Nusantara Cyber

Salsabilla Kim
Chapter #55

Pilihan Mustahil

"Tekan tombolnya sekarang, Jaka! Kalo kamu gak lakuin itu, seluruh Nusantara beneran bakal ilang memorinya!" teriak Riko.


Dia memegang bahu Jaka yang sedang bersandar pada dinding kapal selam yang masih melayang di udara. Wajah Riko penuh dengan keringat yang bercampur debu hitam. Matanya menatap layar hologram kecil di pergelangan tangan Jaka yang menampilkan barisan kode berwarna merah.


"Aku gak bisa, Riko! Kamu liat sendiri apa yang Ayah lakuin ke leher Laras!" sahut Jaka.


Jaka menunjuk ke arah panggung marmer di depan mereka. Di sana, Basudewa duduk di kursi roda elektriknya dengan tenang. Tangan Basudewa memegang remot kontrol kristal hitam yang terhubung langsung ke ribuan kabel saraf di tubuh Laras.


"Dia bukan lagi adikmu, Jaka. Dia cuma perangkat keras untuk sistem ini," ucap Basudewa.


Basudewa menekan sebuah tombol di kursinya. Seketika, tubuh Laras yang tergantung di udara mengejang hebat. Suara gesekan kabel logam yang masuk ke pori-pori leher Laras terdengar nyaring di ruangan yang sunyi ini.


"Berhenti! Sakit, Ayah! Berhenti!" teriak Jaka.


Dia melangkah maju, namun medan gravitasi dari kapal selam yang melayang menahan gerakannya. Jaka terjatuh, lututnya menghantam lantai marmer dengan bunyi yang keras. Dia merintih karena rasa nyeri yang menjalar dari kaki hingga ke pinggangnya.


"Sakit itu cuma sinyal saraf yang gak penting, Jaka. Laras lagi nanggung beban data satu bangsa," kata Basudewa.


Dia menggerakkan kursi rodanya mendekati Laras. Basudewa menyentuh ujung kabel yang menempel di pelipis putrinya. Laras membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar. Hanya ada cairan bening yang mengalir dari hidungnya.


"Jaka, dengerin aku! Kode yang dikasih Laras tadi itu satu-satunya cara buat matiin pusat data Satya!" seru Riko.


Dia berlutut di samping Jaka, mencoba menarik tangan sahabatnya itu. Riko melihat ke arah monitor besar di dinding dok. Angka penghapusan memori massal sudah mencapai sembilan puluh persen. Ribuan wajah warga IKN di layar mulai berubah menjadi putih polos.


"Tapi kalo aku kirim kode itu, sistem pendukung hidup Laras bakal angus, Riko!" teriak Jaka.


Dia memukul lantai marmer dengan tinjunya hingga kulit buku jarinya robek. Darah segar menetes, membasahi marmer putih yang dingin. Jaka merasakan sesak di dadanya yang bukan karena asap, melainkan karena pilihan yang ada di depan matanya.


"Pilih, Jaka. Satu orang atau satu bangsa?" tanya Basudewa.


Dia tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Mata lensa hitam di wajah Basudewa berputar pelan, merekam setiap tetes air mata yang jatuh dari pipi Jaka. Basudewa tidak menunjukkan rasa kasihan sedikit pun pada putrinya yang sedang sekarat di depannya.


"Kamu beneran monster. Ayah macem apa yang tega ngerubah anaknya jadi mesin?" bisik Jaka.


Dia berdiri dengan susah payah, kakinya yang hancur dipaksa menopang berat tubuhnya. Jaka meremas Serat Kuno di sakunya yang sekarang mengeluarkan uap panas. Rasa panas itu membakar kulit telapak tangannya, menciptakan aroma daging yang terpanggang secara perlahan.

Lihat selengkapnya