"Keluar dari sini sekarang, Jaka! Kaki kamu udah hancur, kamu cuma bakal jadi beban di luar sana!" teriak Riko.
Dia menarik kerah jaket Jaka yang basah kuyup oleh air laut dan darah. Suara dentuman dari luar kapal selam besi itu membuat telinga mereka berdenging. Lapisan baja di langit-langit kapal melengkung ke dalam setelah dihantam torpedo Jagabala tipe berat. Bau solar yang tumpah bercampur dengan aroma mesiu yang sangat menyengat di dalam ruangan sempit ini.
"Lepasin, Rik! Kalo aku gak keluar sekarang, Satya atau siapa pun di atas sana bakal hapus memori semua orang!" sahut Jaka.
Dia mencoba berdiri, tapi lutut kirinya bergeser dengan suara krek yang membuat wajahnya putih pasi. Jaka merintih, tangannya mencengkeram pinggiran meja besi sampai kuku-kukunya memutih. Dia bernapas pendek-pendek, mencoba menahan rasa mual yang terus naik ke tenggorokannya. Ini beneran sakit.
"Dengerin Riko, Bocah IKN! Di luar itu ada dua peleton Jagabala elit yang udah nunggu di dok!" seru Daksina.
Dia berdiri di dekat pintu palka sambil memegang tombak turbinnya yang mulai berkarat. Daksina meludah ke lantai besi, wajahnya penuh jelaga hitam. Dia melihat ke arah monitor kapal selam yang hanya menampilkan gangguan statis berwarna merah. Radar mereka sudah mati total sejak menyentuh perbatasan dok bawah tanah Istana Nusantara.
"Aku punya Serat Kuno di dalem darahku, Daksina! Mereka gak bakal bisa bunuh aku sebelum dapet datanya!" teriak Jaka.
Dia menyeret kakinya yang kaku melewati genangan air di lantai kapal. Jaka tersandung kabel yang menjuntai, membuat dagunya menghantam sudut kursi dengan keras. Lidahnya tergigit, rasa asin darah langsung memenuhi mulutnya. Dia mengelap darah di bibirnya dengan punggung tangan yang gemetar.
"Tapi kamu gak bisa jalan, Jaka! Gimana mau berantem?" tanya Riko.
Dia memegang tas medis yang isinya sudah berantakan karena guncangan kapal.
"Aku gak butuh jalan, aku cuma butuh nyentuh terminal dok itu!" sahut Jaka.
Dia menunjuk ke arah pintu palka yang mulai berasap karena las laser dari luar.
Tiba-tiba, pintu palka meledak ke arah dalam dengan suara yang memekakkan telinga. Potongan logam terbang ke segala arah, menghantam dinding kapal selam. Tiga unit Jagabala elit masuk dengan gerakan mekanik yang sangat cepat. Mata sensor mereka berwarna merah pekat, mengunci posisi Jaka yang tergeletak di lantai. Daksina berteriak, dia menerjang robot pertama dengan tombaknya, menusuk bagian leher yang penuh kabel saraf sintetis.
"Riko, bawa Laras ke pojok! Jaka, cepetan lakuin sesuatu!" teriak Daksina.
Dia menahan beban robot itu dengan otot lengannya yang menegang hebat.
Jaka merangkak di atas lantai besi yang licin karena oli. Peluru plasma melesat di atas kepalanya, menghanguskan dinding kapal selam hingga mengeluarkan uap panas. Dia sampai di terminal pengisian daya kapal yang terhubung ke jaringan dok istana. Jaka mencabut kabel saraf dari belakang telinganya yang masih berdarah. Dia memasukkan ujung kabel itu ke lubang porta terminal secara paksa.
"Dive terakhir, tolong jangan hangus sekarang," bisik Jaka.
Seketika, tubuh Jaka menegang. Matanya berputar ke atas, hanya menyisakan bagian putihnya saja. Kesadarannya terlempar keluar dari raga yang hancur itu, masuk ke dalam dimensi putih yang luas. Di sana, arsitektur digital Istana Nusantara terlihat seperti ribuan menara kaca yang tidak punya ujung. Suara Dr. Satya kembali terdengar, tapi kali ini suaranya lebih berat, seolah ada lapisan suara lain yang mengikutinya dari belakang.