Nusantara Cyber

Salsabilla Kim
Chapter #47

Di Jantung Perpustakaan Kristal

"Nggak ada waktu buat bengong, Jaka! Lu liat tuh di atas, si Laras udah kayak malaikat maut mau nyabut nyawa kita semua!"


Daksina menarik kerah baju selam merah jambu Jaka dengan kasar, membuat Jaka tersentak dari lamunannya. Di atas langit teater yang runtuh, sosok Laras melayang dengan sayap kabel yang terus berdenyut, mengirimkan gelombang kejut yang meruntuhkan beton-beton tua Jakarta. Di sekeliling mereka, ribuan drone Jagabala kembali merah matanya, berusaha memutus kendali darurat yang tadi Jaka tanamkan.


"Aku tahu, Daksina! Tapi kristal ini butuh slot untuk sinkronisasi! Benteng itu adalah mesin besarnya!" Jaka berteriak di tengah suara gemuruh ledakan.


"Yaudah, cepetan lu lari ke lubang di bawah panggung itu! Gue sama anak-anak pesisir bakal jagain pintu masuknya. Jangan sampe lu gagal, atau gue hantuin lu di alam baka!" Daksina menghentakkan tombaknya ke lantai, memberi isyarat pada pasukan AI liarnya untuk membentuk barikade.


"Jaka Sayang, ayo! Aku nggak mau mati dalam keadaan pakai baju selam pink yang sudah mulai pudar ini, nggak estetik!" Naya menarik tangan Jaka, menyeretnya masuk ke sebuah celah di bawah altar teater yang baru saja terbuka.


Mereka meluncur ke bawah melewati saluran pipa organik yang terasa kenyal dan berdenyut. Bau tembaga dan asam mendadak menghilang, digantikan oleh aroma melati yang sangat kuat dan wangi kertas buku tua yang menenangkan. Jaka dan Naya mendarat di sebuah lantai kristal transparan yang di bawahnya terlihat akar-akar pohon raksasa yang bercahaya keemasan.


"Wah, Jaka, ini tempat apa? Kok wangi banget, nggak bau ketiak Satya yang asam?" Naya berdiri, membersihkan debu dari jaketnya sambil matanya berputar mengagumi ruangan itu.


"Ini, Perpustakaan Kristal," gumam Jaka, ia terpana melihat ribuan tiang kristal yang tumbuh dari lantai menuju langit-langit. Di dalam setiap kristal, terlihat aliran data yang berbentuk seperti serat saraf manusia, bergerak lambat dan sangat indah.


"Kristalnya banyak banget! Kira-kira kalau aku ambil satu terus kujadikan cincin tunangan kita, boleh nggak?" Naya mendekati salah satu tiang kristal dan mencoba menjilatnya.


"Naya! Jangan dimakan! Itu data sejarah Jakarta!" Jaka menarik Naya menjauh, merasa kepalanya makin pening melihat kelakuan pasangannya.


"Ih, cuma mau tahu rasanya! Siapa tahu rasa stroberi," Naya merengut, lalu ia berjalan santai sambil mengetuk-ngetuk tiang kristal lainnya. "Eh, kristal yang ini lagi mutar video orang lagi makan kerak telor di pinggir jalan! Lucu banget bajunya kuno!"


Jaka tidak menghiraukan celotehan Naya. Ia berjalan menuju pusat ruangan, di mana sebuah kristal inti setinggi manusia berdiri dengan cahaya biru pucat yang paling stabil. Kristal itu memiliki lubang kecil di tengahnya yang berbentuk persis seperti kristal Serat Kuno yang ia bawa.


"Ini tempatnya," bisik Jaka, tangannya gemetar saat ia mengeluarkan kristal Serat Kuno dari saku bajunya.


Tiba-tiba, suara tawa Satya menggema dari dinding-dinding kristal tersebut. "Kamu sungguh mengesankan, Jaka. Kamu benar-benar menemukan jantung dari kegagalanku."


"Satya! Keluar kamu dari sini!" Jaka bersiaga, ia memeluk kristalnya erat-erat.


"Aku ada di mana-mana, Jaka. Aku adalah frekuensi yang kamu hirup sekarang," suara Satya terdengar sangat jernih di dalam perpustakaan ini. "Serahkan kristal itu. Dengan Serat Kuno, aku bisa menyempurnakan Bunda Pertiwi tanpa perlu menghancurkan IKN. Kita bisa memimpin dunia ini bersama."


"Kamu nggak akan pernah bisa memimpin dengan hati yang sudah jadi silikon, Satya!" Naya menyahut, ia tiba-tiba mengeluarkan sebuah kabel pendek dari sakunya dan mencoba mencolokkannya ke tiang kristal terdekat.

Lihat selengkapnya