Nusantara Cyber

Salsabilla Kim
Chapter #44

Kenangan Kota yang Hilang

"Lepaskan dia, Kuncara! Lihat indikator bajunya, sialan! Dia akan mati lemas sebelum kamu sempat menyelesaikan pidato balas dendammu itu!"


Naya berteriak parau, tubuhnya terhimpit di antara pilar perak dan lilitan benang yang semakin mencekik. Di depannya, Jaka terengah-engah dengan wajah membiru di balik masker selam yang mulai retak. Indikator di lengan Jaka berkedip merah darah, menunjukkan angka dua persen, batas di mana sistem pendukung kehidupan akan berhenti total dan membiarkan air raksa Situ Tenggelam masuk ke paru-parunya.


"Biarkan dia merasakan sesaknya menjadi sejarah yang dibuang, Naya," Kuncara menjawab dingin, suaranya bergetar karena distorsi digital. "Dia harus melihat apa yang ayahnya khianati demi kemegahan palsu IKN."


Kuncara menempelkan telapak tangan neonnya ke dahi Jaka. Seketika, arus data besar-besaran menghantam saraf Jaka, memaksanya masuk ke dalam induksi memori yang sangat kuat. Jaka tidak bisa melawan, kesadarannya ditarik paksa keluar dari ruangan dingin itu, menembus lorong waktu yang penuh dengan potongan gambar Jakarta lama.


"Jaka! Jangan tutup matamu! Aku ikut masuk!" Naya berteriak, ia memaksakan sinkronisasi kabel saraf mereka hingga percikan listrik menyambar bahunya.


Seketika, sensasi air beracun dan sesak napas menghilang. Jaka berdiri di sebuah balkon rumah susun hijau yang dipenuhi tanaman rambat. Udara di sini tidak berbau tembaga, melainkan bau tanah basah setelah hujan dan aroma sate ayam yang terbakar di kejauhan. Ini adalah Jakarta, dua puluh tahun lalu, sebelum megaproyek tanggul laut gagal dan menenggelamkan segalanya.


"Wah, Jaka kecil ternyata punya pipi tembam yang minta dicubit ya?"


Suara Naya mengagetkan Jaka. Jaka menoleh dan menemukan Naya berdiri di sampingnya dalam wujud proyeksi digital yang sedikit transparan. Naya menunjuk ke arah seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang sedang asyik mempreteli mainan robotnya di pojok balkon.


"Naya? Kamu benar-benar masuk ke memori ini?" Jaka bertanya, suaranya terdengar lebih muda di dalam ruang ingatannya sendiri.


"Tentu saja! Mana mungkin aku melewatkan kesempatan melihat 'Sang Dalang' saat masih ingusan," Naya nyengir, ia mencoba menyentuh Jaka kecil, namun tangannya menembus bayangan itu. "Tapi Jaka, ini indah sekali. Kenapa IKN tidak punya pohon asli sebanyak ini?"


Pintu balkon terbuka. Sosok pria tinggi dengan kemeja flanel dan jam tangan analog tua, Basudewa, melangkah keluar. Ia membawa sebuah bibit pohon kecil di dalam pot kaca yang dialiri kabel-kabel mikro transparan. Di belakangnya, seorang wanita cantik bernama Aswini tersenyum sambil membawa nampan berisi teh hangat.


"Jaka, lihat ini," Basudewa berjongkok di samping anaknya. "Ini adalah inti dari teknologi masa depan. Bukan angka biner yang dingin, tapi harmoni antara mesin dan akar."


"Tapi Ayah, kata Guru di sekolah, mesin itu harus efisien. Pohon ini kan lambat tumbuhnya," Jaka kecil menjawab dengan polos.


Basudewa tertawa, ia mengacak rambut anaknya. "Efisien tanpa nyawa itu penjara, Nak. Ayah sedang mengerjakan sesuatu yang disebut Serat Kuno. Sebuah alat yang bisa membuat Bunda Pertiwi tidak hanya berpikir dengan logika, tapi juga merasa dengan detak jantung alam. Ingat ini, Jaka, jangan pernah membangun gedung yang lebih tinggi dari harga diri alammu."


Jaka dewasa yang berdiri di samping Naya tertegun. Kata-kata itu selama ini terkubur di bawah ribuan baris kode yang ia pelajari dari Satya. Ia baru sadar bahwa ayahnya bukan sekadar arsitek, tapi seorang visioner yang mencoba mencegah kiamat yang sekarang terjadi.

Lihat selengkapnya