Nusantara Cyber

Salsabilla Kim
Chapter #50

Pendakian ke Langit

"Jangan ditarik begitu, Jaka! Bajuku bisa robek dan ini koleksi terakhir yang tidak kena lumpur Jakarta!"


Naya memekik kecil sambil berusaha menyeimbangkan tubuhnya di atas pipa pembuangan yang licin. Di bawah mereka, kegelapan lantai enam puluh sembilan Menara Cakra menganga seperti mulut monster yang siap menelan apa saja. Jaka tidak menjawab, napasnya terdengar seperti suara amplas yang digosokkan ke kayu, kasar dan pendek-pendek. Tangannya yang gemetar mencengkeram erat pergelangan tangan Naya, menariknya naik ke lorong tangga darurat tepat sebelum sensor laser di bawah mereka menyala merah.


"Diam, Naya. Kakiku sudah seperti mau lepas dari engselnya," gumam Jaka.


Ia menyandarkan punggungnya ke dinding beton yang dingin. Keringat dingin mengalir masuk ke matanya, membuat pandangannya perih dan kabur. Menara ini terlalu bersih, terlalu steril, dan baunya mengingatkan Jaka pada ruang praktik dokter gigi yang ia benci sewaktu kecil. Tidak ada lift, tidak ada eskalator yang berfungsi, Satya sudah mematikan semua kenyamanan itu untuk memaksa "sang murid" merangkak naik sebagai pecundang fisik.


"Lantai berapa sekarang?" Jaka bertanya, suaranya parau.


"Tujuh puluh lima. Masih ada dua puluh lima lantai lagi menuju ruang takhta gurumu yang gila itu," Naya menjawab sambil sibuk memeriksa ujung sepatunya yang terkelupas.


Naya mendongak, menatap Jaka dengan tatapan yang sulit diartikan. Wajahnya pucat, dan luka di bahunya mulai merembeskan cairan biru kehitaman, virus saraf Satya mulai bekerja. Namun, wanita itu justru tersenyum tipis, lalu ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah kancing baju cadangan yang ia temukan entah di mana.


"Jaka, lihat. Kancing ini bentuknya seperti wajah Riko kalau sedang marah. Lucu ya?" Naya tertawa kecil, meskipun suaranya bergetar menahan sakit.


Jaka menoleh, menatap kancing itu, lalu menatap Naya. "Kamu hampir mati karena infeksi digital, dan kamu masih sempat memikirkan kancing baju?"


"Habisnya, kalau aku terlalu serius, nanti mukaku cepat keriput sepertimu," Naya menjulurkan lidahnya. "Ayo, Jenderal Kaku. Kalau kita tidak bergerak, Satya akan mengira kita sedang pacaran di tangga darurat."


Jaka memaksakan kakinya untuk berdiri. Betisnya kram hebat. Ia meringis saat mencoba melangkah, sebuah reaksi jujur yang tidak bisa disembunyikan oleh topeng kepahlawanan mana pun. Dunia siber mungkin bisa ia kuasai dengan satu ketukan jari, tapi tangga beton ini adalah musuh yang tidak punya protokol untuk dideras.


Mereka mulai mendaki lagi. Sepi. Hanya suara langkah kaki mereka yang bergema aneh di lorong sempit itu.


"Jaka, dengar tidak?" Naya berbisik tiba-tiba.


Langkah Jaka terhenti. Dari arah atas, terdengar suara derap sepatu bot yang berat dan teratur. Bukan satu, tapi banyak. Jaka segera menarik Naya masuk ke dalam celah di bawah tangga. Ia mematikan lampu di pergelangan tangannya, membiarkan kegelapan pekat menyelimuti mereka.


"Jagabala fisik," desis Jaka.


Tiga orang pria dengan seragam hitam taktis lewat di atas mereka. Salah satunya berhenti tepat di atas kepala Jaka, mengeluarkan perangkat komunikasi.


"Lantai tujuh puluh tujuh aman, ndak ada tanda-tanda penyusup. Apa beneran mereka lewat sini?" suara pria itu kental dengan logat Penajam, terdengar sedikit malas seolah ia lebih suka pulang dan tidur daripada menjaga menara di tengah malam.


"Cek aja terus. Perintah pusat jangan sampe kecolongan," balas suara dari radio.


Lihat selengkapnya