Nusantara Cyber

Salsabilla Kim
Chapter #51

Suara Mentor, Suara Monster

"Berhenti sembunyi di balik kabel-kabel sialan ini, Satya! Keluar dan hadapi aku sebagai manusia, bukan sebagai pengecut yang hamba pada kode biner!" teriak Jaka.


Menggema di lorong Jembatan Saraf yang lantainya terbuat dari kaca sensorik bening. Di bawah kakinya, ribuan aliran data berwarna biru elektrik mengalir seperti sungai yang sedang mengamuk, memantulkan wajah Jaka yang kini beneran berantakan dengan luka robek di pelipis.


"Manusia itu terlalu rapuh buat menghadapi kebenaran, Jaka. Kamu sendiri udah liat hasilnya di lantai bawah, kan?" tanya Satya.


Suaranya keluar dari setiap sudut speaker tersembunyi di dinding lorong, terdengar sangat tenang dan jernih, kontras dengan deru napas Jaka yang berat. "Naya mati karena dia gak punya kapasitas buat menampung masa depan. Dia cuma variabel yang harus dihapus biar sistemnya stabil."


"Dia gak mati! Jangan berani kamu sebut nama Naya dengan mulut kotor itu!" seru Jaka.


Dia tersandung kabel yang menjuntai dari plafon, membuat lututnya menghantam lantai kaca dengan bunyi brak yang keras. Rasa ngilu langsung menjalar ke tulang keringnya, sebuah reaksi fisik yang gak sempurna dari tubuh yang udah dipaksa melampaui batasnya sejak dari Jakarta tadi.


"Marah itu gak bakal nyelesain Protokol Kiamat, Muridku. Dulu aku ngajarin kamu buat selalu pake logika, bukan pake perasaan sampah kayak gitu," ucap Satya.


Sebuah hologram muncul di depan Jaka, menampilkan rekaman lama di laboratorium Arkadia lima tahun lalu. Di sana, Satya yang masih terlihat muda sedang merangkul bahu Jaka dengan bangga setelah sebuah simulasi berhasil dilakukan.


"Berhenti panggil aku Muridku! Kamu bukan mentorku lagi sejak kamu nekan tombol ledakan itu!" teriak Jaka.


Dia mencoba bangkit, tapi kakinya beneran gemetar kayak bayi yang baru belajar jalan. Matanya perih karena keringat yang campur sama darah mulai masuk ke kelopak matanya, bikin pandangannya jadi kabur dan warnanya jadi kemerahan.


"Aku nekan tombol itu buat nyelamatin kamu dari kegagalan yang lebih besar, Jaka. Kalo Arkadia gak meledak, sistemnya bakal jadi liar dan nelan seluruh Jakarta lebih cepet dari bencana ekologis itu," kata Satya.


Hologram itu berganti, sekarang menunjukkan sosok Laras yang sedang terikat di kursi saraf pusat, kepalanya tertunduk dengan rambut yang menutupi wajahnya.


"Kamu pake Laras sebagai tameng, Satya. Itu bukan logika, itu jahat, beneran jahat," bisik Jaka.


Dia meremas kristal Serat Kuno di sakunya yang sekarang mulai bergetar lagi, mengeluarkan suara dengungan yang mirip sama suara orang yang lagi sesak napas. Lorong ini bau ozon dan antiseptik, sebuah kombinasi aroma yang bikin Jaka pengen muntah setiap kali dia narik napas dalem-dalem.


"Laras itu bukan tameng, dia itu kunci. Nusantara butuh satu otak buat ngatur segalanya biar gak ada lagi korupsi, gak ada lagi kelaparan, dan gak ada lagi perang," ucap Satya.


Lihat selengkapnya