Kamu sudah berjanji tidak akan melepaskan tanganku di bawah air!" Naya membalas, suaranya teredam masker selam yang miring.
"Drone Jagabala tepat di atas kita! Sembunyi atau kepalamu meledak!" Jaka menarik napas dalam, lalu memaksa tubuh Naya ikut menyelam tepat saat seberkas laser merah membelah permukaan air.
Cahaya laser itu menciptakan ledakan uap di belakang mereka, memberikan dorongan panas yang membuat Jaka terhuyung di dalam air. Jaka tidak bisa berpikir jernih, tidak ada konsol, tidak ada sinyal Wi-Fi, hanya ada tekanan air yang menyesakkan paru-parunya. Cairan di Situ Tenggelam ini bukan sekadar air, melainkan sup kimia korosif yang mulai menggerogoti lapisan luar baju selam merah jambunya.
"Indikator ketahanan bajumu, Jaka! Lihat lenganmu!" Naya menunjuk ke arah layar kecil di pergelangan tangan Jaka melalui kaca masker.
Jaka melihat angka digital yang berkedip merah terang, Durability: 68% and dropping. Asam di perairan ini jauh lebih kuat dari perkiraannya, dan jika angka itu mencapai nol, kulitnya akan meleleh dalam hitungan menit.
"Kita harus mencapai reruntuhan gedung di depan! Ikuti arahanku!" Jaka memberi isyarat tangan, mencoba berenang sekuat tenaga meski ototnya terasa kaku.
"Tunggu! Ada sesuatu yang mendekat dari bawah!" Naya menarik kabel saraf mereka, menghentikan gerakan Jaka seketika.
Di bawah sana, di antara kegelapan gedung yang terendam, sepasang mata hijau neon kembali menyala. AI liar yang menyerupai gurita kabel tadi rupanya masih lapar dan menganggap mereka sebagai cadangan energi yang lezat. Jaka meraba pinggangnya, mencari sesuatu yang bisa dijadikan senjata, namun ia hanya menemukan sebuah pipa besi berkarat yang ia ambil dari reruntuhan perahu.
"Gunakan pipa itu untuk memukul sensornya, bukan untuk gaya-gayaan!" Naya berteriak di dalam jalur audio internal mereka yang mulai statis.
"Aku bukan petarung jarak dekat, Naya! Harusnya aku meretas sistem sarafnya!" Jaka mencoba mengayunkan pipa itu dengan gerakan kikuk di dalam air yang berat.
"Mesin ini tidak punya sistem saraf yang bisa kamu retas, Sayang! Dia cuma punya nafsu makan!" Naya tiba-tiba meluncur melewati Jaka, menendang mata hijau monster itu dengan kaki kataknya.
Monster itu menjerit, sebuah suara frekuensi tinggi yang membuat telinga Jaka berdarah di balik masker. Tentakel kabel itu menyambar, namun Naya dengan lincah menghindar, gerakannya di bawah air jauh lebih alami daripada Jaka. Jaka menyadari bahwa di dunia fisik ini, egonya sebagai "Sang Dalang" sama sekali tidak berguna, ia hanyalah mangsa yang lemah.
"Bantu aku, Jaka! Pukul bagian sendi kabelnya!" Naya berteriak lagi sambil berusaha mengikat salah satu tentakel dengan kabel saraf cadangannya.
Jaka mengumpulkan keberanian, ia menendang reruntuhan beton di dekatnya untuk menambah kecepatan. Pipa besi di tangannya menghantam sambungan logam di tentakel monster itu hingga mengeluarkan percikan listrik yang menyambar air. Rasa sakit akibat sengatan listrik itu merambat ke seluruh tubuh Jaka, namun ia berhasil memutuskan salah satu kabel utama monster tersebut.
"Bagus! Sekarang lari ke dalam gedung itu!" Naya menarik Jaka menuju sebuah jendela besar yang pecah di lantai atas gedung perkantoran yang tenggelam.