Nusantara Cyber

Salsabilla Kim
Chapter #48

Perlombaan Kembali ke Masa Depan

"Cepat cabut kristal itu sekarang, Jaka! Sinyal saraf benteng ini sudah berubah menjadi jeritan! Satya sudah tahu kita di sini!"


Teriakan Naya memantul di dinding kristal yang mulai meredup. Jaka tidak langsung bergerak, tangannya masih menempel pada inti Serat Kuno yang bergetar hebat. Ujung jarinya terasa panas, seolah-olah miliaran sejarah Jakarta sedang mencoba mengalir masuk ke dalam pori-porinya. Keringat dingin mengucur dari pelipis Jaka, jatuh ke lantai transparan dan seketika berubah menjadi uap karena suhu ruangan yang melonjak drastis.


"Aku tidak bisa melepaskannya begitu saja, Naya! Sinkronisasinya belum mencapai seratus persen!" Jaka membalas, suaranya parau karena menahan beban data yang masif.


"Lupakan soal angka! Lihat ke atas!" Naya menunjuk langit-langit perpustakaan yang mulai retak.


Cairan hitam kental merembes dari sela-sela retakan beton, mengeluarkan aroma oli terbakar yang menyesakkan napas. Ini bukan sekadar alarm, ini adalah respon imun digital benteng Jakarta yang merasa jantungnya sedang dicuri. Di saat yang sama, raungan mesin turbin kapal-kapal Cakra Global di permukaan laut terdengar makin nyaring, menggetarkan struktur bangunan purba itu.


"Satu baris lagi, kumohon, satu baris lagi ...." Jaka memejamkan mata, memaksakan niat manusianya untuk mengunci kode terakhir.


KLIK.


Cahaya hijau zamrud di tangan Jaka mendadak padam, berganti menjadi pendar redup yang tenang. Jaka menarik kristal itu dengan sentakan kasar, membuatnya terhuyung mundur hingga menabrak Naya. Seluruh Perpustakaan Kristal seketika jatuh ke dalam kegelapan yang pekat, hanya menyisakan aroma bunga melati yang perlahan membusuk.


"Sudah? Bisa kita lari sekarang sebelum kita jadi pepes manusia di bawah laut?" Naya mencengkeram lengan Jaka, menariknya paksa menuju lubang evakuasi.


"Jaka! Naya! Jagabala tipe air sudah masuk lewat jalur pembuangan!" Suara Riko pecah di intercom telinga mereka, diiringi dentuman tembakan elektromagnetik.


"Riko, kamu di mana?" Jaka berteriak sambil berlari menembus kegelapan, mengandalkan memori langkah yang tadi ia catat.


"Aku terjepit di antara robot-robot sialan ini dan pintu keluar! Daksina sedang mencoba menahan mereka dengan jaring uapnya, tapi tidak akan lama!"


Jaka menoleh ke belakang, melihat seberkas sinar merah laser menyapu ruangan yang baru saja mereka tinggalkan. Ia bisa merasakan getaran langkah kaki logam yang berat di atas lantai kristal. Satya tidak lagi bermain halus, ia mengirimkan algojo fisiknya untuk menjemput Serat Kuno.


"Naya, cara yang tadi kamu bilang, apa itu?" Jaka bertanya dengan napas yang mulai pendek-pendek.


"Pipa Pneumatik Sektor 0. Jalur transportasi sampah zaman dulu yang langsung menuju palung laut perbatasan!" Naya menjawab sambil melompati reruntuhan pilar.


"Itu jalur mati, Naya! Tekanan udaranya bisa menghancurkan paru-paru kita!"


Lihat selengkapnya