"Bangun, Jaka! Kalo kamu gak melek sekarang, kita beneran bakal mati tenggelam di tengah sampah Jakarta ini!" teriak Riko.
Pecah, bersaing dengan deru air laut yang mulai masuk lewat celah lambung kapal yang pecah. Kapal penyelamat itu menghantam permukaan Situ Tenggelam dengan sangat keras, membuat posisi mereka miring empat puluh lima derajat di kedalaman yang semakin gelap.
"Ugh, kepalaku, bjir, pusing banget," gumam Jaka.
Dia mencoba menggerakkan tangannya, tapi rasa perih di telapak tangannya yang tertanam serpihan Serat Kuno bikin dia meringis. Jaka melihat Laras yang masih pingsan di kursi belakang, wajah adiknya pucat pasi kena pendar lampu darurat yang kedap-kedip merah.
"Sora, bantu aku tutup kebocoran di sektor kanan! Riko, pegang kendali manualnya!" perintah Jaka.
Dia memaksa tubuhnya yang kaku untuk duduk tegak, sementara air laut yang dingin mulai membasahi mata kakinya. Bau oli mesin yang bocor nyampur sama aroma garam laut yang tajam beneran bikin mual.
"Gak bisa, Bos! Sistem hidroliknya mati total!" seru Riko. Dia memukul panel kendali dengan frustrasi, membuat percikan api biru keluar dari sirkuit yang korsleting.
"Jaka, denger aku? Kamu harus masuk sekarang!"
Suara Naya terdengar lagi, kali ini muncul dari monitor kecil di lengan Jaka. Wujud Naya kelihatan makin tipis, hampir kayak kabut hijau yang melayang di dalem layar. "Satya belum ilang, Jaka. Dia lagi nyoba narik sisa Protokol Kiamat dari satelit cadangan buat ngebom lokasi kita sekarang!"
"Bjir, dia beneran gak mau mati sendirian ya?" tanya Jaka.
Dia menoleh ke arah jendela kapal, di luar sana, sepasang mata merah dari Jagabala tipe air mulai mendekat, menabrak kaca tebal kapal dengan dentuman yang bikin jantung mau copot.
"Aku bakal tahan mereka di sini, Jaka. Kamu lakuin dive terakhir," ucap Sora. Dia berdiri di depan lambung kapal yang bocor, tangannya memegang alat las laser. "Selamatkan Nusantara, Kak."
"Sora, itu bahaya!" teriak Jaka.
"Gak ada waktu lagi, Jaka! Masuk sekarang!" bentak Naya dari layar.
Jaka memejamkan mata, membiarkan kabel saraf di belakang telinganya bersentuhan dengan air yang mulai naik ke pinggangnya. Dinginnya air laut kerasa kontras banget sama panasnya aliran data yang mendadak nyamber otaknya. Seketika, kesadaran Jaka terlempar keluar dari raganya yang menggigil, masuk ke dalam dimensi putih yang penuh dengan retakan hitam.
"Akhirnya kamu berani dateng juga, Jaka," ucap Satya.
Dia berdiri di tengah badai kode yang berputar-putar, badannya kelihatan compang-camping, separuh wajah digitalnya udah ilang diganti sama barisan angka biner yang error.
"Berhenti, Satya! Semuanya udah berakhir! Nusantara udah bangun!" seru Jaka.
Dia melangkah maju, di dunia maya ini badannya gak kerasa capek, tapi setiap kata yang dia ucapin bikin dadanya kerasa sesak, tanda kalo fisiknya di dunia nyata lagi kekurangan oksigen.