Nusantara Cyber

Salsabilla Kim
Chapter #46

Ujian dari Leluhur

"Naya! Kenapa badanmu jadi transparan begitu? Saraswati, hentikan ini sekarang juga! Aku tidak mau kehilangan dia lagi!"


Jaka berteriak panik sambil berusaha menangkap tangan Naya. Namun, tangannya justru menembus proyeksi tubuh Naya yang kini berwarna abu-abu pucat. Dunia di sekitar mereka, teater tua, Daksina, bahkan misil Satya yang hampir menghantam atap, semuanya membeku dalam keheningan hitam-putih yang ganjil. Udara tidak lagi berbau asam, melainkan terasa hampa, seperti berada di dalam ruang hampa udara digital.


"Aku tidak apa-apa, Jaka Sayang! Jangan panik begitu, mukamu jadi makin mirip robot karatan," Naya menyahut, suaranya terdengar bergema seolah datang dari jarak ribuan kilometer. "Cuma rasanya agak, em, dingin? Kayak lagi dipeluk es batu raksasa."


"Tenang, Jaka. Dia tidak hilang, dia hanya sedang terkalibrasi dengan frekuensi Serat Kuno," Saraswati berkata pelan. Nenek itu tetap tampak nyata di tengah dunia yang membeku, mata butanya justru bersinar keperakan. "Waktu di dunia nyata telah berhenti sesaat, tapi jiwamu harus bergerak. Kamu harus membuktikan bahwa kamu layak menjadi wadah bagi memori Jakarta."


"Ujian apa lagi? Kami hampir mati diledakkan Satya!" Jaka meradang, ia mencengkeram kristal di tangannya yang kini berdenyut mengikuti detak jantungnya.


"Ujian untuk melepas logika binermu yang kaku," Saraswati menunjuk ke arah panggung teater yang kini berubah menjadi labirin kabel raksasa yang melilit di bawah air hitam. "Masuklah. Jika kamu gagal menyelaraskan hatimu dengan akar ini, kamu akan terjebak di sini selamanya sebagai sampah data."


Jaka menatap labirin kabel itu dengan ngeri. "Aku harus menyelam ke sana? Tanpa baju selam?"


"Halah, Jaka! Anggap saja kita lagi kencan di kolam renang paling mewah se-Jakarta!" Naya tiba-tiba menarik tangan Jaka, menyeretnya menuju tepi panggung. "Ayo! Aku akan jadi GPS-mu, tapi jangan komplain kalau arahanku agak melenceng ke arah hatiku ya?"


"Naya, ini bukan waktunya bercanda!" Jaka memprotes, tapi ia tetap melompat bersama Naya ke dalam air hitam yang aneh itu.


Begitu masuk, Jaka merasa ribuan kabel tembaga mulai melilit kaki dan tangannya. Kabel-kabel itu tidak menyerang, tapi mereka bergetar dengan frekuensi yang menyakitkan telinga. Jaka secara insting mencoba meretas protokol kabel tersebut melalui Neural-Link-nya, namun sistemnya langsung memicu feedback listrik yang membuatnya berteriak.


"Jangan diretas, Jaka! Kamu malah bikin kabelnya baper!" Naya berteriak di sampingnya, ia berenang dengan santai seolah air itu adalah udara biasa. "Rasakan detak jantung mereka! Ikuti ritmenya!"


"Ritme apa? Ini cuma kebisingan digital!" Jaka meronta, kabel-kabel itu malah makin melilitnya dengan kencang.


"Duh, kamu ini memang harus diajari romantis ya? Dengar," Naya mendekat, memegang dada Jaka di dalam air. "Dug-dug, dug-dug, Itu suara kabelnya. Mereka bukan mesin, mereka itu sisa-sisa harapan orang Jakarta yang tenggelam. Jangan dilawan, disayang saja."


Jaka memejamkan mata, ia mencoba menghentikan kepalanya yang terus menghitung algoritma. Ia mulai mendengarkan getaran kabel tersebut. Pelan, ia menyamakan detak jantungnya dengan denyut listrik di kabel itu. Ajaibnya, lilitan kabel itu melonggar, berubah menjadi lembut seperti sutra dan menuntun mereka melewati lorong-lorong bawah air yang gelap.


"Nah, gitu dong! Pinter kan pacarku ini," Naya mencubit pipi Jaka di dalam air, membuat Jaka hampir tersedak gelembung data.


Lihat selengkapnya