Nusantara Cyber

Salsabilla Kim
Chapter #49

Gerbang Neraka Digital

"Jangan pernah berani menarikku keluar, Jaka! Biarkan aku menjadi martir untuk logika yang selama ini aku agungkan!"


Mada berteriak dengan urat leher yang menegang, wajahnya memerah di balik masker oksigen kapsul yang baru saja mendarat darurat di dermaga bawah tanah Menara Cakra. Di depannya, Jaka meronta, jemarinya yang gemetar berusaha memutus kabel neural-link yang menghubungkan otak Mada langsung ke gerbang firewall utama Satya. Udara di sekeliling mereka mendidih, bau tembaga dan ozon yang tajam menusuk hidung, sementara suara raungan mesin Jagabala di luar pintu kapsul terdengar seperti guntur yang tak kunjung usai.


"Aku tidak bisa membiarkanmu mati hanya untuk sebuah celah data, Mada! Pasti ada cara lain!" Jaka membentak, suaranya pecah oleh rasa frustrasi yang sudah mencapai ubun-ubun.


"Tidak ada waktu untuk 'cara lain'! Satya sudah mulai menghapus memori warga IKN di Sektor 1!" Mada terbatuk, darah segar merembes dari sudut bibirnya, menetes ke atas konsol kristal yang kini berpendar merah tua. "Cuma anarki filosofis yang bisa membingungkan Bunda Pertiwi. Biarkan aku masuk, biarkan aku menghancurkan mereka dari dalam."


"Naya! Bantu aku menariknya!" Jaka menoleh pada Naya yang sedang sibuk menembakkan pistol elektromagnetiknya ke arah pintu baja yang mulai penyok dihantam dari luar.


Naya tidak menoleh. Ia meniup gelembung permen karet stroberinya hingga pecah, lalu menyeka keringat di dahinya dengan lengan jaket yang sudah compang-camping. "Jaka sayang, kalau kamu tarik dia sekarang, kita semua mati jadi rongsokan sebelum sempat masuk ke lift. Mada tahu apa yang dia lakukan. Fokuslah pada pedang cahayamu, atau aku akan menciummu dengan rasa mesiu sebagai perpisahan!"


"Naya! Kamu juga sudah gila?" Jaka merasa dikhianati oleh realitas.


"Aku selalu gila, Jaka! Bedanya, sekarang kegilaanku punya tujuan!" Naya berteriak di tengah dentuman ledakan yang membuat kapsul mereka berguncang hebat. Ia berbalik sejenak, menatap Jaka dengan mata yang berkaca-kaca namun tetap berusaha menunjukkan senyum nakalnya. "Dengar, Jenderal. Pimpin kami atau kita semua jadi sampah sejarah di sini."


Jaka membeku. Ia melihat ke arah Mada yang kini matanya sudah memutih, tubuhnya kejang karena beban data kuantum yang melampaui kapasitas manusia. Rasa sakit di hati Jaka jauh lebih perih daripada sengatan listrik statis yang merambat di lantai kapsul. Ia sadar, sebagai "Sang Dalang", dialah yang memegang beban paling berat, membiarkan rekan setimnya menjadi tumbal demi panggung yang lebih besar.


"Maafkan aku, Mada," bisik Jaka, suaranya nyaris hilang ditelan bisingnya sistem pendingin yang meledak.


Jaka berbalik arah, ia tidak lagi mencoba menarik kabel Mada. Sebagai gantinya, ia mengalirkan energi dari Serat Kuno di tangannya untuk memperkuat transmisi jiwa Mada. Cahaya hijau zamrud menyatu dengan pendar merah di tubuh Mada, menciptakan gelombang kejut yang meledakkan seluruh monitor di dalam kapsul.


"Sekarang, Jaka! Pintunya terbuka!" Mada mengerang untuk terakhir kalinya sebelum tubuhnya terkulai lemas, menyatu dengan arsitektur digital Menara Cakra.


Pintu baja kapsul itu akhirnya hancur, namun bukan oleh Jagabala. Pintu itu meleleh karena serangan virus kuantum yang dilepaskan Mada dari dalam jaringan. Jaka tidak membuang waktu, ia melompat keluar dari kapsul, menggenggam pipa besinya yang kini berpendar hijau tajam. Di belakangnya, Naya mengikuti dengan gerakan lincah, melompati tumpukan rongsokan Jagabala yang sirkuitnya sudah hangus terpanggang mantra Mada.


Lihat selengkapnya