"Lepaskan talinya, Naya! Jangan malah ditarik! Ini bukan kabel fiber optik, ini tali rami yang kasar!"
Jaka berteriak sambil meronta di dalam jaring besar yang menggantung tiga meter di atas permukaan air keruh. Napasnya tersengal, wajahnya memerah karena posisi tubuhnya yang terbalik. Naya, yang terjepit tepat di atas punggung Jaka dalam jaring yang sama, justru tertawa geli sambil terus menarik-narik simpul tali yang justru makin mengunci gerakan mereka.
"Aku sedang mencoba mencari 'port' pembukanya, Sayang! Siapa tahu jaring ini punya sensor sidik jari tersembunyi," Naya menyahut santai.
"Ini tali tambang, Naya! Tidak ada sensor, tidak ada arus listrik! Kita baru saja ditangkap dengan teknologi zaman batu!" Jaka memaki, ia mencoba mengaktifkan Neural-Link-nya, namun hanya mendapati sinyal kosong karena dinding beton di sekitar mereka dilapisi timah tebal.
"Yah, setidaknya kita berpelukan sangat erat sekarang. Aku tidak keberatan digantung begini selamanya asalkan sama kamu," Naya berbisik tepat di telinga Jaka, membuat bulu kuduk Jaka berdiri bukan karena takut, tapi karena hembusan napas Naya yang geli.
"Naya, fokus! Armada Satya ada di atas kita, dan kita terjebak di gorong-gorong ini oleh entah siapa!" Jaka mencoba memutar tubuhnya, namun jaring itu bergoyang hebat, membuat kristal Serat Kuno di sakunya terhantam tulang rusuknya.
"Sstt! Ada orang datang. Pasang wajah gantengmu, Jaka. Jangan wajah robot kaku begitu," Naya tiba-tiba diam, matanya menatap ke arah kegelapan di ujung lorong bawah tanah.
Sinar obor, bukan lampu LED, perlahan mendekat, memantul di dinding yang dipenuhi lumut dan karat. Sosok pria tinggi besar dengan rompi dari lempengan seng bekas melangkah keluar dari balik bayang-bayang. Ia memegang tombak yang ujungnya terbuat dari patahan bilah turbin yang sangat tajam. Di belakangnya, beberapa orang dengan pakaian compang-camping menatap Jaka dan Naya dengan tatapan penuh kebencian.
"Orang-orang langit," pria itu meludah ke lantai beton yang basah. "Membawa sampah digital ke rumah kami. Apa Satya belum puas melihat kami tenggelam?"
"Kami bukan orang Satya! Kami pelarian! Namaku Jaka, dan aku, " Jaka mencoba menjelaskan dengan nada memerintah yang biasa ia gunakan sebagai jenderal siber.
"Aku tidak peduli namamu, Budak Mesin! Kamu membawa benda itu, kan?" Pria itu menunjuk ke arah saku Jaka yang sedikit bercahaya redup.
"Ini Serat Kuno. Kami butuh ini untuk menghentikan kiamat di IKN," Jaka berusaha keras tetap tenang meski kepalanya mulai pusing karena aliran darah yang berkumpul di sana.
"IKN? Tempat mewah di seberang laut itu?" Pria itu tertawa pahit, suaranya parau seperti gesekan amplas. "Biarkan tempat itu terbakar. Biarkan kalian semua hancur seperti Jakarta. Aku, Daksina, tidak akan membiarkan kalian membawa 'kutukan' itu ke pemukiman kami."
Daksina mengangkat tombaknya, mengarahkan ujung tajamnya tepat ke arah leher Jaka yang tergantung lemas. Jaka mencoba merumuskan argumen logis, mencari celah manipulasi psikologis, namun otaknya yang biasa bekerja dengan algoritma mendadak macet total. Ia tidak tahu cara bicara dengan pria yang tidak mengenal kata 'enkripsi' atau 'protokol'.
"Hei, Kakak Daksina yang gagah!" Naya tiba-tiba bersuara, suaranya sangat manis dan ceria. "Bisa tolong turunkan kami dulu tidak? Jaka ini kalau terlalu lama terbalik bisa muntah, dan percayalah, muntahannya sangat tidak estetik untuk dilihat."